
Malam pun tiba...
Bulan sudah siap berkencan dengan Elang. Di rumah tidak ada siapa siapa karena mamah dan papahnya langsung pergi ke rumah sakit untuk menjaga Chiko. Bulan sudah meminta izin pada kedua orang tuanya untuk jalan jalan bersama Elang. bukannya dimarahi, tapi sang mamah malah berkata: "Gak usah minta izin lagi kalo udah sama Elang, bakal mamah izinin kok, " Membuat Bulan malu saja.
Saat keluar dari rumah, sudah nampak wujud Elang yang tengah menunggunya sambil mengotak atik ponselnya. Elang sadar ada yang memerhatikannya, ia pun memasukan ponsel ke sakunya dan melihat siapa yang menatapnya.
"Lang, " Panggil bulan sambil menghampiri Elang.
"Halo^^ Siap buat kencan? " Tanya Elang langsung tersenyum.
"Beda banget... jadi ganteng, " Puji bulan sambil memukul lengannya pelan.
"Ah loe mah salah liat kali, ini kan Elang. The most handsome number one ini Bandoeng, " Elang yang kembali sok cakep depan bulan.
Elang yang memang sudah terkenal so sweet itu bisa mengajak bulan mengobrol santai dan membawa suasana menyenangkan. Ia sebenarnya ketiduran karena lelah. Tapi alarm nya selalu membangunkan nya, yaitu Adit si adek laknat. Mereka pun pergi menonton film dulu, tadinya mereka mau menonton film romantis, namun Bulan menolak dan mending menonton film horor.
"Bener nih? kalo kaget jangan sungkan sungkan pegang tangan gua ya? Nih, gua udah beliin popcorn sama minumannya. " Ucap Elang sambil menyodorkan popcorn nya.
"Justru karna gak takut gue nonton ini, katanya rame lho. trending topik di ig, makannya pengen nonton. " Jawab Bulan sambil menerima popcorn dari Elang.
"Oooh... oke, "
Keduanya fokus menonton, Bulan mulai menegang dan ketakutan. sedangkan Elang fokus sekali sampai sampai ia melipat kakinya dan memakan popcorn itu.
"Lang, pegangin tangan gue... " Pinta Bulan, dengan senang hati Elang menggenggam tangan Bulan agar ia tidak tegang.
Selama menonton, bukannya teriak dan apa, Bulan malah menangis, bahkan sampai keluar dari bioskop pun ia masih menangis.
Film Sweet but psycho itu menceritakan psikopet tampan yang menyamar menjadi siswa yang ramah dan populer. ia selalu menyiksa wanita, namun wanita lugu dan cantik itu bahkan tidak pernah di sentuhnya sama sekali. ia malah mencintai psikopet tampan itu dan selalu mengurusnya walaupun ia kadang selalu disayat bahkan darahnya selalu dicicipi oleh sang psikopet.
Psikopet itu mulai tumbuh perasaan sayang padanya, sehingga ia mengungkapkan perasaannya pada wanita itu, namun naas, takdir tidak bisa mempersatukan mereka.
Psikopet itu ditembak oleh kakak wanita itu yang adalah seorang polisi. namun di tengah tengah ketika sedang sekarat, ia malah meminta wanita itu untuk membunuhnya lebih cepat, ia tidak mau dibunuh oleh orang lain kecuali oleh sang wanita pemeran utama itu.
Begitulah akhir film itu yang membuat Bulan menangis terus. Padahal menurut Elang bulan terlalu berlebihan, tapi ia paham karena hati wanita itu lemah:v makannya ia mencoba menenangkan nya.
"Udah dong... jangan nangis. Liat nih, ada ingusnya. " Ucap Elang meledek bulan.
"Iih! gak usah ngeledek anjir, " Jawa Bulan sambil menutup hidungnya.
Elang pun tertawa dan mengenai ingus bulan dengan tissue yang ia punya. Setelah itu mereka langsung pergi ke tempat selanjutnya.
"Ngapain kayak gitu? jijik lho, itu ingus, " Ujar Bulan malu.
"Gak papa, kan gua pake tisu bukan pake tangan gua, " Jawab Elang tersenyum.
"iya deh... lu emang paling perfect, gue gak salah kan? "
"Nggak dong... hayu. udah nyampe, "
Tempat yang mereka kunjungi selanjutnya adalah Taman hiburan. Banyak permainan yang ingin mereka mainkan.
Bulan langsung menunjuk wahana pertama yang ingin ia naiki. Ia tak memberi izin Elang berbicara dulu. meraka langsung menaiki wahana roller coaster.
"Lan, gua takut. " Kata Elang gugup.
"Kenapa takut? " Tanya Bulan khawatir.
"Takut ketagihan... hahay! Yooo!!!! " Elang semakin semangat menaiki wahana roller coaster itu.
Bulan tertawa melihat Elang semangat begitu. ia pun ikut semangat dan mengangkat kedua tangannya ke atas dan berteriak roller coaster mulai maju.
Setelah selesai, mereka pun tertawa di bawah. Bulan pun terbahak bahak dan senang menaiki wahana itu.
"Lanjut lang?" Tanya bulan sigap.
