Erlangga Aileen Satria

Erlangga Aileen Satria
Chapter 13



...When Elang said:...


..."Daun selalu berteman dengan angin Dari situ munculah kepercayaan,sama sepertimu aku selalu percaya bahwa kau akan tulus mencintaiku....


...Tapi pada akhirnya,,...


...Angin itu sendiri yang membuat daun² itu gugur.dan kau sendiri yang membuat ku tersakiti......


...Namun,setelah kuambil sisi positifnya....


...Bahwa bukan angin yang menggugurkan daun melainkan musim gugur.begitu pula yang menyakiti ku bukan lah kamu melainkan harapan yang terlalu besar untuk mencintaimu,"...


...-Erlangga-...



...Setelah beberapa minggu dari itu......


...Bulan dan Elang mulai dekat setelah kejadian itu, dimana Elang sakit dan selalu ditemani Bulan. ...


...Bulan pun mulai merasa nyaman bersama Elang, ia selalu diantar olehnya setiap kali hendak pergi ke mana mana, sampai saat ini....


"Bulaaannn!!!" Panggil Elang sambil melambaikan tangannya.


"Ck, berisik! Kita lagi di jalan woy!"


"Hehehe, abis gua semangat banget mau jalan jalan bareng loe Lan," Jawab Elang cengengesan.


"Gitu? Yaudah, langsung aja ke perpustakaan, gue juga kudu ngambil beberapa buku buat materi ujian," Ucap Bulan sambil merapihkan rambutnya.


"Hm, Hari ini loe keliatan lebih cantik, lebih bersinar gitu," Ujar Elang membuat Bulan kembali salting.


"Buta loe, tiap hari juga kayak gini,"


"Gua udah sering diejek sama loe, tapi gua tetep suka kok sama loe, gua gak akan lepasin loe, karna gua ini lelaki tangguh! Huh! Sampe kapanpun gua bakal naklukkin loeeee!!!" Elang yang kembali bertekad, membuat bulan tersenyum kecil.


Sampailah mereka di perpustakaan dan memilihkan beberapa buku untuk mereka baca.


Si juara umum ini hanya memilihkan beberapa buku, dan bukan buku pelajaran, melainkan novel romance karya moonbbyul.


Tentu saja bulan iri padanya, ia hanya menjadi peringkat ke dua karena belum bisa mengalahkan Abyral yang adalah peringkat satu.


'Iri anjay... Dia bisa enak enakkan baca novel. Novel apa yang dibaca si El?' Batin Bulan penasaran.


"Eh? Lan, kalo gak ada yang paham, loe boleh tanya gua kok," Ucap Elang menawarkan.


"Ya, gue bakal tanyain ke elu,", Jawab Bulan, akhirnya ia pun punya ide untuk mengganggu Elang yang sedang baca novel itu.


"Eh Lang, Gue gak paham bagian ini, ini, terus yang ini, yang ini juga, terus yang itu... Dan...


"Bilang aja satu buku elo gak paham...^^" Elang yang tersenyum saat memotong omongan bulan.


Bulan kembali terdiam dan malu, Elang pun menghampiri Bulan dan mulai mengajarkannya. Bulan malah tidak jadi fokus karena terlalu dekat.


'Deket banget... Sampe sampe deru napasnya kerasa...' Batin Bulan mematung.


'Wangi...' Batin Bulan lagi.


TAK!


"Awh!"


"Fokus dong, kenapa tutup mata?" Tanya Elang garang.


"Iya iya, gue fokus nieh," Jawab Bulan sambil mengelus dahinya yang di centang Elang tadi.


Sekarang Bulan sadar, metode pembelajaran Elang membuatnya nyaman dan mudah dimengerti, namun yang membuatnya kaget adalah, Elang yang menjadi galak layaknya dosen yang mengajari muridnya.


Sekarang ia menyesal mengganggu Elang, tapi ia juga sangat berterimakasih karena Elang sudah mau mengajarinya pelajaran yang tidak ia mengerti.


Tidak terasa, jam menunjukkan pukul 13.00, mereka pun akhirnya keluar dari perpustakaan. Tentu saja sikap Elang kembali seperti semula, is juga meminjam novel yang tadi belum sempat ia baca.


"Novel apa sih? Kayaknya serius amat, sampe di pinjem," Tanya Bulan penasaran.


"Ooh... Ini? Novelnya judulnya 'Hutan Kelam', karya Moonbbyul, kesukaan gua," Jawab Elang sambil menunjukkan Cover bukunya.


