
Kesunyian ini pertanda bahwa ini tidak baik-baik saja.
"Bawa aku pulang sekarang" teriak Hanna yang memecah kesunyian saat ini
"Bawa aku pulang sekarang kak, aku akan menunggu Mommy di rumah saja" pintanya lagi dengan histeris.
Sungguh yang menyaksikan kejadian ini pun sangat mengiris hati.
"Tenanglah Hanna, jangan seperti ini" pinta Brian pada Hanna.
"Ga mau, kakak mau ngapain sih disini?" ucap Hanna kembali sambil menarik-narik tangan Brian.
"Hanna tenanglah" teriak Brian kali ini, dia pun bingung harus bagaimana menghadapi adiknya ini karena kalau terlalu keras dia takut Hanna akan drop kembali.
Hanna pun terdiam sesaat melihat kemarahan Brian.
"Hanna, aku tahu ini semua berat tapi kita harus mencoba menerimanya" ucap Dika
" Benar Hanna, hanya kamu dan Brian yang saat ini ada untuk mereka" ucap Hans kali ini dan tak lama pun tubuh Hanna melemah tak sadarkan diri.
"Hanna, kenapa kamu seperti ini?" ucap Brian saat ini sambil memeluk tubuh adiknya dan sudah entah berapa banyak airmata yang dia keluarkan saat ini. Tubuh dan hatinya pun lemah tapi kalau bukan dia siapa lagi. Diangkatlah tubuh sang adik menuju sebuah ruangan.
"Bri, biar kami yang urus jenazah, kamu fokus pada Hanna saja dulu" ucap Dika
Setelah memeriksa Hanna, Brian pun memutuskan untuk membawa Hanna kembali ke rumah yang sekaligus menjadi rumah duka untuk keluarganya. Dia tidak ingin membuang-buang waktu mengingat kondisi jasad kedua orangtuanya yang sudah berhari-hari diluar sana. Dika dan Hans pun sudah selesai mengurus dokumen kepulangan mereka dan bergegas untuk kembali.
Hampir 1 jam akhirnya mereka tiba dirumah duka dan terlihat sudah banyak sanak saudara yang berkumpul di rumah menyambut kedatangan mereka, terdengar suara tangisan memenuhi ruangan ini.
"Yang tabah ya Bri, mungkin ini sudah jalan mereka" ucap sang paman pada Brian dan Brian pun hanya menganggukkan kepalanya dan segera membawa Hanna ke dalam kamarnya tak lama Brian menungguinya, Hanna pun terbangun dari tidurnya. Tapi kedua matanya hanya menatap kosong ke atas langit-langit kamarnya.
"Kamu sudah sadar?" tanya Brian tapi tak ada jawaban dari mulutnya.
"Aku ingin bertemu Mommy dan Daddy" ucapnya sendu.
Brian pun membawa Hanna ke ruang bawah dimana tempat orangtua mereka disemayamkan. Hanna tidak menangis dia hanya menatap ke dua orangtuanya yang sudah menjadi jasad. Tidak ada ucapan maupun perbuatan yang dia lakukan, dia hanya terdiam disamping jasad orangtuanya. Semua orang berusaha untuk menghibur Hanna tapi semua itu terlihat mustahil.
"Kita harus segera membawanya ke tempat peristirahatan terakhirnya Han, jangan seperti ini, ini sama saja kita memperberat kepergian mereka" ucap Brian sambil mengelus pucuk kepala Hanna.
Akhirnya setelah melalui segala prosedurnya mereka pun akhirnya tiba ditempat pemakaman.
"Kamu kuat Bri, kalau tidak biar aku saja yang turun" ucap sang paman.
"Bri tidak apa-apa paman, biar Bri saja yang turun kapan lagi Bri memberikan penghormatan terakhir untuk mereka" ucap Brian yag berusaha tegar.
Sedangkan disalah satu sudut tempat itu Hanna ditemani beberapa sahabat dan bibinya, tidak ada ekspresi terlihat di wajah Hanna, dia hanya seperti mayat hidup yang bergerak bila digerakkan. Untuk saat ini Brian pun tidak mempermasalahkan itu karena dia berpikir masalah yang sebenarnya akan segera dimulai.