Dear, My Hanna

Dear, My Hanna
Kenangan



Seminggu sudah sejak kepergian kedua orangtua mereka dan sudah seminggu juga Hanna seperti mayat hidup, sudah banyak upaya yang Brian lakukan tapi usahanya sia-sia tidak ada perkembangan yang berarti seperti saat ini.


"Han, kamu tega membiarkan kakak seperti orang gila yang senang bicara sendiri" goda Brian pada Hanna berharap sang adik menanggapi celotehannya itu.


Tapi semua itu nihil, tidak ada balasan darinya.


Hari pun beranjak malam terdengar keras suara langkah kaki menuju ke luar rumah. Brian yang mendengar itu pun langsung mencari ke sumber suara itu.


"Hanna kamu mau kemana?" tanya Brian yang terkejut dengan sikap Hanna.


"Kak, Daddy dan Mommy pulang itu mereka di depan" jawab Hanna padanya


Brian yang mendengar itu pun langsung melemas di tangkapnya tangan sang adik agar dia tidak beranjak dari tempatnya saat ini.


"Sadarlah Hanna, tidak ada siapa-siapa di luar, kamu pasti mimpi" ucap Brian meyakinkan sang adik.


"Ih kakak, itu suara Mommy, coba dengar?" ucapnya lagi sambil berusaha melepaskan cekalan tangan Brian.


Brian mencoba untuk mengikuti kemauan sang adik. dilepaskanlah cekalannya pada tangan Hanna, diikutinya kemana Hanna akan beranjak dan tibalah di taman.


"Mommy!" panggil Hanna setengah berteriak karena dia tidak melihat Mommynya itu.


"Mommy!" panggilnya lagi dan dia pun segera berkeliling taman tapi langkahnya telah dihentikan Brian.


"Sudah, tidak ada Mommy di sini, ini sudah malam ayo kita masuk" ucap Brian meyakinkan sang adik walaupun sang adik bersikeras kalau ada mereka di sini.


Akhirnya Hanna pun mengikuti Brian untuk kembali ke dalam rumah, kejadian ini sudah sering terjadi dan sudah sering kali juga Hanna keluar rumah tiba-tiba dan berteriak-teriak memanggil kedua orangtua mereka.


Pagi pun tiba dan seperti biasa, perubahan sikap Hanna hanya terjadi pada malam hari kalau pagi tiba Hanna kembali pada diamnya sudah hampir beberapa minggu Brian pun tidak terlalu sering ke rumah sakit, dia lebih fokus mengurus adiknya karena takut adiknya melakukan yang tidak-tidak. Sudah beberapa kali Hanna mencoba lukai dirinya.


- Flashback on-


"Apa yang kamu lakukan hah?" tanya Brian sambil menarik sebuh pisau yang sudah Hanna letakkan di pergelangan tangannya, bila sedikit saja Brian terlambat entah apa yang sudah dilakukannya.


"Katanya kalau aku melakukan ini, aku bisa bertemu Momny dan Daddy" ucapnya dengan polos tapi tidak dengan Brian. Saat ini dia sangat panik dibuangnya pisau itu jauh-jauh


"Kau anggap aku apa hah, kaamu ingin meninggalkanku seperti Mommy dan Daddy meniggalkanku juga?" bentak Brian sambil berusaha menyadarkan Hanna, tapi Hanna hanya terdiam masih dengan tatapan kosongnya.


- Flashback off -


Hari ini mereka kedatangan Dika dan Hans karena Brian ada masalah dengan beberapa rumah sakit cabangnya yang dia tinggalkan beberapa waktu ini.


"Sudahlah, serahkan semua pada kami" ucap Hans pada Brian.


Brian merasa sangat beruntung memiliki sahabat seperti mereka. Mereka pun tidak segan-segan meninggalkan pekerjaannya untuk membantu Brian menjaga Hanna. Setelah beberapa pertimbangan pun Brian akhirnya memutuskan untuk menyelesaikan tugasnya secepat mungkin.


Hanna masih sibuk dengan dunianya sedangkan kedua orang itu sibuk mengatur strategi untuk membuat Hanna berbicara.


"Hei, kemana laki-laki yang sering bersama Hanna? aku sudah lama tidak melihatnya" ucap Hans pada Dika.


Memang Dika pun sudah lama sekali tidak melihatnya.