
Quotes hari ini:
...Percayalah ketika kamu terlalu berharap dengan sesuatu hal ,sebenarnya kamu sedang mempersiapkan diri untuk 'kecewa'...
..."Kevin"...
...
...
...Setelah selang beberapa hari dan kondisi Elang pun membaik, Zhao menceritakan apa yang terjadi pada seluruh pacar Elang saat Elang memutuskannya. Tentu saja cerita itu mengundang gelak tawa dari Elang dan kedua temannya....
..."Hahahaha, asli Elang ngomong gitu kak?" Tanya Vino tak percaya....
..."Iya! Dia ngomong gitu, kirain kakak dia nyadar ngomong gitu, tau nya nggak," Jawab Zhao sambil menepuk pelan kepala Elang....
"Teh udah atuh, jangan di bahas, serasa berdosa gara gara maenin hati para zamet," Sahut Elang yang kembali membuat teman temannya terbahak bahak.
"Ampun dah... Sekarang gimana lang? Udah mendingan?" Tanya Chiko padanya.
"Alhamdulillah sih... Gua ge gak nyangka abis turun dari mobil malah nge (mic) drop:v kayaknya sih... Gara gara gak liat bulan lagi," Jawab Elang tak henti hentinya buchin si Bulan.
Dan Vino hanya bengong meratapi se Elang yang terus terusan mikirin si Bulan.
"Ya wajar sih... Si Bulan kan Cantik, tadinya juga mau sama gue duluan sebelum elu, tapi gua ngalah... Demi bochil ini," Ucap vino julid dan tentu saja mengundang kesal si Elang.
"Eeehh... Yang bochil tuh elo! Bukan gua," Jawab Elang lagi.
"Hahahaha, dasar kalian... Yaudah, kakak tinggal dulu ya, nitip Elang,"
"Oke kak," Jawab keduanya kompak.
"Oh iya, ngomong ngomong, si vivink sama theo mana?" Tanya Elang yang baru menyadari kedua temannya lagi tidak ada.
"Kevin katanya gak enak badan, makannya gak kesini, kalo si tetew...
Chiko pun melirik sesuatu di ambang pintu, menunjukkan bahwa theo ada disana.
Diikuti lirikkan vino, Elang juga ikut melirik dan ternyata, theo sedang memainkan kucing kesayangan Elang.
Theo pun ikut melirik kepada tiga kawannya itu dengan wajah yang memerah.
"Mmm... K,kucingnya l,lucu," Kata theo mengungkapkan kenapa dia begitu memerah.
"Hahahaha... Jadi loe daritadi tuh ngorek kucing??? Dikira mau jenguk gua..." Jawab Elang kembali tertawa.
"Lah? Gua baru tau theo suka kucing, wajah sangar loe nutupin loe buat suka sama hal yang lucu kek gitu," sahut Vino juga.
Mereka pun kembali tertawa, para kucing itu tidak di izinkan masuk ke kamar Elang karena Elang alergi bulu kucing.
......Salah satu kucing Elang bernama Neko lari menghampiri Elang. Tentu saja si Neko ini paham bahwa tuannya alergi bulu kucing, makannya si Neko ini naik ke kasur yang berada sedikit jauh dari Elang. Neko memasang wajah khawatir, serta menurunkan telinganya pertanda ia sangat sedih.......
..."Ulululuh Neko... Sini sini," kata Elang geram, ia hendak meraih Neko, namun tangannya di tepis chiko....
"Jangan! Loe mau bersin bersin?"
"Gak papa lah, sekali doang kok, gua kan sayang sama Neko," Akhirnya tangan Elang menyentuh bulu lembut Neko dan mengelusnya, walaupun jaraknya agak berjauhan tapi elang tetap berusaha meraih Neko.
"Loe khawatir ya sama gua? Tenang aja kok, gua udah baik baik aja, makasih udah khawatirin gua neko,^^"
'Kucing... Aja dimanjain,' Batin Chiko hanya tersenyum.
Setelah berlama lama di rumah Elang, mereka pun pamit izin pulang karena waktu sudah sore.
"Lang, gua mau kucingnya satu," Ucap Theo datar, seperti biasa.
"Lah? Nggak boleh ah, punya gua," Tolak Elang mentah mentah, jangan sampai kucingnya dibawa orang.
"Satu aja Lang, gak akan rugi, lagipun nanti kucingnya beranak lagi kan?" Paksa theo memohon untuk mengambil satu kucing Elang.
"Haha, sebegitunya loe suka kucing? Yaudah, bawa yang paling kecil, biar nanti gedenya tau kalo loe tuannya,"
"Hah? Hm... Makasih," Ucap Theo sembari tersenyum, membuat Chiko dan Vino bengong. Theo senyum?
Benar benar sulit dipercaya, pikir mereka.
