
Elang menceritakan semua kisahnya bersama Bulan di ruang tamu bawah bersama Mamah dan bapaknya. Ia bercerita juga bahwa minggu sekarang adalah anniversary nya bersama Bulan yang ke 6 bulan.
"Waduuh... ternyata udah mau nginjek ke 6 bulan lagi ya??? Cepet banget, gak kerasa," Kata mamah sambil memberi suapan es krim pada Elang.
"Iya mam, gak kerasa banget. Ujian udah beres... Jadi Elang siap liburan... hahahahaha,"
"Bulan ini udah pemeriksaan belom? Mamah liat dari kemaren kamu diem di rumah terus,"
"Belom mam, nanti sekalian sama Bulan. Sebelum jalan jalan Elang sempetin buat ketemu sama om will," Jawab Elang sambil memberi suapan juga pada bapaknya.
"Remember, don't overdo it," Sahut bapak tetap menasehati hal yang baik untuk putranya.
"Semua nasehat bapak, Elang inget dengan baik pak, jangan kuatir oke? Elang gak akan ngelakuin hal yang berlebihan. Elang masih tau batasan kok pak, mah." Jawab Elang lagi sambil terus tersenyum.
"Hmm... be the good boy, son." Kata Bapak sambil mengelus kepala elang.
"Son, we're going to the hospital tomorrow. I also want to know your current condition," Ucap Bapak kembali berucap.
"Eh? Kenapa pak? Elang udah biasa sendiri kok, Elang juga gak pernah boong. Bapak pasti sibuk di kantor, uhuk uhuk. Elang gak mau ngerepotin bapak... Uhuk uhuk,"
"Kamu kenapa nak?" Tanya Mamah panik.
"Keselek es krim, uhuk uhuk, dingin banget ke tenggorokannya, uhuk uhuk," Jawab Elang cengengesan.
"Haaah... Udah udah, jangan makan es lagi," Larang mamah sambil mengambil es krim elang.
"how many times have you told me? All your business is more important than father's work. Dad already told dad's secretary to change the meeting schedule for tomorrow. it's okay? Will dad come with you tomorrow?" Ucapan bapak yang begitu lembut tidak mungkin di tolak Elang. Akhirnya ia mengangguk setuju dan berterimakasih padanya sekali lagi.
🐰🐰🐰🐰🐰🐰🐰🐰🐰🐰🐰🐰🐰🐰🐰🐰
Keesokan harinya pun tiba...
Elang minta izin pada Bulan untuk pergi ke rumah sakit menjalani pemeriksaan rutinan.
"Sama bapak? Tumben banget,"
"Iya nih, bapak bilang pengen tau hasilnya langsung, makannya ikut nganter sekarang," Jawab Elang di telponnya.
"Yaudah, hati hati ya? Semoga lancar," Ucap Bulan memberikannya semangat.
Elang pun menutup telponnya dan menghela napas panjang, ia berhenti minum obat sudah seminggu yang lalu. Ia lupa harus pergi menjalani perawatan, untung saja malam tadi mamah dan bapaknya mengingatkannya. Batuk semalam yang ia bilang keselek itu bukan keselek, entah apa, tapi seperti ada yang mengganjal di tenggorokannya, batuknya juga menyebabkannya nyeri dada dan susah bernapas. Di tambah, malam tadi ia mimisan cukup banyak dan muntah darah, namun ia tak berkata apa apa pada kedua orang tuanya soal kejadian semalam.
"What is this? Your face is so pale," Ucap Bapak ketika menyadari wajah putranya lebih pucat dari biasanya.
"Biasa pak... Cuaca nya dingin, makannya pucet. Apa Elang harus pake lip balm biar gak pucet lagi ya?" Gumam Elang yang membuat bapaknya menggelengkan kepalanya.
"aaahhh... you're cold, then, we'll go straight to the hospital. not good for long outside like this," Jawab Bapak dan langsung menyuruhnya masuk mobil dan langsung berangkat.