"Hah?! Seriusan moonbbyul?! Waah... Penulis favorite gue itu, gue gak tau moonbbyul udah ngerilis buku baru," Ucap Bulan senang.


"Beneran? Sama dong, wah... Beneran sih, kita satu hati...


TRIRING... TRIRING...


Ponsel Elang berdering, menandakan telpon masuk. Elang pun meminta izin untuk mengangkat telponnya.


Lalu setelah selesai menelpon, Elang meminta maaf kepada Bulan karena ia tidak bisa memgantarnya pulang, Ternyata, adit tertabrak mobil. Makannya Elang sangat pucat.


Tentu saja Bulan tidak bisa menahannya, karena ia adalah adik kandung Elang. Elang pun segera menaiki taksi dan pergi.


"Huuufftt... Pulang aja lah, Elang kan udah pergi," Gumam Bulan sambil melanjutkan langkahnya.


Saat ia melangkahkan kakinya, ia melihat seseorang yang sangat dikenali Bulan, yaitu Abyral. Tentu saja Bulan senang, namun melihat ekspresinya, sepertinya Abyral murung.


"Aby!" Panggil Bulan sambil melambaikan tangannya.


"Hah?! B,bulan?!" Kata Abyral kaget.


"Aby, kenapa loe? Wajah loe merah banget, loe, loe sakit?" Tanya Bulan Khawatir.


"Hiks,"


"Eh?"


PLUK...


Secara tidak sadar, abyral memeluk Bulan ditengah meramaian di jalanan. Tentu saja Bulan kaget, namun apa yang harus dia lakukan?


Orang orang yang lalu lalang di sana mulai bisik bisik membicarakan Bulan dan Abyral.


"Duh... Pada Ba*gsat nih, orang orang. Gua harus gimana?" Gumam Bulan bingung.


"Dek... Udah ya dek... Jangan nangis... Jangan nangis disini ya dek... Duh... Orang orang pada nge bacot soalnya..." Ucap Bulan sambil menatap tajam orang orang di sekitarnya.


Abyral pun akhirnya menurut dan ikut Bulan, ia menggengggam tangan Bulan seolah tidak ingin dilepaskan.


Sampailah mereka di sebuah Caffe.


"Udah by... Tenangin diri loe... Jangan nangis... Masa lakik nangis sih?" Tanya Bulan, jantungnya berdebar kencang saat ia menatap abyral.


"Huuuh... Makasih ya Lan, maap tadi gua tiba tiba meluk loe, gue refleks, kalo liat orang yang dikenal dan gue lagi sedih suka meluk," Jawab Abyral malu.


"Gak papa kok gak papa,"


'Malah Gue seneng, he he he,' Batin Bulan.


"Sebenernya... Ini praktek operasi pertama gue. Papah yang ngajarin, lewat mayat yang baru aja meninggal, dan gua... Gagal..."


"Lah? Kok gagal sih? Kan itu mayat, jadi gak usah merasa bersalah kali,"


"Bukan gitu masalahnya Lan... Uukkh... Gua... Gus gak bisa jait!!!"


NGUEEENGG...


Caffe seketika hening sesaat. Termasuk Bulan yang ingin tertawa saat mendengar hal itu dari abyral, tapi ia kasian juga.


"Maksudnya...? Loe... Gak bisa jait mayatnya?" Tanya Bulan dan di beri anggukkan oleh Abyral.


'Kiyowo... Kayak anak kucing...' Batin Bulan ingin mencubit pipi Abyral.


"Hmm... Padahal cuma gak bisa jait tapi loe kecewa sampe kayak gini ya? Kagum deh gue... Kirain kenapa," Ucap Bulan sambil menyeruput Kopinya.


"Mau jalan jalan?" Tanya Abyral yang membuat Bulan kaget.


"eh?"


"Gue, mau ngebales kebaikan loe yang udah mau jadi sandaran gue. Ah, kalo gak mau gak papa...


"Mau! Gue mau banget!!!" Jawab Bulan bersemangat, membuat Abyral tertawa.


Mereka pun berjalan jalan menyusuri jalanan yang ramai, seperti tadi saat bersama Elang. Mereka pergi ke museum milik moonbbyul tentang perjalanannya sebagai seorang penulis. Abyral pun mengangguk setuju.


"Silahkan dicoba bagaimana rasanya hidup di kerajaan!!! Tiket dengan harga 15 ribu saja!!!"


"Aby! Mau kesana?" Tawar Bulan.


"Yuk," Jawab Abyral.


