
Pakaian?
Untuk apa dibereskan, memangnya mereka mau kemana?
Itu lah yang ada dipikiran Hanna sekarang. Karena rasa penasarannya dia pun bergegas menyusul Brian ke kamarnya.
"Kakak untuk apa aku membereskan pakaian, memang mau kemana?" tanya Hanna
"Memangnya kamu mau kemana?" jawab Brian polos.
Aduh, tadi kan dia yang menyuruh Hanna sekarang malah dia yang bertanya, Hanna pun hanya bisa bersabar menghadapi kakaknya yang satu ini.
"Oh itu, besok kamarmu mau di renovasi soalnya sudah terlalu lama catnya tidak diganti, lagi pula kan besok kamu tidak ada jadual ke kampus kan?" jawabnya santai sambil mengeluarkan beberapa berkas dari tas jinjing miliknya.
"Tenang saja adikku, kakakmu ini tidak akan membawamu kemana-mana, sudah cepat sana" pintanya.
Hanna pun segera berlalu menuruti permintaan sang kakak, apa Brian tidak tahu kalau Hanna baru saja kembali dari aktivitas luarnya malam ini dan sudah disuruh membereskan kamarnya lagi.
Waktu sudah hampir tengah malam tetapi Hanna masih saja berkutat dengan tugas barunya.
Tiba-tiba saja Hanna merasa pijakkan kakinya sedikit bergeser.
"Apa ada gempa ya, kenapa aku sedikit pusing?" racaunya sendiri di dalam kamar.
Melihat tugasnya yang hampir selesai Hanna pun merebahkan tubuhnya begitu saja dan entah kenapa matanya langsung terpejam tanpa rasa kantuk terlebih dahulu.
Pagi pun tiba
Dibukalah knop pintu kamar itu, dilihatnya sang adik sedang tertidur tapi terasa aneh, kenapa ada yang janggal? Didekatinya ke arah ranjang, ternyata Hanna belum mengganti bajunya yang semalam dan terlihat beberapa tumpukkan baju yang masih tersusun di samping lemarinya. Brian pun mencoba untuk membenarkan posisi tidur sang adik.
Hangat?
Kenapa badan Hanna hangat, suhu kamar ini bisa terbilang dingin karena cuaca yang masih pagi.
Tanpa pikir panjang Brian pun langsung membenarkan posisi sang adik dan tidak terlihat pergerakkan sama sekali darinya, dia pun berlari menuju kamarnya untuk mengambil tas yang biasa dipakainya.
Setelah menemukan apa yang dia cari, Brian pun langsung memeriksa Hanna. Terlihat wajahnya yang pucat dan badannya yang hangat menandakan kalau dia sedang tidak baik-baik saja.
Seketika itu juga Brian mencengkeram kepalanya mengingat permintaan dia tadi malam, kenapa dia melupakan kalau Hanna baru saja kembali dari bakti sosialnya yang sudah pasti menguras tenaganya, ditambah membereskan kamarnya ini.
Terdengar leguhan dari Hanna.
"Masih pusing?" tanya Brian
"Kenapa kepalaku sakit sekali?" ucapnya
"Makan dulu ya terus minum obatnya, maaf kakak sudah menuatmu kelelahan" sesal Brian
Hanna pun mencoba membuka kedua matanya tapi itu terasa berat sekali, dia menyadari perkataan kakaknya yang menunjukkan kalau dia menyesal atas perbuatannya. Ingin rasanya Hanna menenangkan kakaknya kalau ini hanya pusing biasa tapi sepertinya itu mustahil karena kakaknya tidak akan percaya begitu saja akan alasan Hanna.
Terdengar suara kaki menuju ke arah mereka dan itu mba Sumi yang mengantarkan semangkuk bubur dan segelas air putih hangat. Hanna pun menuruti permintaan kakaknya untuk memakan ini semua karena dia tidak mau membuat Brian mencemaskan dirinya kembali.
Makanan dan obat itu pun sudah masuk ke dalam perut Hanna dan sekarang Hanna hanya perlu lebih banyak istirahat. Brian pun tetap berjaga disamping Hanna yang mulai terlelap. Untuk kegiatan renovasinya kali ini lebih baik dibatalkan saja.