Erlangga Aileen Satria

Erlangga Aileen Satria
Chapter 37



Keesokkan harinya...


mereka pun akhirnya pulang ke rumah masing masing setelah mendapat kejuaraan besar kemarin malam. Selain itu, piala bergilir ada di tangan mereka. jika Piala itu dimenangkan sekolah Elang secara berturut turut, maka piala resmi menjadi milik mereka selamanya.


"Assalamualaikum.... "


Teeeetttt!!!!


"Selamat atas kemenangan bang Elang!!! Adit sebagai adek merasa senang sampai mau mati:v Gak nyangka, bang Elang yang ceroboh ini punya IQ di atas rata rata orang indo, " Ucap Adit di depan pintu sambil meniupkan terompet, dan mamah membawa kue bolu coklat ke hadapannya.


"Waaah... hahahaha, kemaren Elang juga di giniin lho, makasih. " Ucap Elang terharu.


Mamah dan bapak memeluk Elang dengan erat. Apalagi mamah yang dramatis ini menangis karena kemenangan putra kesayangannya. Ia juga kembali dalam keadaan baik baik saja.


"Makasih... " Ucap Mamah menangis.


"Iya, sama sama. Elang seneng kok kalo nyenengin mamah, " Jawab Elang menatap lembut.


"Bukan, makasih... karena kamu udah selalu sehat. Itu cukup buat mamah," Ujar mamah sambil memegang wajah Elang dan mengusapnya lembut.


"eh? hehe, iya mah. Ya... walaupun Elang sedikit kecewa karna mamah gak ngasih tau Elang kalo Elang punya penyakit jantung bawaan, " Jawab Elang sambil mengalihkan pandangannya kemana saja.


"Mamah gak ngasih tau kamu karna mamah takut kamu gak semangat belajar lagi, "


"Justru mending mamah jujur aja. Kalo mamah jujur, Elang gak akan kayak gitu. Masa Elang denger dari orang kalo Elang punya penyakit? Iya kan? tapi gak papa kok, Elang gak terlalu mikirin yang kayak gituan. " Ucap Elang mengajak mamanya duduk karena kakinya juga mulai pegal.


"Maapin mamah... maap ya nak? "


"Iya mam, mau berapa ribu kali mamah minta maap? sebelum itu juga udah Elang maapin, " Jawab Elang lagi.


"you are a good boy. You easily forgive others, where did that trait come from? Your mother and I are not at all impatient. you are an angel," Sahut sang bapak sambil merangkul istrinya.


"Ahahaha, bapak bisa aja. Jangan gitu ah, Elang jadi ketagihan di puji neh, hahahaha. " Jawab Elang malu karna pujian bapaknya yang terlalu berlebihan.


Kejadian sebelum Elang pulang...


Ia mendengar semua percakapan Leon dengan ibunya. Ibunya terus menampar nya dan memuntahkan semua kesalahan Leon saat itu juga. Ia melihat Leon yang berkeringat dingin dan napas yang tidak beraturan, ditambah badannya yang menggigil.


"Kamu benar benar haram! Percuma saya besarin kamu kalau ujungnya kamu nginjek kepala saya sendiri! Saya malu punya anak yang kayak sampah seperti kamu! Kamu mencoreng nama keluarga kita! apa... saya harus mencoret nama kamu dari kartu keluarga? biar kamu tau! rasanya hidup gelandangan!!!! "


"Ahem! "


Deg!


Nyonya yang diketahui ibu Leon itu terpaku sesaat setelah mendengar deheman seseorang. Ia melirik kanan kiri di sekitarnya. Ia bertambah marah pada Leon yang menduga ia menyuruh temannya merekam semua kelakuan ibunya. Ia menjambak, memukul dan menampar nya lebih keras.


"Kamu benar benar gak guna! saya gak sudi liat kamu ada disini lagi!!!! gak guna! gak guna! gak guna! "


plak! plak! plak!


