
Bilamana kalau aku nanti bukanlah aku yang sekarang
🍀🍀🍀
"Kenapa bisa seperti ini?" tanya Li pada asistennya.
"Maaf pak, seperti yang sebelumnya pernah saya katakan kalau Ayah anda terlalu banyak campur tangan masalah ini" jawab Asisten Li
"Selalu saja orang itu" ucapnya kesal dengan refleks Li pun menyingkirikan semua benda yang ada dihadapannya. Untuk sang asisten, dia lebih memilih undur diri daripada menambah emosi bosnya itu.
Sedangkan di suatu tempat
"Hei, nanti kesambet loh" sapa Silvy yang baru saja tiba.
"Iya setannya kamu" ucap Hanna sambil menggoda Silvy.
Mereka pun akhirnya melanjutkan kegiatannya masing-masing. Tetapi kenapa beberapa hari ini Li jarang sekali terlihat, kenapa dia sering sekali seperti ini.
Semenjak Li mengatakan hal itu kenapa membuat Hanna selalu mengingat kata-katanya, apa yang sedang terjadi dengan Li.
"Han, kamu kenapa sih bengong terus dari tadi?" tanya Silvy yang heran melihat tingkah laku Hanna seharian ini.
"Sil, kenapa ya rasanya perasaanku sedikit ada yang mengganjal" ucap Hanna
Memang beberapa hari ini Hanna merasakan sesuatu yang aneh tapi dia tidak tahu apa itu.
"Tentang Li?" tanya Silvy
Hanna pun bingung untuk menjawabnya sebenarnya tentang apa tapi ketika Silvy mengatakan nama Li, perasaan Hanna menjadi semakin tidak enak.
' Apa aku menghubunginya saja ya ' batin Hanna
"Entahlah aku juga tidak tahu" jawab kembali Hanna.
Tidak lama berselang pun ponsel Hanna berdering.
"Ya" ucapnya pada si penelepon.
" Kakak tidak bisa menjemputmu hari ini, kamu bareng Li saja ya " saut Brian
Padahal sudah beberapa hari ini Li tidak kelihatan batang hidungnya tapi dia juga tidak mau membuat kakaknya khawatir jadi dia lebih memilih mengiyakan permintaan kakaknya itu.
"Sil, aku naik taksi hari ini" ucap Hanna
"Eh tumben, aku antar saja ya?" tawar Silvy
"Ga usah kamu kan sudah ada janji, sesekali terlepas dari sangkar emas tidak apa-apakan?" ledek Hanna padanya.
Akhirnya mereka pun kembali sesuai dengan tujuannya masing-masing dan Hanna pun sudah berada di dalam taksi sampai dering ponsel menghentikan lamunannya
"Berhenti, Tunggu di situ" saut sang penelepon dan tiba-tiba dimatikannya panggilan tersebut
Entah kenapa Hanna langsung saja menghentikan taksinya di pinggir jalan dan turun sambil menunggu orang itu menjemputnya.
Hampir 1 jam Hanna menunggunya tapi yang ditunggu belum kelihatan juga. Hari pun sudah beranjak malam tapi tidak ada sambungan telepon lagi untuknya setidaknya memberikan alasan kenapa belum menjemputnya. Tanpa banyak pikiran Hanna pun kembali menghentikan sebuah taksi untuk melanjutkan perjalanannya ke rumah.
Setibanya di rumah.
"Kenapa kamu baru kembali sekarang?" tanya Brian padahal dia sudah mengabarinya 3 jam yang lalu.
Tapi tidak ada sahutan dari yang dipanggilnya
"Kenapa?" tanya Brian perlahan karena melihat ekspresi adiknya itu sangat tidak enak dilihat.
Dan benar saja tak lama kemudian air mata Hanna tumpah begitu saja, Brian pun terkesiap melihatnya.
Dipeluklah tubuh Hanna dengan erat, karena tidak pernah dia seperti ini. Setelah kondisinya tenang Brian pun segera meninggalkan kamar Hanna.
"Istirahatlah, ceritalah denganku nanti setelah kamu tenang" ucap Brian sebelum meninggalkannya.
Tidak mungkin Hanna menceritakan ulah Li kali ini, bisa-bisa Brian memberikan hadiah spesial untuknya.
ttoookkk...ttoookk..toookk...
Suara pintu terdengar tanpa henti dan itu tentu saja mengganggu seisi rumah.