"Bentar lan... duh, " Rintih Elang pelan.
"Kenapa lang?! loe sakit? kalo gitu kenapa maksain??? kita bisa kencan nanti lagi, " Ucap Bulan mulai khawatir.
"Bukaan... masih lemes... kaki gua geter geter," Jawab Elang sambil memegang lututnya.
"Huufft... kaget... mau duduk bentar gak? " Tawar Bulan pada Elang.
"Gak papa nih? ah, jadi ancur... " Gumam Elang kecewa.
"Gak papa lang, yuk duduk bentar, nanti lanjut lagi. " Ajak bulan padanya.
"Cowo gua, " Kata Bulan dingin, membuat Elang kaget saja.
"Gak usah deket deket, sana gih. cari tempat lain, " Lanjutnya, namun wanita itu enggan pergi.
"Ampun! Sekarang banyak cewek yang gatel ama lu deh! hayu pergi ah, cari tempat lain aja. " Ketus Bulan sambil menarik tangan Elang.
Mereka pun pergi mencari tempat duduk dan duduk sejenak disana. Elang menerima minum dari bulan dan segera meneguknya.
"Makasih bulan cantik... " Ucap Elang tersenyum ceria.
"Sama sama, lagian kenapa lu diem aja pas dia deketin lu? " Tanya bulan masih marah.
"Ya maap... gua gak sengaja ngobrol sama dia, dia minta no WA gua. " Jawab Elang yang mendapat lirikan tajam dari bulan.
"Terus?! "
"Gak gua kasih, lu nya keburu dateng. " Jawab Elang polos.
"Jadi kalo gue gak dateng loe bakal tetep kasih dia nomor WA lu? "
"Iya, dia kan butuh arah jalan, " Jawab Elang, bulan tak habis pikir padanya.
Ia tak menyadari bahwa wanita itu menggoda Elang, jelas sekali lah. Berarti selama ini? Banyak sekali wanita yang datang pada Elang dan meminta nomor HP nya lalu Elang memberikannya dengan mudah? Astaga... Bulan benar benar pasrah pada anak polos satu ini.
"Sekarang lanjut kemana nih? Lututnya udah gak geter geter lagi, " Elang yang kembali semangat.
"Kemana ya??? Disana kan penuh, itu juga... rumah hantu... jangan deh. rumah boneka! gimana? " Tanya Bulan semangat, Elang sempat terdiam tapi langsung mengangguk tanda setuju.
Mereka pun membayar karcis dan masuk sambil menaiki perahu. Mereka memandangi boneka boneka yang ada disana. namun ada yang berbeda dengan Elang, ia terus diam sejak awal mulai.
"Lang? loe kenapa? " Tanya Bulan kembali khawatir.
"Gak papa kok, lututnya geter geter lagi. mungkin menikmati musik disini, " Jawab Elang sambil tersenyum.
"Kenapa lang??? jangan jangan lu masih nge geter gara gara tadi? iya? " tanya Bulan memastikan.
"nggak kok, aman aman. "
Bulan pun mengangguk setuju. Tapi saat di pertengahan jalan, masih jauh ke pintu keluar, listrik tiba tiba padam, dan mereka masih terjebak di dalam.
"Hah?! "
"Jangan panik, jangan khawatir, ini biasa terjadi kalo kita naikin wahana kayak gini, pasti ada... aja masalah listrik. " Ucap Bulan berceloteh menggibahkan istana boneka itu.
"Huuh.... "
'Tenang lang... loe harus tenang... jangan panik, jangan mikirin masa lalu, sekarang lu kudu bahagia karna ada bulan, jangan buat dia khawatir kayak tadi... ' Batin Elang berusaha mengatur napas.
"Masih jauh gak ya...? " Tanya Elang padanya.
"Kenapa lang? kebelet? " Tanya Bulan balik.
"Nggak... " jawab Elang lirih.
"Hah? "
'Sesek... gua sesek sekarang... lampunya lebih gelap... gua... takut.... ' Batin Elang yang meremas bajunya.
"Hosh...
" Hm? " Perhatiannya beralih ke Elang saat ia mendengar deru napas yang berat darinya.
"Lang? Loe kenapa? loe sakit? " Tanya Bulan yang benar benar khawatir, namun Elang menggelengkan kepalanya.
"lang?! loe kenapa lang?! loe sakit hah? "
"Hosh... hosh... hosh... hosh... " Tangan kanan nya berusaha meraih bulan dengan sedikit tenaga.
Mulutnya yang terbuka serta napas yang tidak teratur membuat bulan ingin menangis, sebenarnya Elang kenapa???
Kepalanya sangat pusing, semua bayangan masa lalunya kembali menghantui nya.
"Elang, coba napas pelan pelan, jangan liat kemana mana, coba liat gue, " Ucap Bulan berusaha tetap tenang.
"Hosh... hosh... hosh... hosh..." Elang menggelengkan kepalanya lagi, sepertinya pandangannya mulai kabur.
Bulan segera membawa elang ke pinggir menjauhi perahu terlebih dahulu. Justru itu malah semakin mendekati bayangan mengerikan. Elang sekarang malah makin tidak beraturan. apa yang harus dilakukannya?