
Semakin hari kondisi Hanna semakin membaik dan saat ini pun dia sudah mulai mengikuti perkuliahan seperti biasanya.
"Terima kasih" ucapnya pada Li.
Ya, sekarang Li sudah seperti sopir pribadi Hanna yang selalu mengantar jemputnya, selagi Hanna nyaman Brian tidak mempermasalahkan hal itu.
"Sudah, cepatlah masuk di sini cuacanya dingin" pinta Li padanya. Hanna pun menuruti perkataan Li dan saat tiba di lorong kampus sang sahabat pun sudah siap merentangkan kedua tangannya untuk menyambut Hanna.
"Princess, bagaimana kabarmu?" tanya Silvy yang sedang sibuk memperhatikan setiap bagian tubuh Hanna seakan-akan ia sedang memeriksa apa ada bagian yang hilang.
"Tidak usah lebay deh Sil, aku baik-baik saja. Bagaimana keadaan kampus, ada kabar apa saja?" tanyanya kembali.
Sambil bergandengan tangan mereka pun menyusuri lorong kampus sambil bercerita tentang keadaan di sana selagi Hanna tidak ada dan tak lupa Silvy pun menginterogasi Hanna perihal kedekatannya dengan Li.
"Bagaimana, bagaimana?" tanya Silvy dengan mata genitnya.
"Apanya?" tanya balik Hanna.
Ih ini anak tidak peka sekali
Setelah tahu maksud perkataan Silvy pun, Hanna hanya bisa mengendikkan bahunya pertanda dia pun tidak tahu perkembangan hubungannya dengan Li karena selama ini hubungannya seperti biasa saja, mungkin ada bedanya dia lebih nyaman bersama dengan Li ketimbang bersama pria lain yang bahkan hanya untuk bertegur sapa dengannya.
Mereka pun tiba diruang kelasnya.
"Hanna, sudah lebih baikkah?" tanya Jason padanya.
"Aku baik-baik saja" jawab singkat Hanna sambil berlalu menuju kursinya yang diikuti oleh Silvy. Melihat tingkah Hanna yang seperti itu Jason pun sedikit kecewa karena sudah beberapa kali perhatiaannya terhadap Hanna tidak dianggap olehnya.
"Kamu tidak mau duduk Jason? ku lihat miss Susi tadi sedang berjalan ke arah sini" ucap kembali Hanna, itulah Hanna dia tidak ingin mengecewakan temannya yang satu ini walaupun dia tahu temannya ini memiliki perasaan lain padanya.
Jason yang mendengar hal itu pun raut wajahnya berubah, dia segera kembali ke kursinya. Itulah salah satu sikap dan sifat Hanna yang membuatnya tidak menyerah untuk mendekati Hanna dan benar saja miss Susi pun sudah mulai memasuki ruang kelas mereka.
Sudah beberapa mata kuliah mereka ikuti dan akhirnya berakhir. Seperti biasa Li pun dengan setianya menunggu Hanna di dekat ruang kelasnya.
"Maaf Li, sepertinya kak Brian kali ini menjemputku" ucapnya pada Li. Li yang mendengarnya pun sedikit kecewa tapi dia tidak bisa berbuat banyak karena beruntunglah yang menjemput Hanna itu Brian bukan pria lain.
"Tidak masalah, aku akan menemanimu menunggu Brian" jawab Li.
Dan mereka pun akhirnya menunggu Brian di kantin sambil memesan sedikit makanan sebagai cemilan dan dengan setianya Li menemani Hanna.
Di saat mereka sedang bersama, terdengarlah dering ponsel Li. Saat Li melihat ponselnya sejenak, dia pun meminta ijin untuk mengangkat teleponnya di lain tempat. Hanna memperhatikan sikap Li saat menerima telepon itu dari ekspresinya yang tegang sampai samar-samar suara kencangnya terdengar ke telinga Hanna. Tidak lama kemudian Li pun mengakhiri pembicaraan teleponnya.
"Maaf membuatmu menunggu" ucap Li, padahal kan Hanna yang membuatnya menunggu tapi kenapa Li yang meminta maaf. "Brian masih lama?" tanyanya kembali.
"Sebentar lagi sampai, kamu kembali saja dulu, aku akan menghabiskan makanan ini sedikit lagi" jawab Hanna, dia pun tidak enak membiarkan Li menunggunya, sedangkan Li sebenarnya tidak ingin meninggalkan Hanna sendiri di sini tapi apa boleh buat dia pun mempunyai kepentingan lain yang harus dikerjakannya.
"Sudah selesai?" sapa seseorang dibelakang Li.