Dear, My Hanna

Dear, My Hanna
Kenyataan



Menikah?


' Apa aku harus menjadi orang ketiga diantara hubungan mereka ' batin Hanna


Hanna kembali terdiam setelah berbicara panjang lebar pada Li.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Li pada Hanna, dia bingung melihat perubahan sikap Hanna.


"Bagaimana dengan istrimu nanti?" jawab Hanna terbata. Itu yang selalu Hanna pikirkan dan salah satu alasannya untuk menjauh dari sini agar Brian tidak mengetahui semua ini.


"Istri, siapa?" tanyanya kembali


"Istrimu, bukankah kamu sudah mempunyai anak, jangan bilang kamu mau berbohong kalau kamu masih lajang" ucap Hanna sedikit emosi karena dia pikir dengan mudahnya tidak mengakui istrinya itu.


"Hei, dia itu keponakan saya, saya benar masih lajang kalau tidak percaya silahkan tanya orangtua saya" ucapnya antusias, Li merasa sudah ada kesalahpahaman di sini.


"Benarkah?" tanya Hanna kembali, jujur saja saat ini hatinya sangat bahagia.


"Ah, panjang ceritanya nanti suatu saat akan saya ceritakan" jawab Li.


Syukurlah, ternyata pilihan Hanna saat ini tidak salah, tinggal tiba waktunya saja dia harus menjalankan semuanya.


Setelah percakapan itu akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke aktivitasnya masing-masing. Li ke kantornya sedangkan Hanna kembali ke rumah sakit dan sekalian membicarakan pertemuan Li dan Brian yang akan datang.


Tak terasa Hanna pun sudah tiba di rumah sakit, dicarilah sang kakak diruangannya.


"Darimana, udah makan?" tanya Brian pada Hanna yang baru saja memasuki ruangannya.


"Sudah tadi sama Li" jawab Hanna santai


Tapi tidak dengan Brian


Hanna tidak ingin kesalahpahamannya berlanjut, akhirnya dia pun menceritakan semua yang dikatakan Li padanya dan saat itu juga Brian sedikit terkejut.


"Akhirnya, kakak punya calon mantu" goda Brian pada Hanna.


"Apa sih? oh iya Li ngajakin makan malam kak, kapan kakak sempat?" tanya Hanna padanya.


"Gimana kalau besok saja" jawab Li spontan


What? Besok?


Secepat itukah, sejauh ini Hanna belum memberitahukan perihal rencana pernikahannya yang saat ini dia katakan hanya tentang pertemuan makan malam saja karena sudah lama mereka tidak bertemu. Untuk saat ini Hanna sedikit berbohong pada kakaknya.


Setelah mendapat jawaban dari kakaknya, Hanna pun memberitahukan pada Li tentang pertemuan dengan kakaknya dan Li pun menyetujuinya.


Sungguh dari awal Hanna mengatakannya pada Brian, sepanjang perjalanan Brian selalu saja menggodanya. Hanna yang digoda pun sangat tidak nyaman dengan ulah sang kakak.


"Kak, aku turun yah" ancam Hanna pada Brian.


"Eh jangan-jangan, iya kakak ga bakal ledekin kamu lagi, lagipula kalau kamu sudah ada yang punya kakak mana ada waktu seperti ini, kamu lupa saat Li dekat denganmu waktu kuliah, bahkan kakak saja harus merayunya supaya kakak bisa menjemputmu" ucap Brian


Hanna yang mendengar curahan hati sang kakak menjadi sangat sedih, sebentar lagi dia akan meninggalkan kakaknya itu, dia berharap kakaknya dapat menemukan seseorang yang tepat, yang mengurusnya dengan baik tanpa diganggu olehnya.


"Maaf" ucap Hanna


Akhirnya tidak ada celotehan lagi yang terdengar, mereka sibuk dengan pemikiran masing-masing, ditambah dengan tubuh yang mulai lelah setelah seharian beraktifitas.


Hingga tibalah mereka di rumah dan mereka pun memasuki kamarnya masing-masing. Terlihat Hanna sedang mencoba menghubungi seseorang, di lihat dari wajahnya seperti dia mempunyai sebuah harapan pada orang itu.


"Halo mba" ucap Hanna pada orang itu.