
Saat percakapan itu terdengar di telinga Hanna, hatinya menjadi campur aduk, ada perasaan bersalah dalam dirinya. Apakah benar semuanya karena dia?
Hanna teringat akan sesuatu, ya di carilah benda yang sempat dia lemparkan itu dan mulailah di buka kembali. Ya, itu adalah Map yang diberikan oleh Li tadi. Dibacalah isi map itu perlahan demi perlahan, memang isi map itu tidak merugikan Hanna, mungkin akan bermanfaat untuknya tapi apa Hanna bisa menjalankan semua itu. Dia tidak ada pilihan, salah satu cara untuk lepas dari kakaknya salah satunya dengan cara dia harus menikah.
Kalian pasti penasaran akan isi map yang diberikan oleh Li. Isi map itu adalah sebuah perjanjian tentang pernikahan dimana mereka harus bersedia menikah dengan keuntungan masing-masing, alasan Li memberikan perjanjian itu dimana dia sudah sangat jengah mendengar orangtuanya menanyakan kapan dia akan menikah sedangkan bagi Li dia tidak terlalu senang berdekatan dengan wanita tapi yang anehnya mengapa dia merasa biasa-biasa saja saat bersama dengan Hanna, maka dari itu dia tidak mau mencari orang lain untuk menjadi partner menikahnya apalagi sudah diketahuinya orangtuanya sangat tertarik dengan Hanna.
Sedangkan untuk Hanna, di dalam perjanjian itu keuntungan Hanna adalah kalau setelah pernikahan nanti Hanna tetaplah seperti yang sekarang, dia bebas untuk melakukan apapun hanya saja saat mereka bertemu kedua orangtuanya mereka harus memainkan perannya sebagai pasangan suami istri.
Saat Hanna selesai membaca secara detail. Diambillah ponsel yang tergeletak di atas nakas tempat tidurnya. Dia pun mencoba menghubungi seseorang.
"Sepertinya kamu sudah membuat keputusan" ucap Li yang baru saja menerima panggilan itu.
"Bisakah besok kita bertemu di tempat kemarin" pinta Hanna padanya.
"Baiklah" balasnya
Setelah mereka merencanakan pertemuan mereka kembali mereka pun mengakhiri panggilan itu.
Hampir sepanjang malam Hanna tidak bisa tidur. Dia memikirkan kembali akan keputusannya itu sudah tepat atau belum.
"Sebegitu mudahnya kah kamu menerima perjanjian itu?" monolog Li
Akhirnya waktu yang ditentukan tiba, saat ini dua insan itu sedang bersama belum ada yang memulai pembicaraan itu. Entah kenapa Li yang biasanya tidak peduli dengan keadaan, tiba-tiba saja merasa canggung. Tidak mungkin juga keadaan seperti ini berlangsung terus, akhirnya Hanna yang memulai pembicaraan tersebut.
"Bolehkah aku menambah point di sini?" tanya Hanna padanya
"Selagi itu tidak merugikan saya, silahkan saja" jawabnya
"Setelah menikah aku ingin berada jauh dari sini dan bila suatu saat apapun yang terjadi padaku, aku harap kamu tidak beritahu kakakku" pinta Hanna padanya
Seketika itu Li mencerna permintaan Hanna, hanya itu saja pikirnya. Secara garis besar sebenarnya Li paham apa maksud perkataan Hanna, dia ingin menjauh dari kakaknya tapi kenapa?
"Oh iya, saya belum pernah bertemu dengan kakakmu, kapan kamu akan mengenalkannya pada saya?" pinta Li kali ini.
"Sebelum kamu bertemu dengan kakakku, aku harap saat bertemu dengannya berpura-puralah kalau kamu sudah mengenalku lama dan jangan heran saat dia bertanya macam-macam tentangmu" jawab Hanna padanya, sebenarnya dia takut kalau Brian bertanya yang aneh-aneh terhadapnya.
"Baiklah" jawab Li kali ini.