Dadanya semakin sakit dan ia tak bisa mengatur napasnya yang semakin sesak. ia tak bisa menyangkal perkataan ibunya. Ia sangat ingin menjelaskan semuanya pada ibunya, namun ia tak bisa berbicara. suaranya tertahan karena pasokan udaranya menipis.


"TOLONG! ADA ORANG GILA! SIAPA AJA YANG DISANA TOLONG! ADA TANTE TANTE YANG NYAKITIN ANAKNYA!!! "


Deg!


Nyonya itu semakin murka dan bingung. Elang pun keluar dari persembunyianya sambil tersenyum licik. Ia tak tega meninggalkan Leon yang mungkin sebentar lagi akan tumbang. Tidak papa! Elang sudah biasa menghadapi orang tua yang menyiksa anaknya sendiri dan bahkan mengatakan mereka tak berguna. Elang membenci kata kata itu.


"Ada TANTE, harus ati ati nih biar gak di culik," Monoog Elang sambil menutup mulutnya julid.


"Siapa kamu?! hoo... jangan jangan kamu yang ngalahin anak saya di final tadi??? "


"Ya Allah! Elang bersyukur bisa dikenalin Nyonya pejabat kaya. Maap tante, tapi Elang harus bawa temen Elang. Udah sekarat, takut Meninggal eung. " Ucap Elang sambil melihat Leon miris.


"Ini semua gak ada hubungannya sama kamu! Lebih baik kamu pulang sekarang! "


"Nggak bisa gitu dong tan, dia temen saya. Emang saya harus tega ngeliat temen saya disiksa? jangankan ngeliat, Tante punya hati gak sih? anak sendiri lho, anak kandung. Dia pengen dapet pujian dari tante, dia suka ngeluh kalo dia pengen bahagia sama orang tua nya kayak yang lain, " Ucap Elang serius, membuat Nyonya itu terdiam sesaat.


"Liat keadaannya sekarang? Gimana perasaan tante ngeliat anak tante kesakitan kayak gitu? Pernah mikir gak sih, kalo dia sakit gitu? punya masalah mungkin? atau gak bahagia dan keliatan kayak tertekan? badannya kurus, ditambah sombongnya minta amvun, suka mabuk, ngerokok yang berlebihan. semua itu dilakuin sama Leon biar apa? Biar mamanya tau kalo dia juga pengen dapet kebahagiaan,"


"Kepalanya udah gak bisa mencerna lagi tan, dia mati rasa. Liat badannya gemetaran? Napas yang gak beraturan? keringet dingin? sebenernya apa yang dilakuin tante sampe dia kayak gitu....? Dia pasti punya masa lalu kelam sama tante, kalo gak mau di urus, mending kasiin ke orang lain, daripada dia kayak gini sekarang kan??? " Pernyataan Elang itu tersampaikan pada hati Nyonya besar itu. Ia mengucurkan air matanya tanpa sadar, memang ampuh perkataan Elang yang berbelit ini padahal maknanya itu itu aja.


Nyonya itu menyeka air matanya dan pergi begitu saja meninggalkan keduanya. Elang lalu menghampirinya dan mengelus kepalanya pelan walaupun sebelumnya memang kesal.


"Hosh... hosh... hosh... g, gak...


" Gak apa? yang jelas dong kalo ngomong..." Sela Elang kasihan, ia takut Leon kenapa napa.


"G, gak... k, k, kuat... Hosh... hosh... hosh... Sakit... " Rintih Leon sambil meremas dadanya.


Leon memejamkan matanya setelah melihat Elang tersenyum, walaupun belum jelas siapa itu tapi ia yakin itu adalah Elang. Ambulan pun datang dan segera membawa Leon ke rumah sakit, Elang tak bisa ikut karena sudah ditunggu Zhao di mobil. jadi kepala sekolah lah yang menjadi walinya. Ia berterimakasih pada Elang karena mau memberikan toleransi terhadap siswa sekolah lain.


Elang berniat menjenguk Leon besok bersama Bulan sebelum kencan. Mamah yang sedari tadi mengobrol bersama anak anaknya yang lain akhirnya menepuk Elang yang terus melamun.


