
Karena sebuah suara akhirnya Hanna terbangun, dilihatnya ke arah jam dinding sudah menunjukkan pukul 5 sore kemudian dia beralih ke asal suara dan itu adalah suara Li.
"Sampai kapan kamu mau membuat orang hanya menunggumu di depan pintu" sarkas Li pada Hanna
Hanna yang menyadari kesalahannya berusaha untuk bangun sesegera mungkin tapi saat dia hendak bangun tiba-tiba saja kepalanya terasa sangat pusing dan hampir terjatuh kalau tidak ditanggapi oleh Li.
"Hei apa-apaan kamu ini" ucap Li seperti membentak pada Hanna.
Hanna yang mendengar bentakan itu pun nyalinya menciut dia hanya terdiam merasakan tubuhnya yang lemas sedikit gemetar. Li yang menyadari hal itu merasa bersalah.
"Cepatlah ke ruang ganti" ucap Li dan dia segera berlalu meninggalkan Hanna
Setibanya Hanna di kamar mandi, airmata yang sempat ditahannya tak terasa langsung menetes membasahi pipinya.
"Ini baru hari pertama aku bersamanya, apa aku bisa kuat menjalani sisa hari-hariku bersamanya?" monolog Hanna.
Karena waktu yang terus berlalu Hanna pun tidak ingin mengecewakan semua orang, dia segera menuju ruang ganti yang sudah disiapkan di kamar sebelahnya.
"Maaf aku terlambat" ucap Hanna merasa bersalah kepada orang-orang di sana. Ternyata diruangan itu sudah ada Kimi.
"Tidak apa-apa Nak, kenapa wajahmu seperti ini?" ucap Kimi yang bingung melihat wajah Hanna yang sembab dan wajahnya yang pucat.
"Ma, tolong jangan biarkan orang masuk selain yang di sini" pinta Hanna pada Kimi, Hanna takut kalau tiba-tiba saja Brian masuk dan melihat kondisinya, itu sudah dipastikan acara ini akan gagal total.
"Tapi kamu yakin baik-baik saja?" tanya Kimi.
Akhirnya wajah Hanna pun sudah mulai dirias, perlahan-lahan sudah terlihat wajah cantiknya di lengkapi dengan gaun sederhana tapi elegan yang akan dia kenakan saat acara nanti.
"Wah Li sangat tidak salah memilih pasangan untuk jadi menantu mama" puji Kimi pada Hanna
Setelah semua rapi mereka pun bergegas untuk turun ke tempat acara dilangsungkan. Terlihat tatapan Li yang sangat terpesona pada sosok Hanna tapi bagi Hanna itu hanya harapan semu untuk berharap seperti itu.
"Coba lihat pangeranmu saja sampai terkesiap seperti itu" ledek Kimi melihat putranya saat ini hanya diam mematung melihat sosok Hanna.
Li pun menghampiri Hanna dan menyambutnya. Saat Li melakukan itu Hanna merasa tersipu karena hampir dari tamu undangan memberikan tepuk tangan untuk mereka.
"Ku harap kamu jangan terhanyut dengan keadaan sekarang karena semua hanya kenyataan semu, setelah hari ini berakhir maka kita mulai kehidupan kita masing-masing" bisik Li pada Hanna
Setega itukah Li pada Hanna, setidaknya biarkan Hanna merasakan kebahagiaannya saat ini walaupun hanya sementara. Hanna pun menyadari kehadirannya hanyalah sebagai peneman sandiwaranya Li.
Semakin malam pesta pun semakin meriah banyak acara-acara berlangsung. Raut wajah orangtua Li pun tidak henti-hentinya tersenyum sayangnya saat ini Aulia sudah tidak bersama dengan mereka di sini. Dia sudah kembali sore tadi. Begitu juga dengan Brian, dia tampak bahagia melihat senyum adiknya itu. Berharap senyuman kebahagiaan itu akan terus ada menemani hari-hari Hanna.
Pesta tak kunjung usai, kepala Hanna terasa semakin pening, tiba-tiba pandangannya gelap dan telinganya seperti tertutup, hening yang dia rasakan saat ini. Dia langsung terduduk di tempatnya.
Brian yang menyadari keadaan Hanna segera menghampirinya.
"Ayo cepat ikut kakak" ucap Li sambil memboyong Hanna ke suatu tempat.