
gimana pun juga... Kami minta maaf, sebab, tulang keringnya mengalami keretakan yang lumayan fatal, selain itu, sternum yang menjaga organ dalam tubuhnya juga patah, sehingga ia hampir kehilangan nyawanya karena sternum itu hampir menusuk jantung dan paru paru nya, saat ini adit kritis..." Jelas dokter Rion, ia tidak menyebutkan hal lain, maka selebihnya, ia akan berbicara dengan Zhao saja, karena Zhao yang bisa mengerti penjelasannya.
"Tapi untung saja Adit cepat mendapatkan donor darahnya, tadi... Kami sempat khawatir karena walinya tidak ada yang bisa mendonorkan karena kondisi kesehatannya masing masing,"
"Jadi? Siapa yang ngedonorin darahnya?" Tanya Elang penasaran.
"Hmm... Kamu boleh liat sendiri disana, kami belum mulai karena adit belum dipindahkan,Kalo begitu, saya mau izin pamit karena harus segera memindahkan Adit ke ruang ICU,"
"Makasih dok," Ucap Elang sambil membungkuk.
Adit pun dikeluarkan dari ruang operasi, malang sekali, beberapa luka yang ada di wajahnya membuat Elang tambah sedih, apalagi ditambah beberapa alat medis yang terpasang di tubuhnya. Hal itu membuat Elang tambah kesal, namun ia tak bisa berbuat banyak dan tak bisa bertindak sendirian.
Di sisi lain...
Zhao penasaran dengan siapa orang yang mendonorkan darahnya untuk Adit, makannya ia berjalan menuju ruang ITD. Zhao terkejut saat melihat ia melihat pendonor itu adalah Kevin, anak Dr. Rion sendiri, ia sedang melamun.
"Kevin?" Kaget Zhao kaget.
"Eh?! Kak Zhao?" Tanya Kevin lebih terkejut, ia pun kembali tertunduk.
"Hmm... Bukannya kamu lagi sakit ya? Kenapa donorin darah?" Tanya Zhao kemudian sambil menghampiri kevin.
"Oh? Nggak kak, maksud kevin kemarin tuh, kevin lagi ngurusin yang sakit, dan... Lagipun ... Stock darah nya yang segolongan sama adit abis, jadi yang cocok cuma Kevin. " Jawab Kevin sambil tersenyum.
"Ooh... Gitu ya?"
"Iya..." Jawab Kevin lagi.
Keheningan pun terjadi, karena kecanggungan di antara keduanya. Zhao segera menepuk bahu kevin sambil tertawa.
"Jangan canggung gitu ah, gak usah canggung ke kak Zhao mah..." Ucap Zhao cengengesan.
"Hmm... Maap... Kak Zhao jadi canggung gara gara saya kan? Gara gara saya nyatain perasaan saya waktu itu?" Kevin yang tiba tiba menunduk.
"Eh?! B,bukan gitu... Waktu itu kak Zhao...
"Haha, gak papa kok kak, sekarang perasaan saya jadi lebih baik kalo udah disampein. Makasih^^" Ucap Kevin sembari tersenyum lagi.
Zhao pun tertunduk merasa bersalah.
Kevin adalah tetangga Elang yang adalah seorang anak pindahan saat usianya 6 tahun, sedangkan Zhao pada saat itu berusia 12 tahun.
Kevin bisa mengenal Elang karena pada saat itu, kevin sedang membantu orang tuanya mengangkut barang dari luar ke rumah barunya. Kevin anak pindahan dari jakarta itu melihat seorang anak yang sedang meringkuk di dalam rumahnya. Apa yang dilakukan anak itu? Pikir Kevin saat itu.
Ia meletakan kardus dan mencoba melihat situasi di dalam rumah Elang. Saat itu wajah Elang merah karena bintik bintik, ia menangis di dalam sana. Dengan segera, kevin menarik tangan ibunya dengan wajah khawatir.
"Ibu, ibu! Ada olang kesakitan disana! Kita halus tolong!" Seru Kevin sambil menunjuk rumah elang, saat itu kevin masih cadel.
"Eeh? Dimana?" Tanya Ibunya sambil melihat rumah yang ditunjuk Kevin.
"Disana ibu... Hayu tolongin, kasian..."
