Erlangga Aileen Satria

Erlangga Aileen Satria
Chapter 56



Elang pun menunggu di depan kantor OSIS itu, Elang agak tenang karena di dalam ada Theo yang adalah seorang Keamanan di organisasinya.


"Apa sih yang di omongin si Angel sama so Cantik bulan?" Gumam Elang sambil menggigit jari telunjuknya, jika ia khawatir akan begitu.


"Lang, ikut gua yuk bentar," Ajak Ezra yang menyahut Elang.


"Eh? Kak Ezra, kemana?" tanya Elang sambil mengikuti Ezra pergi.


Ezra tak menjawab dan terus berjalan menuju taman belakang sekolahnya. Firasat nya sudah tidak enak setelah melihat beberapa senior lagi yang ada disana termasuk Angkasa yang babak belur.


"Gua udah bawa dia kesini, gua boleh pergi kan?" Tawar Ezra padanya.


"Pergi," Kata Angkasa dingin.


"Bang? Apa kabar setelah gak ketemu Elang selama seminggu? Baik baik aja kan?" Tanya Elang sok akrab dengannya.


"Cih! Ni anak masih sama aja rupanya... gak berubah dikit pun, p*l*ntong," Jawab Bryan sinis.


"Mon maap, anda bukan rich bryan yang bisa ngomong toksik kayak gitu bang."


"Mau mulai pertarungan lagi? Aduh lagi gak bisa euy... Gua nya lagi nungguin Bulan di sidang di ruang OSIS. " lanjut Elang yang membuat Angkasa makin kesal.


"Sekarang gini aja deh... Gua mau maen game anak kecil dulu. Gua... Punya rekaman tentang kelakuan loe seminggu kebelakang waktu loe jebak gua, gua gak akan sebarin kalo loe gak bertindak. Tapi kalo loe sekarang mau gelud lagi sama gua, gua terpaksa laporin ini ke papah mertua," Ancam Elang sambil mengangkat ponselnya.


Tapi dengan mudahnya Bryan mengambil ponselnya dan melemparnya entah kemana. Lalu teman teman angkasa yang lainnya memegang tangan kaki elang dengan keras supaya elang tidak kemana mana.


"Hahaha! Busuk kelakuan kalian! Kalo gua kenapa napaβ€”"


"Apa?! Kenapa hah?!"


"Ya gak papa sih, "


Saat hendak melayangkan pukulannya pada Elang, terdengar suara angkasa di speaker sekolah. Rencana nya sukses, ia berhasil mengelabui Teman teman angkasa.


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


Kejadian sebelumnya...


Ezra dan Elang masih berjalan tanpa berbicara apa apa, tapi lama lama keduanya jalan bersama.


"Lang, gua minta maap kayak gini, gua ngasih loe sebagai umpan ke angkasa. Gua gak mau kayak gini, tapi Angkasa ngancam bakal terus gangguin gua dan Angel. Gua gak mau, dia ngasih syarat kalo gak mau di ganggu, gua kudu bawa loe ke hadapan dia."


"Oooh... gak papa bang, sebagai gantinya, abang bawa hp elang, di dalemnya udah ada rekaman suara si angkasa, kita bakal ngelabuin dia. Abang liat angkasa bakal ngapain gua di kantor OSIS, intipin aja, sekalian... jagain bulan, ehehehe..."


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


"Sampai sini paham kan bang? Bahwa anjing yang maen maen sama kucing tuh gak baik... Loe anjing, dan gua kucing nya^^ Meong," Ucap Elang saat teman teman angkasa melepaskannya.


"Jadi gini kelakuan loe ke kita hah?! Loe anggap kita Sampah?! Iya?! Anjir... gua pengen banget jait mulut lu!!!" Bryan yang memang emosian itu lalu memukul angkasa.


Elang pergi begitu saja sambil tersenyum. Ezra lega karena ide Elang cemerlang, lalu apa yang Elang buang tadi? Tenang saja, itu hanya kalkulator yang diberi cassing hp oleh Elang.


Theo masih menunggu di dalam sana, ia bosan karena tidak ada kursi untuknya duduk. Ia disuruh menjaga Bulan apapun yang terjadi.


"Loe sengaja kan ngerayu Elang sampe kayak gitu sama loe hah?!"


"Loe gak tau apa?! Gue yang duluan suka sama Elang! Gue udah ngelakuin segala cara buat dapetin Elang!!! Gue, adalah orang yang paling berhak buat ada di sisi Elang!"


DEG!


"Ya... gak masalah sih ya...? Gue mah... cuma masih bisa nyemangatin loe, semoga lu bisa ada di samping Elang menggantikan POSISI gue,"


"Tapi itu juga kalo loe MAMPU, Hahahahahaha! Yo ndak mampu, kamuu... Aduh, gue candu sama lagu itu,"


Theo tanpa sadar merekam Bulan yang sedang sombong itu, ia menyalakan kameranya untuk ditunjukan pada Elang nanti.


