
Setelah kembalinya ingatan Li, hubungan antara Li dan Hanna pun semakin membaik bahkan lebih dekat dari sebelumnya. Li seperti orang dimabuk cinta, dia enggan untuk berjauhan dengan Hanna.
"Li, bisakah aku bergerak sebentar kalau begini gimana kerjaan aku selesai" protes Hanna pada Li yang saat ini sedang memeluk Hanna dari belakang.
"Kamu kerja, kerja saja aku kan tidak mengganggumu" alasan Li.
"Bagaimana kamu tidak mengganggu kalau tanganku saja susah bergerak" protes Hanna kembali.
Li yang merasa di tolak pun hanya bisa memasang wajah masamnya, dia pun terpaksa hanya menemani Hanna dari sisi lain tapi entah kenapa ini menjadi kegiatan barunya sebab daripada Hanna terjun langsung ke kantor membuat Li kekurangan waktunya bersama dengan Hanna.
Tak terasa jam pun terus berlalu dan sungguh tak di duga oleh Hanna kalau Li tertidur begitu saja di sofa.
"Maaf kalau membuatmu menunggu" ucap Hanna sambil membelai wajah Li.
Karena waktu sudah sore, Hanna pun memutuskan untuk membuat makan malam untuk mereka. Berbagai olahan sedang dibuat oleh Hanna karena dia merasa bersalah membuat suaminya itu menunggu.
Aroma masakan pun terus mengular hingga sampai di indera penciuman Li, dia pun terbangun dari tidurnya.
"Kamu masak apa?" tanya Li yang berjalan menghampiri Hanna.
"Mandilah dulu nanti segera ke sini, aku menyiapkan ini dulu" pinta Hanna sambil menata beberapa hidangan di meja
"Hanna" panggil Li sambil mendekat ke arah Hana
Hanna pun menghentikan aktivitasnya.
"Kamu suka tidak sama anak kecil?" tanya Li
"Suka" jawab Hanna langsung
Hanna yang mendengar ucapan Li pun wajahnya bersemu merah, sungguh dia pun serba salah saat ini.
"Bagaimana kalau malam ini kita buat anak kecil ya?" pinta Li dengan wajah lugunya.
Sungguh Hanna pun semakin salah tingkah, tidak mungkin dia menolak permintaan sang suami apalagi memang sudah kewajibannya memberikan Li keturunan. Hanya saja dia masih sedikit malu untuk melakukan itu apalagi ini untuk pertama kalinya untuknya. Dia yakin walaupun awalnya pernikahan ini hanya kepura-puraan tapi dia yakin lewat jalan itulah akhirnya mereka dipersatukan kembali.
Memang sejak ingatan Li kembali mereka sudah seperti pasangan lainnya hanya saja untuk melakukan hal yang itu mereka belum melakukannya
Hanna tidak bisa berkata-kata dia pun hanya bisa menganggukkan kepalanya.
"Benarkah?" tanya kembali Li dan Hanna pun kembali menganggukkan kepalanya.
Tanpa banyak bicara Li pun segera memboyong Hanna ke dalam kamarnya.
"Kita mau kemana?" tanya Hanna yang terkejut dengan sikap Li.
"Kita buat anaknya sekarang saja" ucap Li tanpa malu kali ini dan dia pun segera memasuki kamarnya.
Entah bagaimana nasib makanan yang sudah tersaji itu.
Waktu terus berlanjut entah apa yang mereka lakukan saat di kamar, saat ini mereka pun turun karena merasa perutnya harus diisi.
"Aku hangatkan saja dulu ya makanannya, ini sudah dingin" ucap Hanna pada Li sambil mencoba mengangkat mangkok yang sudah berisi makanan.
"Tidak usah, biar ini saja kamu jangan terlalu lelah nanti anak kecilnya tidak jadi-jadi" ucap Li sambil menahan tangan Hanna yang hendak mengambil mangkok itu.
Mereka pun saling tertawa mendengar celotehan Li, bagaimana bisa langsung jadi kalau ini saja belum ada satu malam mereka melakukannya.