
Ini seperti mimpi buruk tak berkesudahan. Kenapa semua ini harus terjadi secepat ini?
"Kak, kenapa dengan orang-orang itu? kita mau kemana sebenarnya?" tanya Hanna kali ini memastikan rasa penasarannya.
"Han" panggil Brian, dia sudah tak sanggup untuk memanggil nama lengkap Hanna.
Didekaplah tubuh sang adik dengan erat, perlahan pun airmatanya kembali turun membasahi pipinya. Hanna yang merasakan itu langsung melepaskan pelukan Brian.
"Apa yang sebenarnya terjadi, cepat katakan padaku" ucap Hanna kali ini dengan lantang bahkan suaranya nyaris bergetar.
"Tenanglah dulu kami akan menjelaskan semuanya" ucap Dika kali ini
"Bagaimana aku bisa tenang, kalau kalian hanya bisa seperti ini?" saut Hanna
Akhirnya Dika menjelaskan kronologi peristiwa itu sehingga sudah di duga Hanna pun tidak sanggup untuk menerimanya dan akhirnya tumbang.
"Sudahlah Bri, biar Hanna aku yang urus kalian jangan khawatir, kamu berangkat saja dengan Hans" pinta Dika pada Brian.
Brian sangat berat hati untuk meninggalkan sang adik yang sedang tak sadarkan diri, tapi dia harus memastikan keadaan kedua orangtuanya disana. Akhirnya mereka pun berangkat dan meninggalkan Hanna dan Dika saat ini. Dika pun segera membawa Hanna ke rumah sakit terdekat untuk memastikan keadaannya.
Selang beberapa waktu Hanna pun tersadar, terlihat raut wajah bingungnya melihat keadaan sekitarnya.
"Dimana kak Brian?" tanyanya pada Dika yang sedang menunggunya.
"Brian sedang memastikan keadaan disana, berdoa saja semoga semua baik-baik saja ya" jawab Dika.
Untuk saat ini mungkin Dika masih bisa menghandle Hanna, tapi dia tidak bisa menjamin bila pernyataan itu benar, apa yang akan terjadi dengan Hanna.
Dilihatnya wajah kosong Hanna yang sedang memandangi tembok kosong rumah sakit ini.
Sudah 2 hari Brian pergi, selama 2 hari itu juga Hanna menunggu Brian tanpa henti, sebenarnya Dika sudah mengetahui keadaan yang sebenarnya tapi untuk saat ini lebih baik dia menutupinya.
"Kak, kak Brian belum menghubungimu?" tanya Hanna pada Dika
"Belum Han, mungkin di sana tidak dapat sinyal" jawab Dika.
Tiba-tiba di depan pintu kamar Hanna terlihat seseorang dengan wajah lelahnya tak dipungkiri ke dua matanya sudah sembab bekas lelehan airmata. Dihampirinya Hanna dengan perlahan.
"Kamu yang tabah ya" ucap Li dengan suara paraunya.
"Dimana Mommy dan Daddy kak? kakak bawa mereka pulang kan?" tanya Hanna dan Brian pun mengaggukkan kepalanya.
Benar kalau Brian membawanya pulang tapi tidak dalam kondisi bernyawa melainkan sudah menjadi jasad, beruntung saja jasad kedua orangtuanya masih utuh dan lebih mudah dikenali. Oleh karena itu, dia lebih cepat membawanya kembali.
"Ikut kakak ya?" pinta Brian dan Hanna pun menurutinya.
Hanna pun menoleh ke sana kemari, ini bukan menuju ke ruang perawatan atau minimal ruangan ICU yang menandakan orangtuanya masih membutuhkan perawatan yang lebih, itu tidak masalah bagi Hanna yang penting orangtuanya masih hidup.
Tapi sepertinya kali ini Tuhan tidak mengabulkan keinginanannya.
"Kenapa kakak membawaku ke sini, aku tidak mau?" ucap Hanna pada Brian, dia pun segera menarik kedua tangannya yang saat ini dipegang oleh Brian.
"Kamu harus menerimanya" pinta Brian pada Hanna terlihat raut wajah Dika dan Hans yang melihat situasi seperti ini, ingin rasanya mereka pergi dari sini.
Tapi sepertinya itu tidak mungkin mereka membutuhkan dia dan Hans.