Dear, My Hanna

Dear, My Hanna
Rencana Lamaran



Setelah pertemuan Hanna dan keluarga besar Li tanpa sepengetahuan Hanna ternyata Li sudah merencakan tanggal pernikahan mereka, sekarang tinggal mereka yang akan datang bertandang ke rumah keluarga Hanna walaupun hanya Brian yang saat ini Hanna punya, mereka tidak ingin menyepelekannya karena mereka yakin kalau Brian sekarang adalah sosok orangtua untuk Hanna.


"Keluarga saya akan berkunjung ke rumahmu untuk membahas pernikahan kita" ucap Li pada Hanna


Saat ini Li lebih banyak menghabiskan waktunya di kota Malang karena ada beberapa urusan tapi ada yang membuatnya betah berlama-lama di sini mungkin salah satunya di sini dia bisa dengan bebas bertemu dengan Hanna bila dia menginginkannya.


"Memangnya kapan acaranya dilangsungkan?" tanya Hanna yang kaget akan rencana Li.


"Saya ingin minggu depan acara pernikahan kita dilaksanakan karena sebentar lagi urusan saya di sini selesai" jawabnya santai


Oh tidak, dia hanya memikirkan urusannya dia tidak memperdulikan Hanna, dia tidak memikirkan bagaimana nanti dengan pekerjaan Hanna.


"Tapi aku kan belum menyiapkan pemindahan kantorku, bagaimana nanti kalau aku tinggal begitu saja?" tanya Hanna kembali.


"Bukankah itu sudah sesuai permintaanmu, kalau kamu ingin pergi jauh dari sini, saya sudah menepatinya" jawabnya kali ini serius.


Memang benar ini salah satu permintaan Hanna tapi dia tidak berpikir sejauh ini, ah ini salah satu kesalahannya.


Kali ini Hanna hanya terdiam, ada satu hal yang belum dia jalankan, kalau pernikahannya tinggal seminggu lagi berarti dia harus bergerak cepat untuk bertemu dengan Risa.


"Baiklah" kali ini Hanna mengalah karena memang sekeras kepala apapun Hanna, dia tetap kalah kalau beradu agumen dengan Li.


Akhirnya mereka menyelesaikan makan siang mereka dan bergegas menuju kegiatannya masing-masing, saat Hanna tiba di depan kantornya.


"Mulai sekarang kamu bereskan barang-barang yang penting saja untuk yang lainnya sudah saya persiapkan di sana" ucap Li sebelum meninggalkan Hanna


Saat Hanna memasuki ruangan kantor sederhananya itu, dia sudah di sambut dengan berbagai raut wajah yang susah ditebak, ada yang bahagia dan ada juga yang sedih.


"Ada apa?" tanya Hanna pada mereka


"Mba, kenapa ga bilang kalau kita mau pindah kantor ke luar kota" jawab Sisca pada Hanna.


Siapa yang ingin pindah, bahkan sepertinya Hanna akan menutup usahanya ini karena tidak mungkin juga dia memboyong beberapa karyawannya ini. Dia pun tidak tahu apa yang akan terjadi di sana nanti.


"Siapa yang akan pindah?" tanya Hanna heran.


"Loh ini tadi ada yang datang kasih denah alamat sama foto kantor baru kita" unjuk Sisca pada Hanna


Hanna pun melihat sebuah dokumen yang Sisca berikan tadi, apa ini semua perbuatan Li tapi kenapa Li bisa sampai sejauh ini.


"Kalian kenal tadi siapa yang datang?" tanya Hanna pada mereka dan mereka pun kompak menggelengkan kepalanya tanda tidak mengetahui siapa orang itu.


Jalan satu-satunya Hanna harus menghubungi Li. Saat panggilan itu terhubung.


"Suruh orang-orang membereskan dokumen-dokumen penting saja" pintanya pada Hanna, karena dia tahu alasan Hanna menghubunginya secepat ini.


"Tapi kenapa kamu tidak bilang dulu padaku, ini semua berlebihan" protes Hanna padanya


"Sejak kapan saya memberitahumu tentang apa yang akan saya lakukan?" ucap Li kali ini.