Erlangga Aileen Satria

Erlangga Aileen Satria
Chapter 33



Dimulai lah perlombaan menegangkan itu...


Ternyata saat melawan sekolah lain, Elang tak benar benar serius, namun saat berhadapan dengan Leon, ia menjadi semangat sekali.


Ia akan mengeluarkan seluruh tenaganya untuk melawan Leon. Sulit sih, karena leon selalu menghadang Elang. Namun dengan otak encernya, ia mampu memasukkan bola itu kedalam keranjang.


"Hahahaha! Gua menang!" Ucap Elang berbangga hati.


Leon mulai marah dengan keadaannya sekarang. Ia kalah dan harga dirinya di injak injak oleh Elang yang merupakan anak sombong.


Leon melemparkan bola basket itu dan pergi meninggalkan lapangan.


Lapangan hening sekejap lalu kembali mensorakan sekolah Elang yang juara.


"Woi! Lu mau kalah gitu aja?! Mana ada singa yang kalah dari Elang kan?!" Teriak Elang yang membuat Leon makin emosi.


"P*lontong! Gua bakal ancurin loe di puncak acara nanti!"


"Haha, Gua tunggu!" Jawaban Elang dengan mantap.


Kini malam sudah tiba...


Waktunya istirahat bagi Elang yang sudah lelah hari ini. Ia mengacak acak rambutnya setelah berkeramas. Ia langsung menghempaskan tubuhnya di atas kasur yang empuk dan besar itu. Kini ia tengah serius dengan ponselnya, menunggu seseorang menelponnya.


Drrt! Drrt! Drrt!


"Halo! Assalamualaikum^^" Sapa Elang sambil tersenyum.


"....."


"Baik dong, elang sehat neh. Kak Zhao juga liat pertandingan tadi,"


"......"


"Hmm... Suka Elang pake, mamah tenang aja." Jawab Elang sambil melirik kalung asyifa dari sang mamah.


"....."


"Eh?! Iya iya... Elang bakal jaga kesehatan kok,"


"...."


"Iya, waalaikumussalam. Mamah juga jaga kesehatan sama bapak dan adit ya,"


Tut!


Ternyata telepon itu dari sang mamah yang masih khawatir dengan kondisi Elang. Padahal ia sungguh sungguh sangat baik.


"Lang, mau keluar gak?" Tawar Chiko pada Elang yang masih bengong di atas kasurnya.



"Hmm... Boleh, bentar, ganti baju dulu."


"Soalnya gua liat loe banyak pikiran aja. Kenapa?" Tanya Chiko selagi Elang mengganti bajunya.


"Nggak kok, gabut aja... Makasih lho udah ngajakin gua. Yuk berangkat," Jawab Elang setelah bersiap.


"Ooghey,"


Chiko dan Elang satu kamar dan kevin satu kamar dengan Vino. Sedangkan Theo? Ia tersiksa dengan teman teman barbarnya yang entah siapa. Akhirnya karena stress, theo juga memilih keluar cari angin agar kepalanya dingin. Kebetulan sekali, mereka bertemu di caffe.


"Tumben loe mau keluar tew, kenapa nih?" Tanya Vino julid.


"Stress, disana mereka maksa gua ngeluarin binatang, (Alias bahasa kasar ya). "


"Gitu... Emang sih, loe kan jarang kasar ya sekarang? Gak pernah malah, Sekalinya kasar sakit ati tuh orang," Jawab Kevin sambil menyalakan rokoknya.


"Anjir! Loe ngerokok Vin?!" Tanya Elang kaget.


"Iya, dia ngerokok akhir akhir ini, katanya stress."


"Katanya obat stress itu sih rokok," Sahut Chiko juga.


"Lah?! Lu juga ngerokok?!" Tunjuk Elang pada Theo.


"Belum pernah, tapi mau nyoba," Jawab Theo sambil memandangi rokok Vino.


"Haaah... Jangan jangan loe juga ngeroko?"


"Nggak, bisa parah bengek gua. Gua udah berhenti rokok pas kelas 1 waktu itu," Jawab Chiko.


"Siap mas^^" Jawab Mbaknya sambil ikut tersenyum, tertular oleh Elang.


"Huuuh... Saya mau Machiatto satu," kata Kevin juga.


"Americano dua, latte nya satu." Sahut Vino juga.


"Oke mas^^"


Sepanjang jalan, pelayan itu tersenyum melihat para pemudah tamvan itu.


