
Saat mereka ingin memasuki ruang tunggu bandara, tiba-tiba tangan Hanna ada yang menarik.
"Hei, kamu gadis yang di restoran itu kan?" jawab seorang wanita paruh baya. Dia adalah ibu dari Li, sontak saja Hanna terkejut, dia merasa dunia ini cukup sempit kenapa juga harus bertemu dengan keluarganya.
"Iya bu, ibu mau kemana?" tanya kembali Hanna.
"Oh saya mau mengantar cucu saya kembali soalnya dia sudah terlalu lama di sini nanti Neneknya sakit rindu" jawab Kimi pada Hanna dengan terkekeh dan itulah nama dari ibu Li.
"Terus kemana cucu ibu, aku tidak melihatnya?" tanya kembali Hanna karena memang tidak melihat anak kecil itu.
"Oh dia sedang bersama Daddynya, biasalah jarang-jarang bertemu dengannya" ucap Kimi begitu saja. Padahal dalam hati Hanna sangatlah sakit mendengar ucapan Kimi
Beruntunglah suara panggilan untuk keberangkatan Hanna sudah terdengar, dia pun segera bersiap-siap dan tak lupa berpamitan dengan kedua kakak asuhnya ini dan Kimi.
"Ibu saya duluan ya" pamit Hanna dan diiyakan oleh Kimi.
Sepanjang perjalanan Brian tidak henti-hentinya menggoda Hanna.
"Cie, cie yang lagi pedekate sama camer" goda Brian
"Apa sih kak, udah deh" kesal Hanna pada Brian
"Tapi ingat ya Han, kakak tidak mengijinkanmu menjadi pelakor" peringatan Brian pada Hanna
"Tenang kakakku sayang, adik tersayangmu ini tidak akan seperti sinetron di tv sebelah" ledek kembali Hanna.
Dan mereka pun akhirnya memulai perjalanan mereka untuk kembali ke kota Malang.
Hampir 3 jam berlalu dan akhirnya mereka tiba dikediamannya.
"Eh, eh kakak istirahat dulu baru boleh keluar rumah lagi" pinta Hanna sambil menarik tangan kakaknya itu, dia sangat mencemaskan Brian apalagi semalam saja dia sudah pulang larut dan sudah dipastikan kurang tidur, dia tidak ingin kakaknya sakit karena melalaikan istirahatnya.
Brian pun hanya menuruti permintaan adiknya itu dan selama beberapa jam pula Hanna berkutat dengan pekerjaan yang telah ditinggalkannya.
Selang beberapa waktu ponsel Hanna berdering karena tertera di layar ponsel Hanna tidak ada namanya dia pun mengabaikannya karena dia merasa tidak pernah memberikan nomor ponselnya itu pada orang lain yang tidak dikenalnya bahkan untuk urusan pekerjaan Hanna lebih senang bekerja dibelakang layar. Maka dari itu jarang sekali orang yang mengenalnya sebagai seorang arsitek.
Dan tak lama ponselnya pun terus berdering. kali tertera nama paman Mirza lah yang terpampang di sana.
"Halo, paman" jawab Hanna
"Han, kamu dimana, katanya kamu ada di Jakarta?" tanya Mirza padanya
"Aku baru kembali hari ini paman, sekarang ada di rumah" jawab Hanna.
" Apa Brian menitipkan dokumen padamu?" tanya Mirza
"Iya paman, ke rumah saja" ucap Hanna
Sebelum Brian pergi tadi, dia menitipkan sebuah dokumen yang dibawanya dari Jakarta, karena kebetulan waktu Mirza sangat padat akhirnya dia meminta Brian untuk membawanya dari sana.
Sebelum kedatangan Mirza, Hanna menyempatkan diri untuk menyiapkan beberapa cemilan untuk pamannya itu juga.
Hingga tidak berapa lama kemudian Mirza pun datang dan segera menghampiri Hanna yang sedang menyambutnya.
"Loh paman mau langsung pergi lagi?" tanya Hanna karena melihat Mirza sudah berpakaian rapi.
"Iya rencananya paman akan ke kantor bersama Mr Li, itu dia menunggu di mobil" ucap Mirza sambil menunjuk ke arah mobil.