
Elang masih mematung mendengar suara orang itu. Siapa yang menelponnya? Mengapa ia bisa mendapatkan nomor Elang?
"Ini siapa? "
"Do. wan, Son do. wan, " Jawabnya dari dalam telpon itu.
"Hm! Ngemeng dari tadi dong... Dimana loe sekarang? " Tanya nya sambil ikut celingak celinguk.
"Bu Zhidao, " Jawabnya ikut celingak celinguk.
"Loe pake baju apa? Aduh, malah nyasar di bandara lagi. "
"白色条纹单品衬衫,白色T恤
Báisè tiáowén dān pǐn chènshān, báisè T xù, " Jawabnya lagi.
Elang celingak celinguk mencari ciri ciri seperti apa yang dikatakan Do. wan, tidak ada yang memakai baju seperti itu do bandara. Akhirnya elang pergi keluar dan mencari kembali.
"Son! Do! Wan! " Teriak Elang se kencang nya.
"Liiu Yaoshan! "
Elang menghentikan langkahnya dan merangkul do. wan, seperti sahabat yang telah lama hilang.
"Gimana kabar loe sekarang? Gua kangen nih, sumpah! " Seru Elang sambil menepuk bahu Do. wan.
"真的很想念?尽管我们昨天才遇到开斋节
Zhēn de hěn xiǎngniàn? Jǐnguǎn wǒmen zuótiān cái yù dào kāizhāi jie, " Jawab do. wan curiga.
"Yaiyalah masa kek gini dibilang boong sih? Dahlah, karna disini bukan china, loe kudu make bahasa Indonesia, jangan china. Loe masih inget kan kata apa aja yang mamah ajarin ke elu? " Tanya Elang lagi.
"S, s, sssampurasun... "
"Pht! Ahahahahaha, Gak gak. Gak papa deh, hayu, kita samperin yang lain. " Jawab Elang sambil mengajak Do. wan menuju teman teman dan kakaknya.
"Nih, elang bawain kalian oleh oleh china, " Seru Elang sambil menunjukkan Do. wan.
"Hai, " Sapa do. wan pada Vino, kevin, zhao dan langit.
"Halo... ^^"
"Gimana nih? Mau langsung pulang aja? " Tanya Elang pada semuanya.
"Langsung aja, senin kita masuk sekolah, gak mungkin kalo nginep, " Jawab Vino pada Elang.
"Oke~" Jawab Elang.
'Do.wan... gua udah nungguin ini dari lama, loe kudu siap gua bales atas semua kelakuan loe yang bikin gua trauma,' Batin Elang yang membuatnya semakin membara.
'Yaoshan, loe siap kan kalo gua jailin sekarang? Gak akan takut kek dulu kan?' Batin Do.wan juga.
Ternyata keduanya sama sama punya muka dua. Zhao keheranan melihat keduanya berjalan berdampingan dengan akrab, bukannya dari kemarin kemarin elang selalu mengeluh perihal Do. wan ya?
"Kok jadi akur?" Tanya Zhao sambil memberikan roti padanya.
"Ya harus akur dong... kan mau balas dendam, masa gak akur sih?" Ucap elang berbisik di telinga zhao, hembusan napasnya bisa membuat siapa pun bergidik ngeri, apalagi dengan suara deep begitu.
"Gak usah deket deket, gue salting." Jawab Zhao sambil menjauhkan wajah elang darinya.
"Punya wajah dua itu penting dalam hal kek beginian, apalagi mereka gak tau kalo gua dendaman orang nya," Lanjut Elang memperingatkan kakaknya. Tidak di sangka, elang punya sisi gelap yang begitu.
Vino dan Kevin nampak senang dan asyik mengobrol bersama Do.wan, terlebih do. wan adalah anak yang ramah dan murah senyum. Gadis mana yang tidak menyukai nya?
"Sekolah disana gimana?" Tanya Kevin penasaran.
"Sekolah disana ketat banget, telat dikit aja hukumannya berkali kali lipat. Makannya, sebenernya bosen sih tinggal disana, pengen pindah aja ke indonesia." Jawab Do.wan ramah, namun ia sadar Elang tengah memberinya peringatan.
"Tapi yaoshan pasti gak izinin gue pindah kesini, dia kan gak suka sama gue," Ketus Do.wan yang membuat Elang naik pitam.
"Apa?! Kapan gua bilang gak suka sama loe?! Kapan?!" Sentak elang kesal.
"Oh? Berarti selama ini loe suka sama gue? Maaf tapi gue suka cewek, gue ngehargain perasaan loe. Tapi gue gak bisa suka balik sama cowok,"
"Anj... ukh... Gua. Gak. Ben,ci. Gua. gak. suka. Tingkah. loe," Jawab Elang kaku, benar benar kelakuannya bisa membuat penyakitnya elang kambuh.
"Udah udah udah, becanda nya keterlaluan... Do.wan, jangan maenin elang mulu. Akhir akhir ini Elang divonis penyakitnya bakal kambuh kapan aja," Sahut Zhao berusaha menenangkan keduanya.
'Sikap Elang berubah 180° derajat, apa dia gak nyaman sama do.wan?' Batin Kevin berpikir sambil mengelus punggung Elang.