"Gimana pertandingannya hari ini no?"


"Lancar lang, Hasil gua seri. Jadi diulang besok, lengan gua memar, dia mukul gua kekencengan," Jawab Vino sambil memperlihatkan lengannya yang membiru.


"Alah... Kalo olla tau gua dimarahin," Jawab Elang panik.


"Gak papa, gua udah bilang sama Vio, gak akan dimarahin. Lagian, lawannya brutal, kebanyakan dari tim bela diri se-indonesia itu brutal. Mereka gak akan kasih kita ampun," Jelas Vino pada Elang.


"Gue mau ikutan itu... Tapi akhirnya ditolak gara gara udah ikutan tiga lomba,"


"Ngapain kalian para cowoh disini?" Sahut seseorang dari belakang.


"Eh?! Kita lagi nongki. Kalian akur?" Tanya Chiko heran, melihat murid lain didekat teman temannya.


"Ya akur dong! Maap ya kak, kita gak sama kayak yang lain, yang musuhin sekolah lain. Kenalin, gue Queenza,"


"H,halo... A,aku Yumi,"


"Aku Tiara! Aku suka sama kak Elang sejak pandangan pertama pas kak Elang mimpin yelling!" Seru Tiara mengungkapkan perasaannya, namun Bulan langsung meliriknya tajam. Terlihat sekali sekarang bahwa bulan cemburu.


"Halo!^^ Gue Clara, salam kenal Erlangga..."


"Hooo~ Loe pengikut Leon? Kenapa gak gabung sama dia?" Tanya Elang yang akhirnya tahu siapa pengikut setia Leon.


"Leon lagi stress. Dia lagi gak baik baik aja, bahaya kalo gue nenangin dia," Jawab Clara sambil tersenyum, sambil melirik Chiko.


"Gitu ya? Pasti gara gara gua da. Mana dia sekarang?" Tanya Elang lagi.


"Cari angin, biasanya dia minum² kalo stress,"


"Wuanjir! Minum minum?! Gue tau gue nakal, tapi gue gak berani sampe minum minum, dosa anjir," Sahut Vino menggebrak meja karena kaget.


"Ya dia kayak gitu karena anak broken. Bokap sama nyokapnya gak peduli apapun tentang keadaannya, dia lagi sehat atau dalam kondisi lagi terpuruk, Yaudah sih, bodo amat. Leon Lives well, He dies, No one cares, yang penting dia bisa mencapai semua keinginan orang tuanya, bukan berarti dia gak ngerasa bersalah saat loe disiram, atas semua kelakuan dia ke elu lah, dia ngomong dia pengen minta maaf, tapi sulit. Orang tuanya nyaksiin dia dari jauh, dimana mana ada kamera pengawas yang 24 jam ngawasin gerak gerik dia. Bahkan prinsip orang tuanya Lebih baik mati daripada harga diri diinjak orang lain karna permintaan maaf," Jelas Clara ikut sedih.


Semua teman Elang merasa sedih saat mendengar hal itu. Bisa bisanya anak itu tumbuh menjadi laki laki yang sombong dan gengsi akan kata maaf, tolong dan terimakasih.


"Sebenarnya loe siapanya Leon?" Tanya Elang sekali lagi, membuat Clara tersenyum.


"Gue tunangannya,"


Deg!


"Haaaahh???" Semua menganga tak percaya.


"Yah... Mau nggak mau, pas umur gue 21, gue nikah sama Leon." Lanjut Clara dengan senyuman tulusnya.


"Gue udah dijodohin dari kecil, bahkan cincin ini jadi saksi kalo gue tunangannya,"


"Cincin itu?" Tanya Chiko dan diberi anggukkan olehnya.


"Itu kan...


"Cincin hello kitty!" Seru semuanya berbarengan.


"Hahaha, walaupun cincin hello kitty, punya makna dalem lho guys. Udah ah, jangan bahas yang kek begitu, gue nangis salahin kalian ya? "


"Gue laper, pesen pancake nya ya, 2. Satu makan disini, satu bungkus. Gue yakin Leon belom makan,"


Elang jadi rada merasa bersalah pada Leon. Bagaimana ini? Apa dia harus minta maaf karena perkataannya keterlaluan? Atau tidak? Tapi ia tetap kesal, namun ia segera beranjak dari tempat duduknya untuk pergi mencari Leon yang sedang mabuk.


Bersambung...


Foto Elang lagi jalan jalan sebelum alhirnya ke caffe.