
Terkadang di luarnya terlihat kokoh belum tentu dalamnya akan sama, mungkin saja lebih rapuh.
🍀🍀🍀
"Kalau sudah selesai ayo segera pulang" ucap Brian.
Orang yang sukses membuat Li terkejut karena suaranya sangatlah asing, dia adalah Brian karena saat itu di sedang menggunakan masker karena baru saja tiba dari rumah sakit, dia tidak mau membawa virus untuk adiknya.
Bersyukurlah Brian datang tepat waktu jadi Li tidak terlalu mengkhawatirkan Hanna. Mereka akhirnya kembali menuju tujuannya masing-masing, sepanjang perjalanan Hanna hanya tertidur karena seharian ini jadualnya sangat padat, ditambah dia baru saja sembuh dari sakitnya.
Brian yang melihatnya pun serba salah, ingin rasanya dia menyuruh adiknya hanya duduk manis di rumah saja tapi dia tidak mau egois. Adiknya punya kebebasan sendiri walaupun sebagian kebebasan itu direnggut olehnya, untuk apalagi tujuannya selain untuk kebaikan Hanna sendiri walaupun Hanna terkadang tidak menyukai keputusannya.
Akhirnya mereka pun tiba di rumah dan Hanna baru saja terbangun.
"Kakak harus kembali ke rumah sakit, kamu istirahatlah jangan lupa untuk makan lagi setelah itu tidurlah" ucapnya panjang lebar dan Hanna pun hanya mengiyakan perkataan sang kakak.
Sedangkan di tempat lain saat ini sedang ada seorang pemuda memakai setelan jasnya sedang terburu-buru. Dia adalah Li, tadi dia menerima telepon dari ayahnya kalau dia harus menemuinya di kantor.
"Sudah cukup kah kau bermain-main" sarkas seseorang dihadapannya itu.
Sosok itu adalah ayahnya, seorang pembisnis handal yang tidak sembarang memberikan jabatan dengan mudah begitu saja, walaupun Li termasuk salah satu ahli waris perusahaannya tapi dia tidak serta merta memberikan dengan mudah kepadanya. Buktinya saat ini Li sedang merintis usahanya yang berbeda dengan bidang sang ayah. Tentu saja saat sang ayah mengetahui itu dia tidak terima dan berbagai macam cara dia membuat anaknya itu menyerah tapi semua itu percuma karena Li terlihat cukup ulet dalam usahanya.
"Kembalilah Li, jalankan saja perusahaan ayah, ayah yakin kamu pasti lebih berhasil dari ayah" bujuknya pada Li.
"Maaf Ayah, saat ini saya tidak bisa, biarkan saya melakukan semua ini" jawabnya
"Lupakan misi itu Li, ayah sudah melupakannya" pintanya pada Li.
Tapi nasi sudah menjadi bubur, Li pun merasa kecewa dengan perkataan sang ayah, dia ingat betul bagaimana dia memulai misinya disaat orangtuanya saja tidak memperdulikannya tetapi sekarang dengan mudahnya mereka mengatakan menyuruhnya melupakannya. Tidak bisa.
Karena misinya itulah dia bertemu dengan Hanna, seseorang yang menjadikannya seorang penguntit, penguntit dalam arti hal yang positif. Karena dengan Hanna dia menemukan warna baru dalam hidupnya. Seperti sekarang ini, dia rela menjadi sopir pribadinya walaupun kadang Brian memprotes hal itu, karena Brian juga ingin melakukan hal yang sama sebagai kakaknya. Tapi Brian pun sadar kalau dia bersama terus dengan Hanna, kapan adiknya itu akan menemukan kekasih hatinya.
Waktu pun terus berlalu sudah beberapa hari ini Li tidak hadir di kampusnya dan itu menimbulkan pertanyaan di dalam pikiran Hanna. Ingin rasanya Hanna menghubunginya tapi dia merasa canggung, hal apa nanti yang akan dibicarakannya.
"Apa kamu merindukanku?" tanya seseorang yang membuyarkan lamunan Hanna.