Erlangga Aileen Satria

Erlangga Aileen Satria
Chapter 68



Elang tertawa bersama teman temannya, apalagi mamah dan bapak yang langsung balik lagi ke rumah sakit setelah tahu bahwa Elang sudah sadar. Mamah memeluk Elang dengan sangat erat, menangis dan terus mengucapkan syukur.


"Mam, Elang gak apa apa kok, beneran." Ucap Elang sambil menyeka air mata sang mamah tercintah.


"Kamu beneran gak papa kan nak? Gak ada yang dirasa sakit? apa yang sakit? Biar mamah langsung bilang ke om william," Jawab Mamah sambil mengelap peluh di dahi Elang, Ia langsung menggelengkan kepalanya cepat.


"Nggak ada, semuanya baik baik aja kok. Mamah istirahat lagi, gak papa, Elang disini sama temen temen aja ya? Mamah harus istirahat, pasti cape banget jagain Elang yang gak bangun bangun selama sebulan kemarin," Ucap Elang sambil tersenyum hangat pada mamahnya. Mamah hanya tersenyum dan mengangguk paham.


Elang makan dengan lahap sekali, membuat Chiko dan yang lainnya tersenyum senang. Elang pun menatap heran pada teman temannya.


"Kenapa? Ada yang salah sama muka ganteng gua? Ada remeh ya?" Tanya Elang bingung.


"Nggak, seneng aja liat loe kayak gini," Jawab Chiko tersenyum senang.


Sebenarnya ada yang aneh pada Elang, apakah ia melupakan sesuatu? Tapi ya sudahlah, yang penting sekarang adalah pesta kecil untuk Elang yang sudah terbangun.


"Eh, ada kabar apa di sekolah?" Tanya Elang penasaran.


"Kabar penting buat loe, Bulan di bully di sekolah," Jawab Chiko sedih.


"Oh iya? Kenapa di bully?" Tanya Elang lagi, Vino dan Theo saling menatap keheranan.


"Karna nggak ada loe, mereka jadi berani ke Bulan karna loe gak ada di deket Bulan," Jawab Chiko lagi, ia pun keheranan kenapa ia tidak begitu terkejut.


"Lah? Kenapa gak ada gua dia jadi di bully? Emang gua siapa? Sampe kalo gak ada gua aja dia di bully," Tanya Elang lagi, barulah mereka menyadari kalau elang tidak mengingat Bulan.


Pantas ada yang aneh, biasanya ia selalu to the point menanyakan dimana bulan dan bagaimana keadaannya.


"Lang, Kenapa loe bisa ada di rumah sakit?" Tanya Kevin kemudian.


"Hmm... kenapa ya...? Gak inget... gua kenapa ada disini? iya bener ya? Gua baru nyadar," Jawab Elang tiba tiba serius, ia menaruh tangannya di dagu.


"Loe pernah pacaran?" Tanya Kevin lagi.


"Ehek... bukannya loe tau ya? Gua udah sering pacaran, Terakhir pacaran tuh... oh! Gua putus massal di rumah gua pas lagi sakit! Nah... gua inget tuh," Jawab Elang lagi.


"Loe inget siapa yang nganter?" Tanya Chiko juga padanya.


"Inget, loe sendiri kan?" Tanya Elang balik.


"Sama siapa coba?"


"Sama... Cewek, tapi gak tau siapa," jawab Elang santai, membuat Chiko rada kesal padanya.


"Loe tau bulan gak?" Sahut Vino juga.


"Nggak tau, siapa emangnya? Kenapa kalian nanyain yang kayak gituan sih? Gua jadi bingung," Jawab Elang meninggikan suaranya, Mereka melirik Chiko yang sudah memerah.


"Loe... gak inget bulan sama sekali? Bulan Lho... LYLIANA BULAN PURNAMA, cewek yang lu puja puja karena menurut loe dia lebih menarik dari siapapun. Loe gila karna dia, loe cinta banget sama dia, sampe apapun yang dia mau, semua nya loe kasih. Loe pernah janji sama dia buat gak AKAN pernah ninggalin dia selamanya. Loe juga--"


"Udah lang... jangan dulu di pikirin, loe gak boleh banyak pikiran dulu, loe harus tenang," Ucap Kevin sambil mengusap punggung Elang yang sedang bingung memikirkan siapa itu 'Bulan'.


