
Kedatangan Mirza kali ini sungguh di luar dugaan karena kali ini dia tidak sendiri melainkan bersama Li.
"Tadi paman coba hubungi kamu dari ponsel Li karena kebetulan tadi paman tidak sempat pegang ponsel" ucap Mirza.
Apa? berarti tadi itu nomor Li.
Saat Mirza masih berbincang dengan Hanna, Li keluar dari mobil dan menghampiri mereka.
"Bagaimana kalau kita sebentar disini dulu, apa kamu tidak menawari kami untuk sekedar minum" sindir Li pada Hanna.
Seketika Hanna pun kikuk mendengar kata-kata Li dan Mirza pun sungguh tidak menyangka partnernya yang satu ini tertarik untuk berada di sini.
Sebenarnya saat ini bukan jadual pertemuan Mirza dan Li karena mereka sudah membahasnya untuk beberapa bulan ke depan tetapi tiba-tiba saja Li datang mengunjunginya untuk sekedar melihat proyek yang sedang mereka garap.
"Tunggu sebentar Mr, paman Hanna siapkan minuman dan beberapa cemilan dulu ya, mau di taman atau di dalam?" tanya Hanna pada Mirza
"Di taman saja" ucap Li menyela jawaban Mirza.
- Flashback on-
Saat tadi di bandara sebenarnya Li melihat Hanna sedang bercengkerama dengan Ibunya karena dia tahu kalau tiba-tiba saja dia menghampirinya Hanna akan merasa canggung jadi dia hanya menunggunya di tempat lain sampai Hanna pergi, tadinya Li hanya ingin mengantar keponakannya itu kembali tetapi dia berubah pikiran, dia memutuskan untuk memesan tiket ke kota Malang dengan alasan ada pekerjaan mendadak.
"Mah, itu anak kenapa bukannya katanya dia malas kemana-mana?" tanya Richard pada Kimi, dia adalah ayah dari Li.
"Menyusul pujaan hati mungkin Yah" jawab Kimi sambil tersenyum.
"Jangan-jangan dia wanita yang dulu itu?" ucap Richard tiba-tiba dan Kimi pun merasa ada sesuatu yang aneh dengan mereka, kalau alasan Li tidak mengenal Hanna, Kimi tahu alasannya apa tapi Hanna tidak mengenal Li? Apa iya dia wanita yang dimaksud Richard?
Hampir beberapa jam mereka di rumah Hanna, sebenarnya Hanna sedikit canggung dengan keberadaan Li, apalagi mengingat penolakan Li saat di proyek itu.
"Han, maaf ya paman jadi mengganggumu" ucap Mirza yang tidak enak dengan kedatangan mereka.
Tapi ada yang aneh dengan pandangan Li saat ini, apa ada yang salah dengannya?
Sesaat Hanna beralasan untuk masuk sebentar ke dalam rumah dan menuju kamarnya.
"OMG" ucap Hanna terkejut melihat penampilannya kali ini, bagaimana Li tidak heran melihat Hanna yang seperti ini kalau Hanna saat ini sedang menggunakan celana santai pendek selutut dengan kaos sehari-harinya tak lupa dengan kunciran satunya serta sebuah kacamata yang menambah hiasan di kepalanya.
Dia pun segera merapikan dirinya dan segera menemui tamunya itu tapi saat dia baru menuruni tangga, sang paman sudah menemuinya terlebih dahulu.
"Han, paman pamit dulu ya, salam buat Brian" pamit Mirza padanya tapi kemana Li?
' Ternyata dia sudah duduk manis di dalam mobil, sungguh orang yang tidak punya sopan santun ' pikir Hanna
"Baiklah paman, hati-hati ya salam juga buat Bude" ucap Hanna pada Mirza
Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan mereka dan Hanna pun kembali ke kamarnya dan dilihatlah ponselnya yang sedari tadi dia tinggal di kamar.
Seketika mata Hanna melotot melihat sebuah notif yang ada di layar ponselnya dan itu berasal dari nomor yang tadi karena penasaran Hanna pun membukanya.
- Received -
"Terima kasih"