Dear, My Hanna

Dear, My Hanna
Proyek 2



"Biar aku saja yang pergi" ucap Hanna dan segera berlalu meninggalkan mobil itu.


Setelah kepergian Hanna, Li pun segera pergi menggunakan mobil yang mereka tumpangi tadi.


"Bu, nanti ibu pulangnya bagaimana?" tanya Surya yang khawatir dengan Hanna karena biasanya kendaraan proyek sangat terbatas dan kebetulan sekali hari ini sedang dipakai untuk mengunjungi lokasi lain.


"Tidak usah khawatir lanjutkan saja perkerjaan kalian, aku akan menunggu di dalam" pinta Hanna


Hanna pun langsung menghubungi Brian agar segera menjemputnya.


"Kak, bisa jemput aku di lokasi proyek A?" pinta Hanna pada Brian


" Dimana? kamu sudah gila, untuk apa kamu ke sana?" ucap Brian yang emosi mendengar keberadaan Hanna.


"Sudahlah, cepat jemput aku sekarang!" ucap Hanna setengah berteriak dan langsung mematikan panggilan ponselnya itu.


Tidak butuh berlama-lama akhirnya Brian sampai di lokasi.


"Oh ternyata telingamu sudah kebal ya dengan jeweran kakak, masih tidak mendengar kakak rupanya" sarkas Brian yang saat ini sudah bertemu dengan Hanna.


Dilihat wajah adiknya dan dia yakin kalau ini tidak baik-baik saja, dia pun langsung membawa Hanna tapi tidak pulang ke rumahnya melainkan ke rumah sakit. Hanna yang tahu tujuan kakaknya pun tidak protes karena saat ini kondisi Hanna sangat lemah. Terlihat Brian sedang berusaha menghubungi seseorang.


" Halo" jawab seseorang diseberang sana


"Maaf paman, mungkin hari ini terakhir Hanna membantu paman di perusahaan karena detik ini juga aku melarangnya" ucap Brian sedikit emosi pada Mirza.


"Harusnya paman tahu jawabannya, baiklah aku sedang dalam perjalanan" ucapnya singkat dan langsung mematikan ponselnya begitu saja


Hanna yang mendengarnya pun tidak ingin ikut campur, sebenarnya ada perasaan bersalah pada pamannya itu, dia khawatir itu akan berdampak buruk pada usaha pamannya.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam akhirnya mereka tiba di rumah sakit. Melihat Hanna yang sudah tidur Brian pun langsung membawanya ke sebuah ruangan di rumah sakit itu. Untunglah Hanna hanya kelelahan saja dan sedikit dehidrasi kalau sampai lebih dari itu entah apa yang dilakukannya.


' Siapa sebenarnya Klien paman itu sampai tega-teganya terhadap perempuan 'batin Brian


Sambil menunggu Hanna tidur. Brian pun sedikit menyegarkan diri dengan duduk di taman rumah sakit ini. Banyak pikiran terlintas di benaknya bahkan saat melihat Hanna seperti tadi, dia jadi merindukan kembali sosok kedua orang tuanya. Kedua orangtuanya itu sangat sabar dengan kondisi Hanna sebelumnya, terlihat tenang saat Hanna kembali merasakan sakitnya.


Tapi bagi Brian sekarang itu sangatlah berat, apalagi tipekal adiknya itu sangat tidak ingin merepotkan orang lain, bahkan dia menyembunyikan rasa sakitnya itu seorang diri.


' *Bila suatu saat kamu bertemu dengan jodohmu, mengingat keadaanmu apa aku bisa melepasmu begitu saja' batin Brian


Sedangkan di tempat lain*


"Permisi Mr, bu Hanna sudah kembali dengan dokter Brian tadi" ucap sang asisten padanya.


"Baiklah" jawab Li yang terlihat lega mendengar ucapan dari asistennya itu.


' Siapa Dr Brian? ' batin Li


Semenjak kepulangan Li tadi, dia sangat mencemaskan keadaan Hanna, ingin rasanya dia kembali lagi tadi, tapi itu tidak mungkin karena ada kegiatan lain yang sudah menunggunya.