"Kenapa nak? kenapa ngelamun terus? " Tanya Mamah pelan.


"Elang cuma kepikiran temen baru Elang. Bukan temen sih tepatnya, lagian dia juga gak mau anggap Elang temen mungkin ya? Gimana keadaannya sekarang? membaik apa belom? Elang gak tau, " Jawab Elang pada mamah.


"Hmm... yaudah. kalo kamu penasaran, coba dateng besok kesana, siapa tau dia seneng pas kamu jengukin, "


'Mana mungkin dia seneng mam? yang ada dia lempar alat alat rumah sakit ke wajah Elang pas dateng, ' Batin Elang tiba tiba terdiam.


Malam harinya...


Elang mandi, dan Adit menyusup ke kamar Elang. ia ingin melihat kamar estetok Elang sekarang.



"Yah... gak ada yang beda sih, " Gumam Adit memperhatikan sekitar.


"Cuma peluasan ruangan sedikit biar masuk dan nyatu jadi ruang tamu apa gimana ya? " Gumamnya lagi.


Drrttt!!!


Matanya teralihkan saat melihat panggilan masuk ke ponsel Elang. Dengan nama "Bulan cantekπŸ’•" Membuat Adit ingin menjulidi abangnya itu. Saat ia menggeserkan tombol hijau ke atas, sialnya Elang ada di belakangnya tengah memerhatikannya.


"Mau bikin gua ngebalikin rumah ini hah? " Ancam Elang tajam.


Deg!


Ia langsung melihat Elang dengan kaku dan terkekeh geli.


"Nih, si bebeb nelpon. " Monolognya sambil memberikan ponsel itu padanya.


Elang langsung merebut telponnya dan mengusir Adit pergi dari kamarnya. Padahal Adit hendak menginap di kamar Elang karena banyak sekali yang ingin ia tanyakan.


"Ehem, siapkan suara lembut, ehem ehem. "


"Halo Bulan... ^^"


"Dih?! Jijik! " Ketus Adit sambil pergi menjauhi kamar Elang.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


"Iya... gua udah nyampe rumah, lu udah nyampe rumah? "


"Iya, gue baru nyampe ke rumah, soalnya papah ajak gue ke toko dulu bentar. Lu udah makan? " Tanya Bulan lagi.


"Belom nih, gue baru aja bersih bersih. jadi belum sempet makan, Kalo loe? "


"Udah, tadi sekalian mampir buat makan malem. Eh awas loe ya kalo gak makan? gue bakal pukul loe! "


"Tuh kan.... Emang sih. pacar gua ini yang paling mantep perhatiannya. Iya iya, gua bakal makan yang banyak! biar loe seneng, " Jawab Elang memerah karena senang sekali.


"Lah? kapan gue jadi pacar loe wei?! jangan ngawur loe! "


"Bukannya kemaren gua udah ngomong ya? Jadi rumah kedua gua dan loe jawab iya, fiks dong. hahahaha, " Jawab Elang yang membuat bulan salting. kenapa dengan bodohnya ia menjawab iya kemarin?


"Besok kita kencan ya? first date, harus nyenengin elu. "


"K, kalo gue ada waktu. " Jawab Bulan mulai terbata.


"Lah? kenapa gak ada waktu? Bukannya besok libur ya 2 minggu? "


"I, iya sih... "


"Makannya, tapi... sebelumnya boleh kan gua jengukin si Leon dulu? " tanya Elang pelan, takut bulan tidak mau.


"Ya gimana yah? Gue mah gak suka sama sikap songong nya, tapi karna loe mau niat baik, yaudah fine. gue ikut, " Jawab Bulan yang menyetujui permintaan Elang.


"Makasih^^ Loe emang yang terbaik lan, "


Setelah itu, mereka bertelepon sampai akhirnya bulan tertidur karena suara lembut Elang yang menenangkan. Elang juga tertidur dengan keadaan tersenyum bahagia.


Bersambung....