"Yoi, apa sih yang nggak buat bestot? Kecuali Bulan, itu milik gua, okay?"
Akhirnya mereka pun pulang. Elang benar benar senang hari itu, bukan tanpa alasan, dia akhirnya mendapatkan nomor Bulan setelah 15 menit membujuk Chiko. Chiko bukannya tidak mau memberikannya nomor Bulan, namun ia hanya mengetes Elang, benar apa tidak kalau Elang mencintai bulan.
"Sekarang, apa yang harus gua lakuin? Neko, gua mesti apa? Nelpon? Nge chat? Atau... Vidcall?" Tanya Elang pada Neko yang duduk di kursi.
"Bener! Ketemuan! Hahaha, kamu pinter banget sih ko..."
Elang yang kini bertenaga itu pun menggerakkan jari jarinya untuk mengetik pesan kepada Bulan.
TING.
Baru saja menekan kontak bulan, Bulan mengiriminya pesan duluan. Membuat si Elang terjatuh dari kasur karena kaget.
Bulan cantekš: "Wei, gimana kabar loe?" [16.21]
"Wedeh?! Kenapa si cantik bulan ngechat duluan?" Gumam Elang memerah karena senang.
"Duh... Gua mesti apa ini?"
Anda: "Eh? Siapa niih...? Gua baik kok, makasih^^ [16.27]
TING!
Bulan cantekš: Bacot Lu, jangan pura pura gak tau [16.28]
Gue Bulanš” [16.28]
Elang tertawa sendiri melihat emoji Bulan, sepertinya ia kesal pada Elang. Dari sana lah, mereka mulai membalas pesan satu sama lain.
Tidak terasa, adzan maghrib berkumandang, Elang segera bangkit untuk pergi ke kamar mandi dan mengambil wudhu lalu menunaikan shalat.
Setelah selesai shalat, Zhao masuk ke kamarnya dan kembali memeriksa suhu tubuh Elang.
"Hmm... Normal," Gumam Zhao pelan.
"Kenapa?"
"Hehe, jalan jalan yuk dek, refreshing lah, abis sakit. Disana ada pasar malem, kesana aja," Ajak zhao sambil merangkul Elang.
"Hm? Bukan refreshing kali, lu mah sengaja ngajak gua biar pura pura jadi pacar loe kan? Hmm... Udah tau gua mah," Jawab Elang yang menduga.
"Eh? Nggak gitu... Hubungan gue sama Langit masih baik baik aja, Mmm... Ada temen gue, kayaknya tertarik sih sama elu, gegara gue nunjukkin foto lu ke mereka," Ucap zhao malu, membuat Elang tak habis pikir apa yang dikakukan Kakak laknatnya itu.
"Ngapain...? Ya allah... Tega ya ngejual adek sendiri,"
"Eh? Gak gitu ih, p,pokoknya siap siap aja, gue udah minta izin ke mamah, yang kece yang ganteng ya, jangan kayak gelandangan, malu soalnya,"
"Nah ini nih, definisi kakak laknat tuh emang beneran ada," Jawab Elang dan dibalas tawaan si kakak.
Maka tepat pada jam 8, Elang mulai menuruni anak tangga nya pelan pelan. Suara hentakkan kakinya membuat bapak, mamah, dan bapak melirik padanya.
"Lah? Kok pada Melong?"
"Ini... Beneran anak mamah?" Tanya mamah tak percaya.
Elang pun hanya tersenyum melihat mamanya yang memerah. Mamah sendiri saja selalu tersipu jika melihat Elang berpakaian rapi.
"Iya dong, masa anak orang," Jawab Elang yang pede.
"Ganteng ya?" Lanjut Elang meyakinkan si mamah.
"Yah ... Namanya juga produksi china, mana mungkin gagal," Zhao yang menyaut dari belakang.
"Awas teh, jaga adek kamu, jangan sampe dia nge-embat anak orang lagi, kasian anak orang," Ucap mamah mengingatkan sang kakak.
"Sekarang Elang udah tobat mom, udah fiks mau sama Bulan," Jawab Elang serius.
"Really? Yesterday, approximately 10 people came to the house, who called the house number approximately 26 times, how are you El?" Ujar ci bapak yang ikutan julid.
"Ehehehehe... Beneran kok mah,pak, Elang sekarang bakal tobat dan pasti istri Elang bakal cuma satu,"
"Yaudah, kalo gitu, zhao sama Elang pamit dulu ya...? Dadah... Assalamualaikum,"
"Waalaikumussalam,"
Zhao dan Elang pun pergi berjalan kaki agar bisa melihat suasana indahnya malam hari, tentu saja mereka menjadi pusat perhatian karena mereka mencolok, seperti Idol.
Penampilan Elang dan Zhao ketika mau pergi ke taman bermain.
...
...