
" Astaga " batin Hanna
Itulah sebenarnya ekspresi kaget Hanna saat masuk ke dalam ruangan Brian. Melihat seseorang yang pernah masuk ke masa lalu kelamnya, tapi sepertinya orang itu sudah berubah, jujur saja Hanna sempat terpesona melihatnya tapi dia tidak mau untuk mengulik kenangan pahitnya.
Ingin rasanya dia menegur kedua sahabat kakaknya ini tapi karena tubuhnya sudah sangat lelah akhirnya dia mengurungkan niatnya, apalagi kalau sudah bertemu dengan Hans, dia akan bicara panjang lebar entah ada saja bahasan dari mulutnya.
Sebenarnya Hanna tidak benar-benar tertidur, dia hanya memejamkan kedua matanya saja karena sejak kembali dari kampusnya dia belum istirahat. Seperti sudah tidak terdengar suara di depan. kemungkinan mereka pun sudah kembali dan Hanna pun melihat keadaan diluar, benar saja sudah sepi dan dia pun menghampiri kakaknya.
"Kamu masih tidak ingin bertemu Dika?" tanya Brian dengan hati-hati karena dia takut Hanna masih sedikit trauma dengan Dika.
"Mungkin kalau hanya kak Dika saja tadi aku masih mau menemuinya tapi kan di situ ada kak Hans tadi" jawab Hanna sambil mengerucutkan bibirnya. Brian pun terkekeh mendengar alasan Hanna menyebut nama Hans, yang ada nanti Hanna malah tidak bisa istrirahat.
"Tadi Dika menitipkan bingkisan untukmu, itu ada di bawah sofa" tunjuk Brian ke arah sofa yang sedang di duduki Hanna.
Hanna pun membuka bingkisannya itu dan seketika itu juga wajahnya terkejut.
"Ternyata dia masih ingat makanan kesukaanku" ucap Hanna tanpa melihat Brian, Brian yang melihat itu pun hanya tersenyum melihat sang adik.
Setelah melewati rangkaian panjang pemeriksaan itu, mereka pun kembali ke rumah.
"Makan dulu baru masuk ke kamar" pinta Brian, dia tahu kalau adiknya itu sudah masuk ke kamarnya akan sulit untuk keluar lagi.
Akhirnya mereka pun menikmati makan malam bersama yang sudah disiapkan mba Sumi. Setelah itu mereka masuk ke kamarnya masing-masing untuk segera mengistirahatkan tubuhnya.
Seperti biasa mereka pun memulai aktivitas paginya masing-masing, Brian dengan masakan paginya sedangkan Hanna hanya menyibukkan dirinya karena sang kakak melarang Hanna melakukan apapun di rumah ini.
"Hanna, cepat makan sarapanmu" panggil Brian, bahkan untuk sekedar sarapan pun sudah ada alarmnya siapa lagi kalau bukan sang kakak.
Tibalah sang adik dihadapan Brian.
"Kamu mau kemana pagi-pagi begini sudah rapi?" tanya Brian yang heran melihat adiknya yang sudah rapi.
"Aku tidak mau merepotkan kakak tersayangku untuk menungguku" jawab Hanna sambil menampilkan senyuman manis dihadapan kakaknya.
Mereka pun memulai sarapan paginya dan sesekali berbincang tentang kegiatan mereka hari ini.
Inilah rutinitas di kala pagi karena kesibukkan mereka berdua, kesempatan pagi inilah yang dimanfaatkan oleh mereka, berbeda saat ada orangtuanya mereka hanya duduk manis menghabiskan makan yang sudah tersaji di depannya tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Terdengar suara bel berbunyi dan tak lama mba Sumi datang memberitahukan bahwa ada tamu pria yang mencari Hanna di depan. Hanna yang merasa bingung pun hanya melirik ke arah sang kakak. Jangan ditanya sekarang bagaimana tatapan Brian pada Hanna, tatapan penuh menyelidik.
Hanna pun akhirnya mengikuti mba Sumi untuk melihat siapa tamu yang pagi-pagi sudah mencarinya.
"Pagi" sapa orang itu singkat dan Hanna pun terkejut akan kedatangan tamunya itu.
"Oh ternyata ini alasan kamu sudah bersiap pagi-pagi, sudah ada pangeran yang datang menjemput rupanya" ucap Brian sambil menepuk bahu tamu Hanna itu, dia pun segera berlalu dan masuk ke dalam mobilnya.