Erlangga Aileen Satria

Erlangga Aileen Satria
Chapter 18



When Bulan said:


"Jangan datang lalu pergi, tapi datanglah dan berjanji untuk tidak pergi,"


-Bulan-


...



Bulan pun asyik menonton Elang yang tengah fokus bermain basket. Ia agak tersenyum melihat Elang yang menurutnya, yaaa... Agak keren walaupun tak sekeren Abyral....


Namun ia agak kesal saat para murid perempuan yang menyemangati Elang di sebelahnya.


'Ck, berisik anjir!' Batin Bulan mengernyitkan dahinya.


Elang pun melirik Bulan sembari tersenyum hangat padanya, tidak lupa satu kedipan mata kanannya yang membuat Bulan salah tingkah, ia pun segera membalikkan badannya dan menepuk nepuk pipinya yang kini memerah.


"Maksudnya apa sih?! Ah anjir, gue jadi salting!" Gumam Bulan sambil memegang dadanya.


Setelah selesai permainan, Elang duduk duduk di pinggir lapangan sambil meneguk air dari Kevin. Elang pun mulai memperagakan saat ia memasukkan bola kedalam keranjang. Lalu, saat orang orang sedang berkumpul melihat Elang. Datang segerombolan siswa dari sekolah lain dengan tubuh yang kekar, sepertinya mereka anak nakal.


"Mana yang namanya ELANG?!" Teriaknya dengan suara lantang, tentu saja suara itu membuat gentar para siswa siswi yang ada.


"Kenapa nyari kak Elang?"


"Dia punya masalah sama Elang?"


"Sirik kali, Kak Elang kan ganteng,"


Begitulah suara para siswi yang berbisik bisik membicarakan murid yang tiba tiba memdatangi sekolah mereka.


BUGH!


"SIAL! ELANG REMEHIN GUA?! KELUAR LOE BA*INGAN!!!"


"Ya ampun~ Erlangga disini...!!!" Sahut Elang yang keluar dari kerumunan para siswa.



'Widiw! Bule anjir!' Batin Elang kaget.


"Hehe, Halo^^ Gua Elang anaknya bu Sabil!" Sapa Elang sok kenal, anak yang sangar itu menatap Elang dengan tajam, tak ada senyuman sedikitpun yang tersirat di bibirnya.


"Loe pacar Bulan?" Tanyanya dengan nada rendah, pertanyaan yang membuat Elang geram dan agak merinding. Jangan jangan ini khodamnya si cantik Bulan lagi, pikir Elang begitu.


"Kalau iya gimana? Mau jadi Maru gua? Wadidaw! Maru gua jadi nambah dong! Hei!!! Maru baru gu...


BUGH!!!


Elang terjatuh saat sebuah pukul tepat mengenai perutnya, membuatnya muntah darah.


'Gila! Pukulan apa itu anjir?! Dia bukan cucunya Son Goku kan?! Anjir teh ah! Sakit banget!' Batin Elang sambil memegang perutnya.


Para murid yang ada di sekolah itu menjadi panik dan khawatir terjadi pertarungan diantara Elang dan si anak tak di kenal itu. Bulan pun menerobos anak anak yang menyaksikan perkelahian itu dan berada didepan.


'Dicky?! Dicky ada disini?!' Batin Bulan kaget.


Anak nakal yang diketahui Dicky itu kembali menghampiri Elang dan menjambak rambut Elang, itu membuatnya semakin merintih kesakitan.


"Mana kekuatan fisik loe?! Segini doang?! Katanya pacar Bulan, lemah anj*ng," Ujar Dicky dingin.


"Ha! Haha... Gua... Bukan pengecut yang kayak gitu, gua gak suka diremehin gitu b*bi, loe malah mancing gua biar ngamuk ya...?" Jawab Elang sambil menatap tajam dan tersenyum smirk.


"Ck! Bacot g*blok!"


BUGH! BUAK! BUGH!


Kini Elang tak kembali lengah, Ia mulai mengelak serangan Dicky dan membalas serangannya ketika Dicky lengah. Kini Elang melakukannya dengan benar, begitulah Elang jika serius, ia akan berubah menjadi mode tak terkalahkan, anjay...:v


'Gimana caranya gue berhentiin si Dicky?! Dia kalo ngamuk gak akan dengerin siapa siapa, ah bodo! Pikirin... Pikirin... Gue rada iba sih sama si b*bi yang udah mulai capek,' Batin Bulan bingung.


'Si Elang cape kayaknya, pukulannya jadi lambat,'


'Kudu gue cegat si El,' Batin Kevin.


BRUK!


"Haah... Haah... Beneran ya...? Kayaknya dia cucunya Son Goku... Keras banget kulitnya... Gua yang sakit anjir," Gumam Elang terjatuh.


Dicky kembali menghampiri Elang dengan wajah penuh amarah. Sepertinya ia sangat marah pada Elang karena telah melukai wajahnya.


