Dear, My Hanna

Dear, My Hanna
Keputusan Baru



Waktu semakin berganti, detik jam pun semakin berputar tapi kenapa semua itu berhenti bagi Hanna. Sudah berbulan-bulan Hanna seperti ini Brian pun cukup frustasi dibuatnya. Hingga sebuah keputusan pun diputuskan oleh Brian.


"Sepertinya kami harus mencari suasana baru, kami akan pindah dari rumah ini" ucap Brian pada Dika dan Hans.


Mereka rutin untuk mengunjungi Hanna. Demi kebaikan mereka, mereka pun hanya bisa menyetujui keputusan Brian, mereka yakin Brian tidak akan mengambil keputusan yang salah.


"Kamu ingin pindah kemana? jangan jauh-jauh dari kita" ucap Hans yang sangat terpukul sekali dengan keputusan Brian.


"Rencananya kami akan tinggal sementara di tempat paman Mirza, kebetulan rumahnya kosong beberapa waktu ini setelah itu baru aku akan memutuskan untuk tinggal disana atau tidak" jelas Brian pada mereka.


Tempat tinggal paman Mirza memang berada di luar kota, harapan Brian dengan suasana yang baru Hanna dapat sedikit melupakan kenangannya. Walaupun kenangan tidak harus dilupakan, tapi untuk masalah sekarang ini, itulah tindakan yang harus dilakukannya. Terlalu banyak kenangan manis di rumah ini, sebuah kenangan yang amat sulit untuk dilupakan.


"Kapan rencananya kamu berangkat? lalu bagaimana dengan dengan rumah sakit di sini?" tanya Dika


"Secepatnya kalau keadaan di sini sudah bisa ku tinggalkan, aku akan memantaunya langsung dari sana dan aku akan bertugas di sana sementara" jawab Brian


Ya mereka saat ini memutuskan untuk pindah dahulu ke daerah Malang dimana suasana di sana masih sangat alami dan cocok untuk menenangkan pikiran.


"Kami akan mendukungmu dan kami usahakan akan sering-sering berkunjung" ucap Dika


"Hei, sudah banyak kalian berkorban untukku, lebih baik fokus saja pada perusahaan kalian" ucap Brian.


Waktu pun terus berlalu hingga waktu yang ditentukan pun tiba. Tepat hari ini mereka sudah siap untuk berangkat.


"Hati-hati di jalan ya, maaf kami tidak bisa mengantar kalian, kalau saja kamu ijinkan kan kita sekalian liburan" sindir Hans pada Brian


Hingga panggilan mengenai keberangkatan mereka pun terdengar di telinganya.


'Hanna, semoga semuanya berhasil, kita akan memulai hidup baru di sana' batin Brian


Itulah harapan Brian saat ini, berharap Hanna dapat memulai hidup barunya di sana dan akhirnya mereka pun tiba, terlihat paman Mirza sudah menunggunya di bandara.


"Paman" sapa Brian pada Mirza diikuti oleh Hanna, walaupun Hanna hanya berdiri disamping Brian.


"Alhamdulillah kalian sampai dengan selamat, ayo cepat paman antar kalian supaya bisa istirahat" ucap Mirza pada mereka.


Dan mereka pun meninggalkan bandara dan segera pergi ke tempat tujuan mereka. Tercium aroma segar pepohonan yang menembus masuk ke dalam mobil. Terlihat sekilas Hanna menikmatinya dan kemudian mulai memejamkan matanya.


"Biarlah adikmu istirahat dulu Nak" ucap sang paman dan Brian pun mengiyakannya.


Hampir 2 jam akhirnya mereka tiba di tempat tujuan, di sana sudah ada istri paman, bude Reza.


"Ayo Nak masuk!" ajak Reza dan mereka pun mengikutinya.


"Ajak adikmu dulu ke kamar biar dia lanjutkan istrirahatnya" ucap Reza karena memang terlihat sekali wajah lelah Hanna karena perjalanan ini tapi Hanna menggelengkan kepalanya menandakan dia tidak istirahat di kamar.


"Aku mau di situ" ucap Hanna pada Brian sambil menunjukkan telunjuknya ke tempat yang dimaksud.