"Loe... Loe bener bener BIADAB! "


"Kalo gue biadab, loe mau gue sebut apa? Monyet? B*bi? atau... a*jing? Guys... Ada kakel yang mirip monyet neehh..." Ucapan Bulan itu membuat Angel marah dan menjambak rambutnya.


Pertengkaran fisik itu terjadi cukup lama. Bagaimana theo? Entahlah, wajah nya datar dan pertengkaran itu membuatnya terhibur.


"Waaah... Jadi cara gelud nya cewek gini ya??? Maen jambak jambakan," Gumam Theo kagum.


Lama lama pertengkaran itu semakin heboh sampai Angel menarik kerah baju Bulan. Karena teriakan nya tadi, Orang orang mulai ramai mengerumuni ruangan OSIS, Elang pun yang awalnya di depan kursi sedang duduk santai ikut penasaran kenapa banyak siswa ada di depan kantor OSIS. Ia pun beranjak meninggalkan bakso nya yang tinggal satu suap lagi lalu menghampiri ruangan OSIS ingin melihat ada apa.


"Permisi... boleh ikut lewat gak? Pacar gua ada di dalem," Ucap Elang mencoba menerobos mereka. Sayang sekali tidak ada yang mendengarkan ucapannya.


Theo pun membukakan pintu dan menatap mereka dengan tajam satu per satu. "Kalian tau, ini ruang OSIS? Ini bukan kandang ayam, kalian gak berhak ngegong- gong depan sini, Bubar," Titah Theo, perkataannya yang pedas bak samyang itu mampu membubarkan mereka.


"Waw... ucapan loe nyelekit ya...?" Kata Elang mengelus dadanya.


"Cuma becanda itu mah, gak usah masukin ke hati, ke telinga aja." Jawab Theo yang menyuruh elang masuk ke dalam.


Saat Elang masuk ke ruangan OSIS, keadaannya memang tak memungkinkan ia untuk memisahkan keduanya. Apalagi Theo yang lemah(?) itu bahkan kewalahan memisahkan mereka.


"Lu boleh nyakitin gue! Tapi jangan pernah sekali kali loe nyakitin Elang! Gue gak akan rela kalo loe neror Elang lagi! Loe gak tau seberapa besar rasa cinta dan peduli gue ke elang hah?! Loe gak tau kan?! Gue udah berusaha nahan nahan kayak gini biar Elang gak kecewa sama gue! Biar Elang tau bahwa gue gak akan selamanya jadi cewe kasar! "


"Aakkkhhhh!!! Lepassss!!!!"


"Gue gak akan pernah ninggalin Elang! Apapun resikonya!!!!"


Bugh!


Bulan mendorongnya sampai ia terbentur lemari, ia benar benar kesal sekali karena Angel yang sudah menginjak injak harga dirinya dan menghina fisik Elang apalagi menyuruhnya meninggalkannya. Bulan lalu mendekati Angel, ia belum sadar kalo Elang mematung setelah mendengar ucapan Bulan tadi.


"MINTA MAAF," Ucap Bulan sambil melotot agar Angel takut padanya.


"Minta maaf gak?! Minta maaf! Minta maaf! Cepet minta maaf a*jing!!! Loe gak tau caranya minta maaf hah?! Jangan cuma bisa nangis loe! " Bulan yang mencoba mendongakkan kepala Angel agar menatapnya.


Namun Angel tak mengucapkan sepatah kata apapun, ia terlanjur takut pada Bulan. Theo berusaha memanggil Bulan dan memberitahunya bahwa ada Elang di belakang yang sedang menontonnya.


"Asal loe tau ya? Gue kalo udah dendam, gue bisa bikin loe sekarat! Loe gak tau gue mantan narapidana hah?! Sekalinya orang yang gue sayang terluka, gue gak akan pernah lepasin orang yang udah buat orang yang gue sayang lepas. Gak papa, gue gak papa kalo loe mau lapor gue ke polisi lagi, gue punya banyak cara buat jerumusin loe lagi ke neraka..." Ucapan Bulan itu membuat nya semakin menangis dan ketakutan.


"Cepet minta maaf a*jing! Sebelum gue injek kepala berharga loe itu!!!"


"Bulan, udah cukup. Semuanya udah loe buktiin kok," Sahut Elang yang menarik bulan ke pelukannya.


"Elang...??? Hah?! Elang?!" Bulan Shock melihat Elang.


"Udah cukup ya...? Kita ke UKS, kita obatin luka loe itu," Ajak Elang sambil menyeka darah di pipinya.


Bersambung...