"Apa loe bilang hah?! Son goku?! Kenapa gua di samain sama b*bi anj*ng?!!!"


"Ba, babi?! Babi apa?! Kapan gua miripin loe sama babi?! Babi yang mana lagi?! Baby kali ah ..." Ucap Elang sambil merayu Dicky yang membuat dicky jijik dan menginjak kakinya dengan sepatu kerasnya.


KRAK... KRAK...


DEG!!!


Dicky mengincar tulang kering Elang agar ia tak berdaya.


"UAAAAKKKHHH!!!"


"Ukh! Kejam anjay, gue pengen nolongin Elang tapi takut,"


Kevin menggertak giginya geram, ia marah melihat Elang diperlakukan begitu. Saat hendak maju melawannya, seseorang berteriak menghentikan langkah Kevin.


"CUKUP DICKY! Loe udah keterlaluan!!!" Bulan yang juga sudah habis sisa kesabarannya yang harusnya ia simpan untuk mengehentikan tingkah laku konyol Elang.


"Bu... Lan..."


Bulan menghampiri Dicky dan menatapnya tajam seolah ia membenci Dicky.


"Lily, gua balik," Kata Dicky seketika lembut.


PLAK!


"Keterlaluan! Kelakuan loe udah diluar batas Dicky! Siapa yang nyuruh loe buat mukulin dia hah?!" Ucap Bulan setelah menampar Dicky yang membuat Elang bingung.


"Tapi...


"Minta maaf, gue gak mau tau. Loe harus minta maaf sama Elang. Berhenti lukain anak orang Dicky, kebiasaan loe itu jelek tau,"


"Hiks... Bulan... Terhura ih gua..."  Gumam Elang tersenyum.


"Huufftt! Iya, gua bakal minta maaf," Jawab Dicky sambil membalikkan badannya dan berjongkok didepan Elang.


"Sorry ya, gua udah mukulin loe sembarangan," Ucap Dicky sambil tersenyum.


'Ni anak aneh ya...? Tadi wajahnya kek ngamuk gitu, sekarang tiba tiba jadi lembut,' Batin Chiko heran.


"Gantiin dulu kaki kesayangan gua, remuk neh, loe gak tau seberapa ngilunya waktu loe nginjek tulang kering gua? Ngilunya lebih dari iklan gigi sensoden tau," Keluh Elang sambil menatap miris kakinya yang sama sekali tak bisa ia gerakkan.


"Ya maap. Tadinya gua gak mau remukkin tu kaki, gak berguna juga. Tapi loe malah nyamain gua sama babi anjir, ya pantes kan gua marah, jangan mentang mentang loe ganteng lah," Jawab Dicky kembali mengepal tangannya.


'Dia... Buta karakter rupanya... Dia gak bisa bedain son goku sama inosuke ya? Padahal kan dia juga babi ganteng, masa bodo lah,' Batin Elang terheran heran begitu.


CLAK.


Darah segar menetes dari hidung mancung Dicky.


"Eh?!" Dicky yang kaget dan mengelap sedikit darahnya.


"Lah...?" Elang ikut heran.


"Keknya gara gara tadi loe mukul wajah (ganteng) gua terlalu keras," Jawab Dicky sambil terus mengelap darahnya.


"HUAAAAA!!! Kenapa baru keluar darahnya sekarang?!" Teriak Elang sakit hati, seolah tadi ia memang lemah dari Dicky.


"Hei! Bawa tandu! Mana anak PMR?!" Teriak Anne, salah satu anggota klub basket.


"Tandu datang!!! Wiu wiu wiu wiu..."


"Cintaaa... Halo halo," Sapa Elang lagi sambil tersenyum.


"Aby, titip Elang ya," Kata Bulan pada Abyral.


Setelah di bawa oleh tandu, Dicky kembali mengucapkan kata maaf pada Elang karena tiba tiba membuat kekacauan di sekolahnya.


"Sorry Lang, gua cuma pengen ngetes aja, apa loe orang yang cocok buat Lily apa nggak, soalnya akhir akhir ini banyak banget yang menghianati si kecil Lily, sedih gua..." Ucap Dicky agak sedih.


"Dih, gua istiqomah kali, ya gak Lan? Gua orangnya setia kan...? Selalu ada kan...? Gua yang paling ganteng kan...? Cuma gua yang paling cocok buat... Mmppht!"


"Bacot mulu nih ketua, Louisa, tolong ya bawa ketua ke UKS," Sahut Anne menutup mulut Elang agar tak berbicara lagi.


Bulan pun hanya tersenyum saat melihat Dicky. Ternyata Dicky tak banyak berubah, ia selalu begitu tiap kali ada laki laki yang mendekatinya. Dicky tetaplah dicky, walaupun dilihat sebagai lelaki kasar, aslinya Dicky sangat lembut.


Bersambung...