Dear, My Hanna

Dear, My Hanna
Rumah baru



Beberapa hari telah berlalu sejak pernikahan Hanna dan Li. Setelah kejadian di malam resepsi Hanna di larikan ke rumah sakit sesuai permintaan Brian, dia tidak mau meninggalkan adiknya dalam keadaan sakit. Dia tidak menjauh sedikitpun selama Hanna di rawat dan Li pun mengerti perasaan kakak iparnya ini.


Dan sudah beberapa hari ini juga Hanna dan Li sudah tinggal di sebuah apartemen pribadi milik Li dan tidak seperti pasangan pengantin baru yang lainnya. Saat ini mereka benar-benar menjalankan kehidupannya masing-masing bahkan di kamarnya masing-masing.


Tidak ada pembicaraan di antara mereka selama ini kebiasaan Li yang tidak pernah sarapan di rumah walaupun beberapa kali Hanna menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri dan Li tapi Li lebih memilih untuk berangkat lebih dahulu sebelum Hanna menyiapkan sarapannya itu. Berulang kali Li melarang Hanna untuk memasak tapi tetap saja Hanna keras kepala dia selalu beralasan memasak sendiri lebih enak.


Hanna menghabiskan kesehariannya di kamar, bosan memang tapi dia mau ke kantor tapi malas karena kalau sudah di kantor dia tidak akan ingat pulang, mengingat sekarang dia sebagai seorang istri walaupun hanya status tetapi dia tidak mau mengingkarinya karena berdosalah dia bila melalaikannya.


Seperti saat ini dia hanya berkomunikasi dengan Sisca lewat online bahkan Hanna mengirimkan hasil gambarnya lewat email.


"Mba, kapan ke sini mentang-mentang pengantin baru?" ledek Sisca pada Hanna


"Makanya jadi pengantin dulu baru tau rasanya" balas Hanna pada Sisca


"Mba, waktu itu ada temen mba yang cari katanya namanya Jason dia kasih kartu nama juga ke mba" ucap Sisca.


"Dia ga bilang apa-apa? tau darimana ya Sis?" tanya Hanna pada Sisca


Hanna bingung sendiri darimana Jason tau kalau dia pindah ke sini.


"Ya udah, nanti aku sempatin datang ke sana" ucap ucap Hanna pada Sisca


"Bete juga ya lama-lama kalau tidak ada kerjaan" monolog Hanna sambil berjalan mengelilingi rumah ini, di lihatnya dekorasi yang sangat manly sangat berbeda jauh dengan rumah lamanya yang terkesan cerah tidak suram seperti rumah ini.


Di salah satu sudut ruangan terpampang sebuah figura berisikan foto keluarga yang terdiri dari 2 orang laki-laki serta yang sudah dipastikan Hanna adalah mama dan papanya. Tapi siapa laki-laki yang disebelah Li, apa dia ayah dari Aulia. Wajahnya sangat mirip tapi lebih tampan Li. Bangga Hanna.


Saat Hanna sampai di ruang tengah, pintu depan pun terbuka dilihatnya Li yang baru sampai dari kantornya, terlihat wajah lelah menghiasai wajahnya, selama ini Hanna jarang melihatnya seperti itu karena dia selalu pulang larut. Hanna pun berinisiatif untuk membawakan Li segelas air. Tapi sayangnya Li menyadari itu.


"Tidak usah, saya akan mengambilnya nanti" ucap Li sambil berlalu masuk ke dalam rumahnya.


Hanna yang sekarang sudah terbiasa dengan sikap Li pun sudah tidak mempermasalahkannya. Dia kembali masuk ke dalam kamarnya dan tak lama pintunya berbunyi tanda ada yang mengetuknya


"Kita makan di luar nanti, mama dan papa sudah memesan tempat" ucapnya dan seperti biasa diapun kembali pergi lagi.


Ternyata ini tujuannya pulang cepat sampai-sampai wajahnya frustasi seperti itu karena meninggalkan pekerjaannya.


Waktu pun mulai senja, Hanna segera bersiap untuk bertemu dengan kedua mertuanya. Saat dia berjalan keluar kamarnya.


"Jangan pakai pakaian yang terlalu terbuka" protes Li saat melihat Hanna yang sedang mengenakan gaun lengan terbuka tapi menurutnya walaupun ini lengan terbuka tapi menutupi seluruh bahunya. Dia kembali mengganti bajunya sebelum sang singa mengeluarkan taringnya.