"Gak papa bu, kita titip salam aja sama tetangga, hayu masuk," Ajak Kevin sambil menarik tangan ibunya.
Kevin pun menarik tangan ibunya untuk masuk ke rumah Elang. Terlihat Elang yang sedang meringis kesakitan sambil memegang dadanya dan terus menangis.
"Huaaa... Sakit... Sakit banget... Huuuhuhu..."
Ibu Kevin yang tidak tega itu mulai merasa kasihan dan menghampiri Elang, di sekitarnya banyak sekali kucing yang mengeluskan kepalanya ke kaki Elang.
"Nak... Ikut ibu yuk, kita ke rumah sakit," Ajak Ibu Kevin dengan lembut.
"Hah?! Hosh! Hosh! Hosh! Nggak! Elang gak akan ikut... Hosh... Hosh... Hiks, mamah...!!! Elang takut... Hosh hosh... Ada tante cantik yang mau nyulik aku... Hosh... Hosh... Mamah... Elang sakit... Jantung Elang kayak mau meledak... Hosh... Hosh..." Elang yang malah semakin menangis karena takut di culik.
"Ibu, bawa aja bu, kasian..." Pinta Kevin dengan wajah memelas.
"Yaudah, nak, kamu tenang ya, kamu lagi sakit, jadi ibu mau bawa kamu ke rumah sakit, ibu bukan penculik kok, ya?"
Akhirnya, tanpa pikir panjang, Ibu kevin segera membawa Elang ke rumah sakit. Tidak lupa mereka menitipkan salam pada tetangga bahwa mereka membawa elang ke rumah sakit. Dinyatakan bahwa Elang alergi terhadap bulu kucing dan hampir berakibat fatal bila di biarkan, dan jantung yang hampir meledak itu bukanlah masalah serius, karena Elang terlalu panik sehingga bilang begitu. Kini Elang tertidur pulas, dan datanglah keluarga Elang dengan wajah khawatir.
"Tenang aja bu, putra ibu gak papa kok, dia cuma terkena alergi, ya cuma... Agak parah aja soalnya tadi kita telat bawa putra ibu ke rumah sakit." Ucap Ibu Kevin ramah.
"Gitu ya? Elang alergi apa bu?" Tanya Zhao yang penasaran.
"Katanya... Elang alergi bulu kucing, Soalnya... Diliat liat juga banyak kucing di rumah ibu,"
"Ya allah, tuh kan, ibu bilang apa nak? Kamu minta kucing terus, taunya kan jadi beranak banyak," Ucap Mamah yang mencubit pipi Elang.
"Elang gak tau mah... Elang kan suka banget sama kucing, Elang gak tau kalo elang alergi kucing," Jawab Elang tertunduk takut.
"Haaah ... Kucingnya mamah buang ya?"
"Jangan! Huuu... Jangan dong... Sayang kalo di buang... Biarin aja suruh dirumah... Elang kan udah ngebesarin mereka..." Jawab Elang yang membuat mamah gemas.
"Yaudah, tapi satu! Gak boleh nyentuh kucing lagi, cuma boleh liat dari jauh, kedua, jangan mungut kucing lagi, ketiga... Kalo keliatan megang kucing lagi, apalagi sampe di peluk cium, mamah buang semuanya ke pasar!" Ancam Mamah tegas.
"Huaaaaa.... Kucing nya kan mahal... Jangan dibuang ke pasar mamah..."
Kevin dan Zhao hanya tertawa menanggapi elang yang menangis lagi. Zhao pun mengelus kepala Kevin dan mengucapkan terimakasih karena telah menolong Elang. Tentu saja Kevin melongo saat melihat Zhao yang putih dan cantik itu tersenyum. Kevin pun menyatakan kalau dirinya Cinta pada pandangan pertama, padahal ia masih kecil:v
Zhao menawarkan kepada kevin untuk ikut bersamanya membeli es krim. Ia pun meraih tangan kevin dan menggenggam tangannya.
Zhao hanya menganggap kevin sebagai adik kecil saja, tidak lebih. Bahkan sampai besar pun, ia memang nyaman bersama Kevin sebagaiĀ teman adik yang paling dekat. Sampai suatu hari, di hari yang cerah...
Di umurnya yang ke 17 tahun, ia menyatakan perasaannya pada Zhao.
...
...