
Entah kenapa udara pagi ini sangat terasa segar, apalagi melihat seseorang yang sudah beberapa hari ini tidak terlihat.
"Hai" ucap Hanna refleks karena dia sangat terkejut dengan kedatangan Li.
"Maaf beberapa hari ini aku tidak ada untukmu?" ucapnya yang terdengar menyesal.
Raut wajah lelah terlihat jelas di wajah Li tetapi Hanna tidak berani untuk menanyakannya.
"Tidak apa-apa beberapa hari ini kak Brian yang menggantikanmu" ucapnya seraya mencairkan suasana saat ini.
Mereka menghabiskan waktu bersama beberapa saat sebelum kembali melanjutkan mata kuliahnya yang akan berlangsung.
Terdengar suara riuh di luar sana. Hanna dan Silvy pun penasaran dengan keadaan itu. Dari kejauhan sudah tampak ramai kerumunan orang di sana. Baru saja Hanna ingin kembali tapi tangannya sudah ditarik terlebih dahulu oleh Silvy.
"Eh nanti dulu sudah tanggung. Kita sudah sampai sini" ucap Silvy dan Hanna pun hanya mengikutinya.
Ada yang terasa aneh menurut Hanna kenapa orang-orang memperhatikannya dengan tatapan yang sulit diartikan. Tak jauh dari arahnya terdengar suara teriakkan seseorang dan orang itu adalah Jason.
Di tengah lapangan itu dia sedang menyiapkan sesuatu yang menurut Hanna ini berlebihan dan untuk apa juga dia melakukan itu. Hanna pun berniat kembali tapi lagi-lagi Silvy menahannya. Hanna pun geram dengan tingkah Silvy apalagi saat ini dia melihat seseorang di ujung lorong itu sedang memperhatikannya dengan raut wajah sedihnya.
"Lepas Sil!" bentak Hanna pada Silvy dia pun segera menghempaskan tangannya dengan kencang dan berlalu menjauhi tempat itu.
Tapi usaha Hanna sia-sia ternyata Jason sudah lebih dulu menarik tangan Hanna.
"Hanna tunggu!" ucap Jason padanya dengan nafas yang masih tersengal-sengal.
"Aku hanya ingin mengungkapkan perasaan yang selama ini aku pendam padamu" ucap Jason.
"Mau kah kamu menerimaku untuk menjadi pasanganmu yang selalu menemanimu disaat kamu membutuhkan dan berbagi kebahagiaan disaat kamu rasakan?" tanyanya pada Hanna dengan nada tergugup.
Ini sebuah kejutan, tapi bukan kejutan yang menyenangkan. Ingin rasanya dia langsung pergi begitu saja tetapi itu tidak mungkin, bagaimana nanti dengan Jason, dia pasti akan malu.
"Jason, bisakah kita bicara berdua saja" ucapnya dengan lembut pada Jason dan Jason pun menyetujui permintaan Hanna.
Jason sangat yakin Hanna akan menerimanya apalagi dengan kedekatan mereka, apalagi selama ini Hanna tidak mempunyai banyak teman laki-laki. Mereka pun menuju tempat yang lebih leluasa untuk berbicara, hingga tibalah mereka disebuah taman.
"Jason" panggil Hanna
"Maaf sebelumnya tapi untuk apa kamu melakukan ini?" ucap Hanna lagi dengan hati-hati.
"Seperti yang tadi aku bilang Hanna, bagaimana keputusanmu?" jawab dan tanya Jason.
"Aku senang kamu mempunyai perasaan yang lebih terhadapku, terima kasih sebelumnya" ucap Hanna
"Tapi maaf, aku tidak bisa, jangan tanya alasanku karena tidak ada alasan untuk menyukai dan tidak menyukai seseorang" ucap Hanna kembali lembut.
Terlihat raut wajah kecewa di wajah Jason, dia tidak bisa memaksakan kehendaknya, bisa saja Hanna malah menjauh padanya.
"Benarkah?" tanya Jason yang memastikan keputusan Hanna dan Hanna pun mengiyakan ucapan Jason
"Tapi bisakah kita masih tetap berteman?" ucap kembali Jason
" Sejujurnya aku sulit untuk tetap berteman denganmu, karena itu akan lebih sulit untuk melupakanmu untuk menjadi pasanganku" batin Jason.