
Semenjak kembalinya Hanna dari luar kota dia lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah sampai tiba saat Brian memintanya untuk membantunya di rumah sakit.
"Han, beberapa hari ini kamu ikut kakak ya, kamu kan sedikit-sedikit paham manajemen, bantu kakak mengeceknya kali ini soalnya jadual operasi kakak padat sekali" pinta Brian pada Hanna.
"Kak, sebaiknya kakak juga jangan lupa istirahat kenapa sih selalu memaksakan diri" protes Hanna.
Bukannya Hanna menolak permintaan Brian, tapi sudah sering kali kakaknya ini lupa untuk mengistirahatkan tubuhnya.
"Iya, iya nanti juga ada waktunya" ucapnya pada Hanna.
"Kak, dokter, perawat bahkan keluarga pasien di rumah sakit kan banyak, memangnya kakak ga pernah tertarik gitu?" tanya Hanna tiba-tiba
"Kenapa memangnya? Doa kakak sih jangan sampai dapetin yang bawel kaya kamu eh tapi rata-rata hampir sama semuanya sama kamu" ledeknya
"Enak aja" ucap Hanna sambil berlalu dari kakaknya.
Sebenarnya bukan Brian tidak ingin mencari pasangan hidupnya, hanya saja saat ini dia lebih memprioritaskan adiknya, dia ingin adiknya menemukan pasangan yang tepat sampai dia rela memberikan Hanna pada lelaki pilihannya barulah dia memikirkan dirinya.
Setelah permintaan Brian beberapa saat lalu akhirnya Hanna menjalankan tugasnya sementara dan tibalah dia di rumah sakit.
"Wah jarang-jarang mba Hanna datang" ucap salah seorang petinggi rumah sakit ini.
"Iya pak, diminta sama Tuan" ledeknya pada Brian dan mereka pun kembali ke pekerjaannya masing-masing.
Sesuai dengan permintaan Brian tadi, Hanna pun mengerjakan bidangnya sedangkan Brian sudah masuk ke dalam ruang operasi yang entah kapan akan selesai.
"Permisi" ucap salah seorang perempuan cantik yang saat ini berdiri di depan pintu Brian.
"Masuk" saut Hanna dari dalam, saat Hanna melihat orang itu dia pun terkejut.
Risa merupakan salah satu teman kakaknya padahal dia cantik, pintar, rajin dan tidak lupa baik tetapi kenapa kakaknya ini tidak tertarik sama Risa.
"Apa kabar? kebetulan sekali kamu disini tadinya aku mau titip ini sama Brian" tanya Risa sambil menyodorkan sebuah paper bag untuk Hanna.
"Kayanya mba Risa abis berpetualang lagi nih" ledek Hanna.
"Ga ko, itu oleh-oleh dari Mamah, gimana mau liburan kalau tiap hari harus di rumah sakit" ucapnya.
Sambil menikmati buah tangan yang Risa bawa mereka pun asik bercengkerama bersama hingga tiba waktunya Risa pamit untuk kembali ke rumah sakitnya, karena dia memang tidak praktek di sini, hanya saja dia selalu menyempatkan diri untuk bertemu Brian baik untuk menyapanya atau menyampaikan beberapa bingkisan untuk Hanna. Hanna sudah seperti adik untuknya karena dia merupakan anak tunggal oleh karena itu dia sangat menyayangi Hanna.
"Mba pamit ya, salam buat Brian" pamit Risa
"Salam kangen, salam rindu atau salam cinta?" ledek kembali Hanna sedangkan yang diledeknya hanya tersipu malu dan langsung pergi meninggalkan ruangan ini.
Waktu pun terasa begitu cepat hingga sang bulan sudah menampakkan dirinya, Brian yang baru menyelesaikan operasinya pun memilih untuk merehatkan tubuhnya sebentar sebelum kembali ke rumah, Hanna pun hanya menunggu kakaknya sambil memainkan ponsel yang berada di tangannya. Hingga suara notif pun terdengar olehnya.
- Received -
"Besok, bisakah kita bertemu"
' Li '
Entah apa yang ada dipikiran Hanna sekarang sampai dia membalas pesannya langsung.
"Baiklah"
- Send -