
Ketika sebuah kata menjadi sebuah pedang yang teramat tajam.
⚡⚡⚡
Tidak ada perbincangan lain yang mereka bicarakan, mereka pun hanya sibuk menikmati makan malam ini. Tapi hati orang mana ada yang tahu.
Akhirnya mereka pun menyelesaikan makanan mereka dan kembali ke dalam mobil.
"Aku tidak suka melihatmu dengannya" ucap Li secara tiba-tiba.
Yang ditanya pun langsung menoleh ke arahnya.
"Apa maksudmu?" tanya Hanna
"Kurang jelas apa maksudku, kamu sudah lupa apa yang telah diperbuatnya padamu?" jawabnya Li yang sedikit emosi menanggapi pertanyaan Hanna, terlihat dari raut wajahnya.
"Aku sudah melupakan itu Li, aku harap kamu tidak mengungkit hal itu kembali, aku pun baru bertemu dengannya baru kali ini" jelasnya pada Li.
Tak terasa rasanya pelupuk mata Hanna sudah dipenuhi air yang siap jatuh kapan saja. Jujur Hanna kecewa dengan sikap Li padahal dulu dia yang mengingatkan Hanna untuk melupakan dendam tetapi kenapa sekarang dia sendiri yang mengingatkannya.
Hanna pun merasa suasana di dalam mobil ini sudah panas.
"Maaf bukan maksudku seperti itu hanya saja aku masih tidak terima kalau mengingat kelakuannya dahulu, apalagi melihatnya yang sekarang, bisa saja kamu terpikat olehnya" racau Li yang tiba-tiba mengatakan hal memalukan seperti itu dan seketika itu juga dia tersadar apa yang sudah dikatakannya.
" apa aku sudah gila mengatakan itu " batin Li
Hanna yang mendengar racauan Li pun hanya tersenyum kenapa orang itu bisa berkata seperti ini.
Akhirnya setelah percakapan panjang itu merekapun tiba di rumah Hanna.
"Kamu mau mampir dulu sepertinya kak Brian sudah di rumah" ajak Hanna. Dia berani mengajak Li karena saat ini berarti dia tidak sendiri melainkan ada sang kakak di rumahnya, Hanna pun merasa tidak enak dengan Li yang sudah jauh-jauh menjemputnya hanya untuk mengantarnya pulang.
"Tidak usah kamu langsung istirahat saja, aku akan langsung pulang" jawab Li dan seketika itu juga dia kembali melajukan mobilnya.
Setelah mobil Li sudah melewati perkarangan rumahnya, dia pun segera masuk ke dalam rumah ternyata Brian sedang memperhatikan mereka.
"Kenapa kamu tidak mengajaknya masuk terlebih dahulu?" tanya Brian padanya.
"Katanya dia mau langsung pulang" jawab Hanna sambil membereskan sepatu yang baru saja dipakainya.
"Sudah sejauh mana hubunganmu dengan Li, sepertinya dia tidak terlalu senang saat melihat Dika mendekatimu?" tanya Brian kembali dan kali ini Hanna menoleh ke arah sang kakak.
"Kakak tadi melihatnya? aku pikir kakak hanya asik makan bersama dengan kak Hans, hubungan kami tidak lebih dari sahabat" jawab Hanna kali ini.
"Memang dasar adik tidak tahu sopan santun, harusnya tadi kalian menghampiri kami yang lebih tua" ucap Brian sambil menjepit hidung Hanna dan berlari menuju kamarnya. Yang dijepit hidungnya pun hanya mendengus kesal melihat kelakuan sang kakak.
Itulah sikap Brian yang sekarang benar-benar sosok kakak yang sempurna dan sekaligus menyebalkan, bagaimana tidak menyebalkan kalau semua aktivitas Hanna saja sudah terjadual olehnya.
"Hanna jangan lupa segera bereskan pakaianmu" saut Brian dari atas sana.
"Untuk apa?" teriak Hanna yang bingung atas perintah kakaknya.