
Setelah pemikiran panjang mengenai rencananya itu akhirnya Hanna tidak begitu saja meninggalkan sang kakak seorang diri. Dia teringat seseorang dan dihubungilah orang itu.
"Hallo mba" sapa Hanna pada Risa
" Ya Han, tumben telepon ada apa?" tanya Risa yang merasa heran.
"Mba kapan-kapan kita ketemuan yuk, nanti aku kabari waktunya, mba harus bisa pokoknya" paksa Hanna pada Risa
" iya-iya tapi jauh-jauh hari ya soalnya kan kamu tau sendiri pekerjaan mba" balas Risa.
Setelah Hanna melaksanakan tugasnya akhirnya dia bisa beristirahat dengan tenang, dia berharap besok akan berjalan lancar tanpa hambatan.
Hingga hari yang ditunggu pun tiba.
"Tuh dia" tunjuk Hanna ke arah Li yang sedang menunggunya, dia sudah tiba lebih dulu padahal Hanna sudah berangkat lebih awal tapi tetap saja dia yang lebih dulu, susah memang kalau punya jiwa pengusaha itu.
"Ayo" ajak Brian untuk menghampiri Li.
Sesampainya di tempat itu, mereka pun saling bertukar pandang.
' bukankah ini yang sering mengantar jemput Hanna? jangan bilang kalau dia kakaknya' batin Li
"Kenalkan ini kak Brian, kakakku" Hanna mengenalkan Brian pada Li sedangkan Li hanya terpaku ternyata pemikirannya salah selama ini, orang yang dikira sedang dekat dengan Hanna ternyata kakaknya sendiri.
"Hei, apa kabar, kemana saja kamu baru kelihatan?" tanya Brian. Sejenak Brian pun bingung kenapa Hanna mengenalkannya kembali. Memangnya dia sudah lupa dengan Brian.
"Saya baik-baik saja, silahkan duduk" balas Li pada Brian
Suasana saat ini sedikit canggung karena entah kenapa bagi Brian pun Li seperti orang lain yang baru mengenalnya tapi tidak dengan Hanna, dia seperti sudah akrab.
"Apa?" tanyanya singkat.
"Saya ingin mempersunting adik anda" ucapnya to the point
What? Secepat ini kah kenapa Li tidak berbicara dulu dengan Hanna.
"Semudah itukah aku mengijinkanmu menikah dengan adikku?" ancam Li, padahal itu salah satu tujuan Brian untuk mengetes Li, apakah dia pantas untuk adiknya atau tidak.
"Percayalah pada saya, tanyakan saja pada adikmu kalau dia tidak bersedia, saya tidak akan memaksanya" ucap Li berusaha meyakinkan Brian
Di genggamnya punggung tangan Hanna oleh Li berusaha meyakinkan kalau semuanya akan baik-baik saja, Brian yang menyadari itu berusaha untuk menerima kalau adiknya itu sudah memiliki orang lain yang bisa menjaganya.
"Bagaimana Han?" tanya Brian mencoba meyakinkan keputusannya.
"Aku mau kak" ucap Hanna yakin, dia berusaha meyakinkan diri kalau keputusan ini adalah yang terbaik untuk semuanya.
Setelah mendengar jawaban Hanna, Brian pun akhirnya menyetujui rencana mereka.
"Kapan kalian akan menikah?" tanya Brian pada mereka.
"Secepatnya setelah saya membawa Hanna untuk bertemu kedua orangtua saya" jawab Li yakin
Apalagi ini Li, kenapa semua skenario itu seperti berasal darinya bahkan Hanna pun tidak mengetahui akan ada kejaidan apalagi setelah ini, bagaimana kalau nanti Brian bertanya macam-macam padanya, Hanna takut kalau dia salah bicara malah menggagalkan semua rencananya.
"Baiklah, aku harap kamu bisa menjaganya, dia malaikatku satu-satunya yang aku punya, sekali saja kamu melukainya, jangan harap kalau kamu juga akan tetap baik-baik saja" ucap Brian menyetujui rencana Li padahal sepertinya nada itu berupa ancaman mematikan untuk Li.