
...Banggalah dengan siapa dirimu dan jangan perduli dengan cara orang lain melihat dirimu"...
...•...
...•...
...•...
...•...
Bulan masih terpatung dan tak bisa berkutik. Ternyata mamanya lebih buaya dari Elang. Ia hanya menanggapi mamah Elang dengan senyumannya.
"Sini yu, makan dulu. Buru... Jangan malu malu," Ajak Zhao pada Bulan dan Chiko.
"Nggak papa teh, kita mau buru buru pulang. Soalnya lusa ada kompetisi di pusat kota, jadi gak bisa lama lama, maap ya teh..." Tolak Chiko dengan lembut, mencoba agar ia bersikap sopan santun pada yang lebih tua.
"Hmm... Hati hati atuh kalo gitu mah. Jangan lupa jaga kesehatan, Chio lagi gak enak badan ya?" Tanya Zhao kemudian.
"Eh?! Nggak kok, Chiko sehat selalu, hahahaha,"
"Yaudah, titip salam ya ke orang tua kalian, jangan lupa di ajak juga kesini, itung itung perkenalan biar lebih deket gitu," Sahut mamah sabil sambil memeluk Bulan.
"I,iya tan... Te..." Jawab Bulan kaku.
"Jangan tante ih, kayak yang masih muda aja, padahal bentar lagi udah mau punya cucu. Mamah aja ya? Biar lebih akrab,"
'Kagak ada kerutan di wajah mu mak... Kalaupun udah punya incu pasti disangka emaknya bukan omahnya...' Batin Bulan tersenyum pasrah.
Akhirnya Chiko dan Bulan pun bisa pulang dari kandang buaya itu. Benar benar! Keluarga Elang tidak ada yang tidak buaya, semuanya selalu menggoda. Walaupun begitu, Bulan senang kok. Ia bisa bertemu dengan keluarga Elang yang sangat ramah itu. Ia pun memeluk Chiko dengan erat melampiaskan kesenangannya. Tapi ada yang aneh, daritadi Chiko terus berdehem dan napasnya terdengar tidak teratur.
"Lho bang? Kenapa? Asma nya kambuh lagi ya? Coba berhenti dulu, biar gue yang nyetir biar langsung ke rumah sakit," Ucap Bulan mulai khawatir, bahaya kalau chiko kambuh sekarang.
"Nggak... Nggak papa... Bentar lagi nyampe... Huuh... Gue tinggal tahan bentar lagi aja... Huuh... Huuh... Huuh..." Chiko yang mencoba mengatur napasnya.
Bulan juga kasihan melihat Chiko begitu, apalagi sekarang ia sedang mengendarai motornya. Bulan pun menyandarkan kepalanya di punggung lebar chiko.
"Maapin gue yang suka nyusahin elu, lu kedinginan ya? Suruh siapa gak pake jaket? Gue sayang kok sama loe, cuma kelakuan laknat loe aja yang buat rasa sayang gue ke tutupin. Jangan kambuh mulu dong, lu mau gue nangis kejer gegara loe lagi?" Ucap Bulan sambil mengusap usap dada Chiko.
Oh iya, Chiko ingat saat asma nya kambuh sedangkan ia juga dalam posisi demam tinggi. Deru napas yang pendek disertakan mengi dan keringat dingin yang bercucuran itu Membuat Bulan ketakutan. Takut ia kehilangan abangnya satu satunya. Chiko pun hanya tersenyum jika mengingat hal itu lagi.
Saat sampai di rumah...
Baru saja dua langkah Chiko berjalan, ia sudah terjatuh tak sadarkan diri. Beruntung ia masih sadar saat mengendarai motor tadi. Bulan segera berteriak memanggil kedua orang tuanya.
"Mamahh... Papah!!! Bang Chio kolaps!" Teriak Bulan mulai panik.
Rendy yang merupakan sepupu mereka kebetulan ada disana dan kuliah di jurusan kedokteran. Tentu saja ia bisa membantu masalah ini. Dengan segera, Ahmad dan rendy membawa Chiko ke dalam rumah dan mulai memasang kan masker oksigen pada Chiko. Bukan hanya asmanya yang kambuh, ternyata Chiko juga terkena demam karena kelelahan. Chiko tertidur sesaat, wajahnya pucat dan bibir merahnya yang kering di balik masker oksigen itu.
"Aduuhh... Harusnya tante nyuruh Rendy aja buat jemput Lily," Monolog Rendy sambil memijat batang hidungnya.
"Huufft... Salah om juga yang gak terlalu merhatiin Chio." Sahut Ahmad merasa bersalah.