Saat melihat pintu lift terbuka, Abyral sempat terkejut karena lift itu gelap dan sempit, ia sempat bengong tak mau masuk.


"Kenapa? Yuk masuk," Ajak Bulan terus mendesaknya masuk.


"O,oh iya..."


Mereka pun akhirnya berada di dalam lift, selama disana, Abyral terus memejamkan matanya dan terus memegang dadanya.


'Gak papa... Gak papa... Ini gak bakal lama, bentar lagi loe keluar dari lift aby,' Batin Abyral supaya ia tetap tenang.


DRRRKKK!!!


DUGH!


"Aaaahhhh!!!"


Terjadi kerusakan di dalam lift, sedangkan Abyral dan Bulan belum sampai di lantai selanjutnya.


"Aduuh... Gimana dong? Tolong! Siapa aja yang diluar tolongin!!!" Teriak Bulan bingung.


"Haaah... Udah gue duga... Pasti kayak gini," Gumam Abyral sambil memegang dagunya.


"Eh?"


"Liftnya rusak, dan kita bakal kejebak disini, males banget. Tapi... Loe gak terluka kan? Sakit gak?" Tanya Abyral kemudian.


"G,gak papa kok, loe, loe juga gak luka kan?"


"Iya, gue gak papa kok," Jawab Abyral tersenyum.


Kemudian keadaan menjadi hening...


Bulan memang senang berada di dekat Abyral, namun... Mengapa Abyral hanya diam saja?


Bulan yang penasaran, sedikit sedikit melirik Abyral, Ia tampak tengah memukul mukul dadanya pelan, ada apa?


"huuuh..."


"Aby, Loe gak papa??? Wajah loe pucet banget anjir! Loe sakit???" Tanya Bulan panik.


"Bentar... Hosh... Hosh... Hosh... Gak papa kok... Hosh... Hosh... Hosh... Ini... Biasa terjadi sama gua... Hosh... Hosh... Hosh..." Jawab Abyral terbata bata sambil sesekali memukul dadanya.


"Loe asthma??? Bawa inhaler gak?" Tanya Bulan lagi.


"Bukan... Hosh... Hosh... Hosh... uukkkhhh!!!"


'Gua gak bisa kontrol! Engap banget,' Batin Abyral terus memukul dadanya.


Bulan kebingungan harus bagaimana, Abyral juga tidak memberitahu penyakit apa yang dideritanya, dan... Kenapa harus saat bersama Bulan???


TING!


'Jangan jangan, Abyral phobia gelap?! Liat keadaannya, dia gak mungkin bisa ngomong lagi, duh... Gua takut dia kenapa napa,'


Bulan pun mulai mendekati Aby yang mulai lemas, ia sebenarnya canggung jika seperti itu, tapi bagaimana lagi?


"Aby, Gua minta maap, tapi ini demi kebaikan loe juga,"


Bulan pun menutup mulut Aby dan menyuruhnya untuk bernapas pelan pelan, tangan kanannya terus mengelus bahu Aby agar ia tenang. Aby agak terkejut melihat hal itu, namun ia tetap mengikuti arahan dari Bulan. Saat keadaannya mulai tenang, barulah pintu lift terbuka. Tentu saja Bulan marah marah karena mereka lama membukakan liftnya.


"Makasih lan, loe udah mau marah demi gua," Ucap Abyral malu.


'Imut banget...' Batin Bulan gemes.


"Gak papa kok, justru gue yang harus minta maap, harusnya gue tau loe ada phobia gelap, tapi malah ngajak loe masuk kesana, ujung ujungnya gak jadi karena liftnya rusak, Sorry ya..." Ujar Bulan sambil menunduk bersalah.


"hahaha, gak papa kok. Justru... Keadaan gua jadi baikan pas loe ajak gua jalan jalan, makasih lho. Ngomong ngomong, Lu tau darimana trik yang tadi?" Tanya Abyral penasaran.


"Oooh... Waktu Chiko lagi kambuh asmanya di tengah malem, kebetulan inhalernya abis, dia kan kalo asma nya kambuh suka nge reog tuh, maksudnya... Gak bisa diem karena emang sakit katanya, Mamah ngelakuin hal itu, dan emang berhasil sih, walaupun cuma meringankan, gak sepenuhnya berhenti, tapi tetep aja abis itu dia harus ke rumah sakit, makannya, gue cobain trik nya ke aby, cocok apa enggak, justru berhasil, hahahaha,"


Abyral senang melihat Bulan tertawa, kini ia menatap langit senja dan merasa nyaman bersama Bulan.