'Kenapa Elang emosi??? Jangan jangan Do.wan ini emang suka bikin emosi elang? Mending gua jaga jaga aja,' Batin Vino juga.
Suasana hati Elang sedang tak baik baik saja, sepatah kata saja jika menurut elang menyebalkan akan membuatnya semakin badmood.
"Wah... penyambutan do.wan kayak hari lebaran, banyak daging..." Ujar Adit kagum.
"Sirik aja loe, ayo ayo. Duduk, makan dulu semuanya. Makasih ya Vino, kevin, udah mau nganter Elang jemput Do.wan ke bandara. Langit juga, makasih ya udah mau nyetir," Ucap mamah sambil tersenyum.
"Siap mah, jangan khawatir."
Mamah celingak celinguk mencari sesuatu. Anaknya hilang satu, Elang tidak ada. Saat sedang mencarinya, akhirnya elang menunjukkan batang hidungnya tengah berjalan menuju pintu.
"Aa, mau kemana?" Tanya mamah saat melihat elang melewati meja makan malam.
"Cari angin," Jawab Elang dingin.
"Makan dulu nak,"
"Kenyang. Gak usah ngikutin, Elang gak akan jauh jauh," Jawab Elang lagi.
Elang pun pergi begitu saja. Membuat kekhawatiran besar bagi mamah nya, ada apa dengan putra keduanya itu?
Elang berjalan sambil menendang kerikil yang ada di dekatnya. Ia tak mau berada di rumah dulu karena Do.wan, ia juga tidak makan. Padahal ia baru saja berjanji pada bulan bahwa ia akan makan dengan teratur mulai sekarang. Ia duduk di kursi panjang sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia merasa tak nyaman dengan keberadaan Do.wan.
Di rumah...
Do.wan juga jadi merasa tak enak pada Elang karena bercandanya terlalu berlebihan, padahal dari dulu sampai sekarang, elang tak pernah menunjukkan rasa kesalnya pada do.wan.
"Sebenernya anak itu kenapa sih? Mamah udah gak pernah liat Elang sedingin itu,"
"Itu gara gara Do.wan tan, Do.wan udah bikin Yaoshan marah besar. Do.wan kira yaoshan gak gitu... Do.wan minta maaf," Ucap Do.wan sambil tersenyum miris.
"Gak papa kok, mungkin marahnya cuma bentar, Elang gak bisa marah lama lama,"
"Yaudah, Do.wan susul yaoshan dulu," Jawab Do.wan pamit.
"Adit ikut!" Seru Adit sambil menyusul Do.wan
Elang merasa kepalanya mulai pusing. Mungkin itu karena ia kedinginan, ia juga lupa tidak memakai jaket.
"Lho el? Ngapain disini?" Tanya seseorang yang berdiri di hadapannya.
"Bulan?"
"Kenapa keluar malem malem? Gak pake jaket lagi, cepet pulang. Atau... mau gue anter?" tawar Bulan sambil duduk di sebelah Bulan.
Elang langsung menyandarkan kepalanya di bahu bulan. Sepertinya ia sangat sedih karena sekarang ia bermanja pada Elang.
"Kenapa...? Sesedih itu ya? Udah, jemput sodaranya?" Tanya Bulan dan diberi anggukkan cepat oleh Elang.
"Mana? Mau liat dong,"
"Nggak boleh, nanti loe suka. Dia ganteng, gua gak bisa tunjukkin ke Bulan." Jawab Elang cemberut.
"Ooh... ganteng ya? Tapi kan gak akan ngaruh sama gue mah, kebal." Ucap Bulan sambil menepuk paha elang pelan.
Elang meraih tangan Bulan dan menggenggamnya. Ia benar benar manja malam ini. Bulan pun menarik elang dan masuk ke pelukannya. Kali ini bulan mengizinkannya untuk menanangkan Elang di pelukannya. Elang yang cemberut itu berkaca kaca dan semakin mengeratkan pelukannya.
"Gue gak tau apa masalahnya, tapi semoga lu tenang kalo gue kasih pelukan kayak gini," Ucap Bulan lembut.
"Iya, Cukup kok. Gua gak badmood lagi," Jawab Elang manja.
"Jadi sekarang mau pulang?" Tanya Bulan lagi dan diberi anggukkan oleh Elang.
"Yaudah, Yuk. Gue anterin loe pulang,"
Elang tetap menggenggam tangan Bulan dan sesekali tersenyum padanya. Saat sampai di rumah, Mamah langsung memeluk Elang dan tidak lupa mengucapkan terimakasih pada Bulan.
"Makasih udah mau anter elang, Elang gini kalo udah badmood,"
"Sama sama mah, Bulan izin pulang," Ucap Bulan pamit undur diri.
"Mau di anter Adit? Biar gak sendirian,"
"Gak papa mah, Rumahnya deket kok, yaudah. Wassalamualaikum..."
"Waalaikumussalam..."
Bulan pulang sendiri. Sebenarnya ia keluar karena ingin membeli camilan, tapi ia malah bertemu Elang. Ia memandangi tangannya yang tadi berpegangan dengan elang. Hangat, Begitu pikirnya. Ia tersenyum senang, saat masuk gang, wajahnya berubah setelah bertemu preman yang memang selalu mengganggunya.
"Haaah... ada monyet lagi," Monolog Bulan dengan tatapan malasnya.