
Akhirnya waktu yang dijanjikan pun tiba sesuai dengan permintaan Hanna, dia tidak ingin tempat yang terlalu jauh dari rumah sakit kakaknya karena dia harus segera kembali kalau urusannya dengan Li selesai.
"Saya akan to the point saja" ucap Li saat Hanna baru saja mendaratkan tubuhnya di salah satu kursi tempat itu
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Hanna akan tujuan Li.
"Sepertinya orangtua saya sangat dekat denganmu, saya ingin mengajukan penawaran untukmu" bujuk Li
"Penawaran apa? apa maksudmu?" tanya Hanna kembali yang bingung akan maksud dari Li ini.
"Lebih baik kamu pelajari dulu isi dokumen ini" pinta Li sambil menyodorkan sebuah map yang sudah berisi beberapa lembar dokumen.
Saat Hanna baru mulai membuka lembar pertama dari map itu dia sangat terkejut, langsung dilemparnya map itu dihadapan Li.
"Apa maksudmu? apa kamu sudah gila?" marah Hanna padanya
Kenapa harus dia, tidak tahukah Li selama ini Hanna bersusah payah untuk melupakannya tetapi kenapa dia datang lagi dengan menggoreskan luka baru untuknya.
"Sudah saya bilang, pelajari dulu kamu akan menyesal bila menolaknya" pinta Li kembali dengan santainya sedangkan kemarahan Hanna sudah sampai puncak kepalanya.
Dia pun segera pergi meninggalkan tempat tapi dengan cepat Li menariknya.
' Dasar orang gila ' batin Hanna
Setelah mengalami kejadian tidak menyenangkan itu pun, dia kembali ke rumah sakit dengan raut wajah kecewanya dan sampailah dia di sebuah lorong rumah sakit. Saat dia baru saja ingin melangkahkan kakinya lebih maju terdengar sebuah suara kedua orang sedang beradu agumen tetapi suara itu sangatlah tidak asing untuk Hanna. Saat Hanna mengintip sedikit ke asal suara itu dia sangat terkejut melihat Brian bersama dengan seorang dokter wanita yang tidak beda jauh dengan Risa. Hingga terdengarlah suara pertengkaran mereka.
"Brian, apa sih yang sebenarnya kamu tunggu, kamu sudah cukup matang" ucap wanita itu.
"Sil, aku mohon jangan pernah membahas masalah ini, jangan kamu rusak hubungan pertemanan kita seperti ini" pinta Brian padanya
"Apa? kamu benar-benar tidak peka atau memang kamu tidak peduli dengan perasaanku Brian? Apa karena adikmu hah?" tanya Sisil pada Brian
Hanna sedikit terkejut saat namanya disebut-sebut oleh Sisil. Apa hubungannya dengan semua ini?
"Jangan kamu bawa-bawa adikku, sekali lagi kamu menyebut namanya aku akan sangat kecewa padamu, aku tidak pernah memiliki rasa apapun padamu Sil" ucap Brian dengan lembut berusaha menenangkan Sisil.
"Apa kamu pikir aku tidak tahu, kalau kamu selama ini selalu mengalah pada adikmu bahkan untuk asmaramu pun kamu singkirkan jauh-jauh, aku tahu kamu punya perasaan dengan Risa kan? kamu sengaja tidak mencoba membuka hatimu untuknya karena kamu tidak ingin meninggalkan adikmu saat kamu bersama kekasihmu seperti pengalamanmu dahulu?" ucap Sisil panjang lebar sedangkan Brian hanya bisa mengusap wajahnya menggunakan kedua tangannya. Benar dia tidak ingin kejadian dulu terulang kembali
"Cukup, aku mohon hentikan sebelum aku bertindak lebih jauh" pinta kembali Brian dan dia pun meninggalkan Sisil begitu saja, sedangkan Sisil yang mendengar ucapan Brian sedikit ngeri karena dia tahu seberapa yakin Brian kalau sudah mengancam.
Hanna yang mendengar keseluruhan cerita hanya bisa termenung. Jadi apa ini alasan Brian selama ini menutup hatinya untuk wanita?