
Hari pun terus berlalu, sudah 3 hari ini Hanna tidak mengikuti kuliahnya. Sebenarnya hari ini kondisi Hanna sudah lebih baik tapi Brian tetap memaksa Hanna untuk beristirahat lebih banyak.
Dan sudah 3 hari ini juga Hanna tidak bertemu dengan teman-temannya, begitu juga dengan Li. Sudah beberapa hari ini Li merasa kehilangan sosok Hanna.
"Silvy" panggil Li
"Kenapa, mau tanya Hanna?" sautnya yang tiba-tiba
Yang ditanyapun hanya menganggukkan kepalanya.
"Mungkin besok dia sudah mulai kuliah, sekarang dia masih tidak diijinkan sama kakaknya" ucap santai Silvy padanya
"Memang kenapa Hanna tidak diijinkan Li untuk tidak kuliah?" tanyanya heran.
"OMG" teriak Silvy padanya
"Jadi kamu ga tahu kemana Hanna selama ini? Ya ampun kak, Hanna itu sakit sudah 3 hari ini dia tidak masuk kuliah" ucap Hanna kembali.
Setelah mendapat informasi dari Silvy, Li pun bergegas untuk segera menemui Hanna di rumahnya, bagaimana dia tidak tahu kalau Hanna sedang sakit. Selama ini dia memang tidak pernah saling menghubungi menggunakan ponsel. Lucu bukan? jaman sekarang dimana teknologi sudah jauh berkembang tapi dua insan ini seperti tinggal di jaman batu.
" Dasar tidak tahu terima kasih " batin Silvy
Sepanjang perjalanan Li mengkhawatirkan Hanna, dia ingat kejadian lalu dimana Hanna sempat down karena tekanan mentalnya. Disaat itu juga dia kalut, dia pun semakin dalam menginjak pedal gasnya.
Tidak membutuhkan waktu lama akhirnya Li sampai di rumah Hanna.
"Sebentar saya panggilkan Non Hanna dulu ya Den" sambut mba Sumi yang sudah mengetahui kedatangan Li dan dia pun segera memberitahukan Hanna.
"Non, ada Den Li di bawah" ucap mba Sumi padanya. Saat itu Hanna hanya sedang berbaring santai di atas tempat tidurnya, mendengar kedatangan Li pun dia sedikit terkejut dan segera merapikan dirinya.
"Bagaimana keadaanmu, apa sudah lebih baik?" tanya Li pada Hanna, saat ini penampilan Hanna memang sedikit lebih lusuh karena seharian ini kerjaannya hanya berbaring saja.
"Aku baik-baik saja, tidak usah khawatir" ucapnya
Tiba-tiba gerakan tak terduga dilakukan Li, dia langsung memeluk erat tubuh Hanna begitu saja tanpa seijin yang punya raga. Hanna pun hanya diam mematung, dia pun merasa nyaman dengan pelukan ini tapi dia tidak ingin membalasnya. Secepatnya dia melepaskan pelukan itu.
"Maaf Li" tolak Hanna. Li pun sadar akan perbuatannya dan langsung meminta maaf pada Hanna.
"Maafkan aku Hanna, aku tidak bermaksud untuk lebih dari itu, sekali lagi aku minta maf" sesal Li akan tingkahnya yang memalukan itu.
"Sudahlah tidak apa-apa" jawab Hanna.
Akhirnya mereka pun menghabiskan waktu bersama dengan berbincang ringan, sesekali membahas masalah kuliahnya tetapi Hanna masih tidak berani menanyakan perihal status Li di kampus itu. Hanna berpikir mungkin karena dia sibuk jadi jarang sekali bertemu dengannya sebelumnya.
Tak terasa waktu beranjak sore dan terdengar suara deru mesin mobil dipekarangan rumah Hanna.
"Eh ada tamu" goda Brian pada mereka.
"Hai Bri" sapa Li padanya dan mereka pun saling menyapa. Sebenarnya umur Li dan Brian tidak terpaut jauh hanya saja otak Brian sedikit lebih cerdas dari Li.
"Silahkan dilanjut obrolannya" ucap Barian pada mereka. Entah kenapa sudah beberapa hari ini Brian terlihat lebih serius daripada sebelumnya.
Dan mereka pun melanjutkan obrolannya.
"Hanna, bolehkah aku minta nomor ponselmu?" tanya Li padanya.