
Setelah pertemuan Hanna dan Silvy, pikiran Hanna pun menjadi bingung. Apa Li marah padanya? hanya itu jawaban yang Hanna punya saat ini.
"Han, besok kita kembali ya, kakak ada operasi besar besok" pinta Brian pada Hanna.
" Baiklah aku bereskan dulu barang-barangnya" ucap Hanna dan segera berlalu.
Sungguh kebetulan Brian mengajaknya kembali, mungkin dengan menyibukkan dirinya, dia bisa melupakan semua ini.
Setelah menyelesaikan semua pekerjaannya Hanna pun memilih untuk menghabiskan waktu di taman favoritnya sewaktu dia tinggal disini.
"Mom, Dad aku merindukan kalian" bicaranya pada angin, berharap angin itu bisa menyampaikan kerinduannya pada orangtuanya.
"Andai ada Mommy di sini, aku ingin bercerita banyak, ini rasanya sesak menanggung ini sendiri Mom" ucap Hanna kembali tanpa terasa airmatanya menetes.
Banyak sekali yang ingin dia utarakan tapi apa boleh buat, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Hingga senja pun mulai menampakkan dirinya.
"Kak Dika kapan datang?" tanya Hanna pada Dika yang sudah berdiri di belakangnya.
' Apa dia mendengarnya ?' batin Hanna
"Dari tadi, kalau kamu mau, kamu bisa ceritakan padaku" pinta Dika, Hanna yang mendengarnya pun merasa malu.
"Jangan bilang-bilang kakak ya" pinta balik Hanna
Hanna tidak ingin mengumbar setiap masalahnya pada orang lain, cukup dia saja yang tahu bahkan Brian pun kalau bisa tidak boleh tau tapi apalah sang kakak dia lebih mengetahui pribadi Hanna jauh lebih dalam dibanding dirinya sendiri.
Mereka pun memutuskan untuk kembali ke dalam rumah dan berkumpul bersama mengingat besok mereka sudah akan kembali ke Malang, walaupun perjalanan yang singkat bila memakai pesawat tapi untuk rentangan jarak sangatlah jauh.
"Iya jadual operasi dimajuin" jawab Brian, kalau sudah urusan nyawa Brian paling mengutamakannya.
"Hanna nanti saja ya, kakak yang antar saja" ucapnya kembali pada Hanna, walaupun Hanna sudah tidak pantas diperlakukan seperti itu tetapi mereka tetap memperlakukan Hanna seperti adik kecilnya yang tidak pernah beranjak dewasa.
"Ga bisa gitu dong kak, kerjaan Hanna nanti gimana udah hampir seminggu Hanna tinggalin" jawab Hanna pada Hans.
"Sudahlah kalian berdua itu maniak kerja" kesal Hans karena permintaannya ditolak oleh keduanya. Mereka pun hanya bisa membujuk Hans supaya tidak marah.
"Han Kita keluar yuk, mumpung malam ini kalian masih di sini" ajak kembali Hans
"Eh tidak bisa, besok kita penerbangan pagi, Hanna harus istirahat lebih awal, bagaimana kalau kita saja" ajak kembali Brian. Ya tidak ada Hanna, Brian pun jadi tidak masalah lah.
Akhirnya mereka menghabiskan malam ini di sebuah kafe sederhana dengan suasana yang nyaman tidak terlalu ramai.
Hingga pagi pun tiba
"Kak Brian bangun, ih susah banget sih dibanguninnya" panggil Hanna yang saat ini sedang berusaha membangunkan Brian, wajar saja dia susah untuk dibangunkan, mereka saja baru tiba hampir pagi.
Setelah sekian lama, perjuangan Hanna pun berhasil dan saat ini mereka baru saja tiba di bandara, tak lupa Hans dan Dika pun mengantar kepergian mereka.
"Jangan lupa kembali lagi ke sini ya, jangan kita terus yang datang kesana" sindir Hans pada mereka, sedangkan yang disindir hanya tersenyum.
Hingga saat mereka memasuki ruang tunggu tiba-tiba saja tangan Hanna ada yang menarik
"Hei, kamu gadis yang di restoran itu kan?" ucap orang itu