Dear, My Hanna

Dear, My Hanna
D-day 4



Brian mengajak Hanna ke ruang istirahat, tadinya dia malah ingin langsung membawa Hanna ke kamarnya tapi Hanna menolak karena tidak enak dengan keluarga Li.


Diambilkannya segelas air putih hangat dan beberapa butir obat yang sudah Brian siapkan untuk berjaga-jaga disaat seperti ini.


"Minumlah" pinta Brian pada Hanna.


"Tidak kak acara ini belum selesai kalau aku meminumnya sekarang aku akan mengantuk" tolak Hanna pada Brian.


"Masihkah kamu memikirkan orang lain disaat seperti ini, kamu memikirkan perasaan keluarga mereka tapi kamu tidak memikirkan perasaanku" marah Brian pada Hanna, sungguh Brian sangat mengkhawatirkan Hanna sekarang, terlihat raut wajah frustasi di wajah Brian.


Hanna tidak ingin membuat Brian khawatir, diambillah obat itu kemudian dia meminumnya, dia tidak memikirkan bagaimana kondisinya setelah dia minum obat nanti.


Di sandarkannya tubuh Hanna pada sofa panjang yang tersedia disana, di lepasnya high heels yang dikenakan Hanna dan terakhir Brian memberikan jasnya untuk membalut tubuh Hanna. Dipijatnya kaki Hanna agar dia bisa releks dan mulai terlihat Hanna sudah nyaman dengan posisinya sekarang.


Saat Li kembali ke singgasananya dia tidak melihat Hanna. Dia pun berusaha mencari Hanna karena memang sejak tadi ada beberapa kolega penting yang datang menyapanya jadi Li pun terpaksa meninggalkan Hanna sendiri di tempatnya.


Karena Li teringat kondisi Hanna sebelum acara ini dia pun langsung mencarinya di kamar tapi nihil tidak ada tanda-tanda Hanna mendatangi kamarnya ini.


"Jangan-jangan dia kabur, apa aku sudah keterlaluan terhadapnya?" monolog Li dia pun tak kalah frustasi kehilangan istrinya ini.


"Mom Dad, lihatlah putrimu sekarang sudah menjadi seorang istri tetapi dia tetap adik kecilku, sebentar lagi aku harus melepasnya Mom tapi aku takut kalau suaminya nanti tidak bisa menjaganya" sesaat Brian terdiam


"Hanna sampai kapan kamu akan terus menyembunyikan rasa sakitmu demi orang lain, apa aku bisa melepasmu begitu saja kalau kamu seperti ini" monolog Brian sambil tetap memijat kaki adiknya itu dan tak sekali dia mengusap wajah basahnya.


Li pun menghampiri Brian dan berusaha menenangkan sang kakak ipar.


"Li, jika suatu saat kamu sudah tidak mencintai adikku, kembalikanlah dia padaku tanpa menyakiti hatinya" ucap Brian pada Li dia masih terasa amat berat melepas adik semata wayangnya.


"Brian, apapun yang terjadi nanti saya janji, saya akan menepati janji saya di hadapan Tuhan" ucap Li pada Brian.


Entah kenapa sekarang Li merasa pernikahan ini seperti pernikahan sesungguhnya, banyak doa dan harapan yang diberikan orang-orang padanya dan dia pun tidak ingin menyia-nyiakan ini. Tapi karena egonya yang terlampau besar dan dia bukanlah tipe yang romantis jadi dia tidak pandai mengutarakan perasaannya yang ada malah selalu menyinggung perasaan Hanna oleh karena itu dia lebih banyak diam saat bersama Hanna.


"Sekarang bawalah istrimu istirahat dan setelah dia bangun nanti jangan lupa ingatkan dia untuk meminum obatnya kembali, sekarang hanya kamu yang aku percaya untuk menjaganya" ucap Brian pada Li.


Li pun segera membawa Hanna menuju kamarnya biarlah malam pertama ini seperti malam-malam sebelumnya saat mereka belum bersama dalam ikatan pernikahan.


' karena untuk menghindari perhatian ini tujuan kamu menikah denganku ?' batin Li