Dear, My Hanna

Dear, My Hanna
Tak diduga



"Hanna, nanti ada klien paman akan datang tapi paman harus ke suatu tempat dulu, nanti kamu yang temani ya?" pinta Mirza pada Hanna.


Saat ini sudah 3 tahun berlalu sejak magang Hanna, sebenarnya Hanna sudah mempunyai sebuah kantor kecil tapi cukup ternama hanya saja saat ini sang paman sedang membutuhkan bantuannya untuk menggantikan asistennya yang sedang cuti selama beberapa bulan.


"Baiklah paman, jam berapa rencananya?" tanya Hanna


"Mungkin sekitar jam 1 siang nanti soalnya dia langsung mendarat dari Jerman" ucap Mirza.


' Waw, lumayan jauh juga memangnya dia tidak lelah ' batin Hanna


Akhirnya Mirza pun segera pergi mengurusi pekerjaannya yang lain sedangkan Hanna hanya menunggu klien tersebut sambil membereskan beberapa pekerjaannya sebelum waktunya tersita dengan kedatangan tamu itu.


Ketika Hanna sedang sibuk dengan kegiatannya, pintu ruangan Hanna ada yang mengetuk.


"Masuk" pinta Hanna pada seseorang di luar.


"Permisi bu, klien yang dimaksud Pak Mirza sudah datang sekarang ada di ruang tunggu" ucap Susi


"Baiklah, aku akan segera kesana, terima kasih" balas Hanna dengan ramah


Inilah sifat dan sikap Hanna yang disukai para karyawan di sini dia tidak memandang siapa mereka, karena Hanna berpikir kalau dia pun sama-sama pegawai disini.


Setelah membereskan pekerjaannya Hanna pun segera menemui klien tersebut dan saat memasuki ruang tersebut klien itu sedang membelakangi dirinya.


"Selamat siang Mr" sapa Hanna pada klien tersebut sambil berjalan menghampirinya dan saat klien itu menoleh kearahnya.


Tubuh Hanna mendadak kaku seketika.


Hanna yang mendengar jawaban dari orang itu pun sungguh terkejut, kenapa ekspresinya seperti ini setelah lama mereka tidak bertemu haruskah dengan cara seperti ini.


"Kenapa kamu bisa disini?" tanya Hanna heran padanya.


"Saya ada urusan dengan pak Mirza ternyata dia malah mengutus wanita seperti anda" ucapnya sedikit menyingung perasaan Hanna.


Wanita seperti Anda ? wah itu terlalu kasar untuk dikatakan pada Hanna.


"Maksud kamu apa?" tanya Hanna padanya dengan sedikit menaikkan nada suaranya.


Tapi klien itu malah mengambil sebuah ponsel dari sakunya dan menghubungi seseorang.


"Pak Mirza saya sudah dikantor Anda, apa Anda masih lama kalau tidak saya akan segera kembali. Oh iya lain kali kalau anda mengutus seseorang tolong siapkan seseorang yang pantas untuk menerima seorang klien penting" ucapnya panjang lebar pada Mirza.


Hanna yang mendengar perkataan orang itu pun semakin kesal. Kalau bukan karena pamannya dia pun tidak sudi untuk menghadapi orang yang satu ini, ternyata orang ini mempunyai kepribadian ganda, dimana sikapnya yang dulu lembut walaupun terkadang cuek, tidak seperti sekarang ini sangat mengecewakan.


"Saya mohon maaf Mr. apabila saya kurang sopan dalam menyambut Anda di sini, saya harap Anda dapat menerima permintaan maaf dari saya" ucap Hanna yang sedikit memohon. Karena tidak mungkin gara-gara dia nanti pamannya itu kehilangan seorang klien besar.


"Perkenalkan saya Hanna, untuk sementara saya yang akan menemani Anda" ucap Hanna sambil memperkenalkan dirinya dan tidak lupa dia pun mengulurkan tangannya berharap dia juga menyambutnya.


"Li" ucapnya singkat.


Tapi itu tidak seperti dengan pemikiran Hanna, dia bahkan mengacuhkan uluran tangan Hanna. Orang yang menjadi klien Mirza adalah Li, seseorang yang pernah masuk di hati Hanna, seseorang juga yang menutup pintu hati Hanna.