"Vin, ceritain semuanya ke gua, tentang apa yang terjadi sama gua sampe gua koma kayak gini," Ucap elang sambil memegang kedua bahu Kevin dengan serius.


"Hmmm... Yakin gak akan apa apa?" Tanya Kevin ikut serius.


"Yakin! Gua harus tau siapa cewek yang dimaksud Chiko itu dan ada hubungan apa antara gue dan... Bulan(?) apa yang gua janjiin sampe chiko kayak gitu?" Jawab Elang, ia merasa tidak enak pada Chiko sekarang.


"Haaah... gua ceritain setengahnya aja ya. Jadi, loe itu pacarnya Bulan." Ucap kevin yang duduk di bangkunya.


"Pacar?" Tanya Elang heran.


"Iya, loe pacaran sama bulan udah lama banget, sekarang udah mau maju ke 8 bulan hubungan kalian. Waktu anniv yang ke 6, loe udah janji mau jalan jalan sama dia, katanya loe dateng telat, Sementara Bulan udah nunggu lama di sana. Pas loe mau nyebrang, loe nolongin orang yang mau ketabrak, alhasil, cewek itu meluk loe dan makasih sama loe. Nah tapi... Bulan kecewa tuh ama elu, dia lari, dan loe juga ngejar. Pas loe mau nyebrang nyusulin dia, Eh... Jantung loe kambuh,"


"Bentar bentar, Jantung?" Tanya Elang yang memotong cerita Kevin.


"Iya, Jantung loe udah lumayun parah, makannya papah nyaranin loe buat cepet cepet operasi jantung. Tapi loe malah lebih memilih jalan jalan dulu sama bulan, baru abis itu mau transplantasi jantung. Tapi sayangnya, jantung loe itu kambuh di tengah jalan, udah gak bisa berdiri loe tuh, mereka yang ada disana, neriakin loe kalo ada mobil yang ngebut, emang a*jing sih yang nyetir. Nah terus, loe nyelametin aa aa yang mau nolongin loe, alhasil, loe nya ketabrak, dan bulan ada disana, mangku loe dan nemenin loe sampe sini. lalu loe keenakan tidur sampe lupa siapa Bulan,"


Elang melamun terus, ia ingin sekali mengingat siapa bulan? Suaranya saja ia tidak ingat, apalagi wajahnya.


Nguuuungg...


Telinganya tiba tiba berdengung kencang, kepalanya pun memberat kembali. Elang kembali pingsan saat mencoba mengingat siapa Bulan. William menegur Kevin dan mengingatkannya lagi bahwa Elang masih perlu beristirahat.


"Papah, masa Elang cuma gak inget Bulan sih pah? Bukannya rada aneh ya? Dia inget kita semua, tapi gak inget Bulan. Nggak mungkin kan memori tentang Bulan ke hapus kayak yang di film film?" Tanya Kevin pada papah nya.


"Ya gimana ya Vin? Papah juga bingung, kenapa cuma gak inget sama neng Bulan aja," Jawab William ikut bingung.


"Semoga aja kalo ketemu, Elang inget siapa Bulan. Kevin turut prihatin," Ucap Kevin dan diberi anggukkan oleh William.


Sementara di sisi lain...


Bulan sibuk menyisir rambutnya, ia benar benar marah pada queen yang sudah mengacak acak rambutnya. Sudah berjam jam ia berusaha merapihkan rambutnya.


"aaaaaNjinG! Ah! Si t*lol! bener bener orang g*blok lah! Rambut indah gue... huhuhuhu..."


Di saat sedang sedih begitu, Chiko menelponnya dan memberitahu kalau Elang sudah sadar. Bulan tentu saja senang, lagipula Chiko tak memberitahunya kalau Elang tidak mengingat apapun tentang nya. Chiko hanya ingin menonton saja nantinya jika bulan pergi untuk menjenguk Elang.


"Eh tapi jan sekarang, Besok aja. Kaki loe belom bisa nginjek tanah kan? Biar gua bawa mobil besok, gua anter karna besok hari minggu," Ucap Chiko di telepon.


"Oke! Gue gak sabar ketemu Elang!!!" Seru Bulan sambil menyeka air matanya, bukan karena sedih ia begitu, ia senang karena Bulan masih bisa melihat Elang dan kembali melakukan hal hal yang menyenangkan bersamanya.


Bersambung...