Kevin tampak menunggu diluar, menyambut Elang dan bapak. Mereka sudah mendaftar tadi malam, jadi sekarang tinggal langsung pemeriksaan. Setelah hasilnya keluar, nampaknya Om Will tidak puas dengan hasilnya. Ia segera mengajak Longwei ke ruangannya dan membicarakan kondisi Elang.
"How is my son? " Tanya Longwei penasaran.
"Huuuh... Anda liat ini? Terdapat pembengkakan di jantungnya menyebabkan pasokan oksigen nya terhimpit dan mudah sesak nafas. Itulah kenapa dadanya selalu sakit, Saya harus bilang sekarang, Elang harus melakukan transplantasi jantung. Udah gak ada jalur lain, kalo dibiarin gini aja, kondisinya bisa jadi gagal jantung," jelas Will yang membuat Longwei terkejut.
"Does my son know this? " Tanya Longwei lagi.
"Saya udah bilang berkali kali tiap dia pemeriksaan, emang elang gak pernah nyampein ke kamu soal kondisinya yang udah darurat kayak gini?"
"No. He never said anything about his illness getting worse. he also never said that he should do a heart transplant," Jawab Longwei semakin khawatir kondisi putranya.
"Elang emang anak nakal... Dia bilang dia bakal kasih tau orang tuanya, Kalo bisa... Anda bujuk dia sekarang, saya tidak mau terlambat menanganinya. Saya juga bisa nyari pendonor yang cocok sama jantungnya," Ucap Will kemudian.
"What if I'm the only donor?" Tawar Longwei pada Will.
"Nggak, saya ngga bisa ngorbanin kamu, saya janji bakal nyariin pendonor terbaik buat Elang, Jadi... Tolong bujuk Elang ya?"
Mendengar pernyataan dari hasil tes itu membuat Longwei agak marah dan sedih. Kenapa anak nya harus menyembunyikan hal sebesar itu? Apakah ia tidak tahu kalau Longwei sangat mengkhawatirkannya? Untung saja ia datang untuk memeriksa Elang. jika tidak, sampai kapan elang akan menyembunyikan hal besar ini?
"Yaoshan," Panggil Longwei dengan nama China nya
"Ya? Bapak udah beres? Pulang sekarang?" Tanya Elang sambil tersenyum, pantas saja wajah putranya pucat begitu, memang penyakitnya saja yang membuatnya semakin pucat dan parah.
"We're doing a heart transplant, right? Do you want it, son? You're not going to be naughty and obey dad, right? You promise you will never hide anything from your father and you will be an honest child," Ucap nya Longwei dengan lembut, berharap Elang mau melakukannya.
"Yah... Elang minta maaf, elang gak jujur sama bapak sama mamah. Elang gak mau bikin kalian khawatir, sejujurnya... Elang juga udah mau kok, elang mau transplantasi, udah bilang sama kevin juga. Tapi... Boleh di tunda gak sampe Elang beresin hari anniv sama bulan?" Si elang yang suka tawar menawar. Mendenger jawaban elang yang udah mantap ini, membuatnya semakin sayang karena tidak susah di atur.
"Emang sih om... Tadi Elang sempet susah di bujuk. Cuma the power of ayank yang bisa ngebujuk Elang yang keras kepala ini," Sahut Kevin juga.
"Thank you for wanting to care for the elang and helping with its treatment until now," Jawab Longwei lagi.
Keduanya izin pamit untuk pulang, elang harus istirahat yang cukup, menjaga kesehatannya sampai hari operasi nya tiba.
"I was just about to get angry if earlier you were stubborn and didn't want to have surgery,"
"Nggak lah pak... Elang mau kok. Sekali lagi Elang mau minta maaf karna gak bilang soal transplantasi ini, maafin ya..." Ucap Elang lagi, bermanja agar bapaknya tak marah.
"Anything for you, my boy." Jawab Longwei sambil tersenyum.
Bersambung ...
Jumpa lagi di Episode berikutnya...^^