"Akhir akhir ini chiko ngeluh terus tuh, katanya sering kambuh. Tapi masih bisa di tanganin. Makannya gak bilang ke om sama tante, takut ngerepotin katanya," Ucap Rendy sambil menyalakan sebatang rokok.
Bulan masih di dalam kamar Chiko. Ia mengompreskan sapu tangan dan menempelkannya ke kening Chiko. Ia masih saja belum sadar, sepertinya memang setelah itu.
"Anjir, tau gitu gue pulang sendiri, Kebiasaan elu ya, gak pernah bilang kalo bengek tuh," Gumam Bulan mulai berceloteh.
"Gak ngerasa bersalah gitu? Gue sedih sekali nih, gue mau nanges. Gak kuad kalo liat loe kayak gini," Lanjut bulan mulai menitikkan air matanya.
Ia mulai menangis sambil terus menyeka agar tidak menangis lagi. Bulan tetaplah bulan, yang selalu menangis jika melihat orang kesayangannya tidak berdaya, bukan berarti ia tidak bisa Menangis. Ia adalah manusia paling cengeng, dan mudah sakit hati.
Bulan menangis cukup lama sampai sesenggukkan karenanya. Chiko yang semula tenang pun mengernyitkan dahinya. Ia mencoba membuka mata cokelat nya pelan pelan. Ia melihat ke langit langit kamarnya dan menyadari seseorang yang terus menggenggam tangannya.
Ia mencoba melirik orang yang menangis itu, dengan kaku akhirnya ia bisa melihat adik kecilnya yang cengeng itu. Bulan belum sadar kalau sekarang Chiko sedang memperhatikannya.
"Huhuhu... Chio... Huhuhu..."
'Dih! Lebay amat ni anak, bodo ah. Mending turu lagi,' Batin Chiko sambil memejamkan matanya lagi.
"Chioooooo!!! Bangun bego! Anjir teh ah! Huhuhu..."
'Kok di biarin malah makin kek macan??? Mana dada gue masih sakit lagi, lu malah berisik,' Batin Chiko ingin mengatakan hal itu, namun tercekat karena ia belum bisa berbicara banyak.
"Syuuut.... Jangan berisik... Ini gua... Nih..." Ucap Chiko dari balik masker oksigennya.
"Eh?! Hiks, chikooooo...." Akhirnya Bulan memeluk Chiko sampai dadanya sakit lagi.
"Huuh... Huuh... Turun... Engap nih," Pinta Chiko lirih, bulan pun membelalakkan matanya kaget. Ia pun langsung melepas pelukannya.
"Bentar! Manggil bang rendy dulu," Kata Bulan sambil pergi meninggalkan Chiko.
Chiko hanya mengangguk pelan, ia pun menatap langit langit kamarnya lagi.
'Pake ini lagi... Padahal benda ini yang paling gua hindar...' Batin Chiko pasrah.
Chiko pun mencoba menggapai masker oksigennya guna melepasnya. Walaupun masih lemas, tangannya hampir saja menggapai itu, namun tertahan saat rendy melihat Chiko yang nekat membuka masker oksigennya.
"Eits! Mau ngapain??? Mau gua rante-in tangan lu biar diem?" Ancam Rendy sambil tersenyum licik.
"Hhh... Sikopet... Emang..." Ketus Chiko pelan.
Rendy mulai membuka dua kancing baju Chiko dan menempelkan stetoskop guna memeriksa tubuh Chiko.
"Gimana perasaan loe sekarang? Masih bengek gak?" Tanya Rendy dan diberi anggukan pelan oleh Chiko yang fokus menatap tangan rendy yang sedang memeriksa tubuhnya.
"Kalo gitu masker oksigennya jangan dulu di lepas ye, kecuali kalo loe mau ke wc dan minum. Asma lu udah parah cil, jadi... Berhenti ngelakuin aktifitas yang berat ya? Dengerin! Jangan masuk telinga kanan keluar telinga kiri," Ucap Rendy menasehati.
Chiko hanya mengangguk pasrah. Kali ini ia malas beradu mulut dengan Rendy, biasanya ia selalu menentang omongan rendy jika selalu bicara mengenai kesehatannya. Namun benar, semua yang di ucapkan Rendy memang terjadi. Buktinya Chiko jadi sering kelelahan, detak jantungnya selalu tidak terkontrol dan selalu merasa pusing.
'Padahal gua serius mau cerita tentang Elang ke Bulan, harus gua tunda sampe gua sembuh,' Batin Chiko sambil menggerakkan tubuhnya, mengubah posisinya menghadap ke kanan. Chiko kembali tidur guna meng- istirahat kan tubuhnya yang rapuh itu.
Bersambung....