
Sudah 2 hari lamanya Brian belum mendapat kabar dari kedua orangtua. Perasaannya pun menjadi tidak tenang apalagi ketika mendapat pertanyaan dari sang adik, soalnya ketika Brian menghubungi ponsel keduanya pun masih dalam mode tidak aktif.
"Coba kakak nanti tanyakan ke sana mungkin saja ada delay" jawab Brian yang mencoba menenangkan Hanna dan baru saja Brian berucap tiba-tiba dering ponselnya berbunyi dilihat tidak ada nama yang tertera dalam layar ponsel tersebut.
"Hallo" jawab Brian
"..."
"Baiklah saya akan segera ke sana" jawabnya dengan tergugup dan seketika itu juga panggilan itu terputus.
"Hanna, kakak ada urusan sebentar, kamu tunggu di rumah jangan kemana-mana!" pinta Brian dan dia pun segera pergi.
Setibanya ditempat yang dimaksud, ternyata tempat itu sudah dipenuhi beberapa orang bahkan sebagian sudah menangis histeris, jujur saja sebenarnya perasaan Brian sangatlah panik, ini seperti mimpi buruk untuknya.
"Bagaimana, ada kabar?" tanya Hans padanya dan Brian hanya menggelengkan kepalanya.
Karena sesaat dia mendapat kabar itu, Brian langsung menghubungi Hans untuk menemaninya.
"Sabarlah kita berharap semuanya akan baik-baik saja" ucap Hans menenangkan Brian.
Setelah hampir 2 jam menunggu akhirnya mereka mendapat kabar dan itu merupakan kabar buruk bagi semua orang di sana.
Seketika itu juga Brian menangis keras dipelukkan Hans, Hans pun panik melihat seorang Brian yang biasanya terlihat tegar dalam menghadapi apapun menjadi seperti ini.
" Apa yang harus aku katakan pada Hanna, Hans?" tanya Brian disela tangisnya pada Hans
"Kita akan bicarakan perlahan padanya, tenangkanlah dirimu terlebih dahulu, bagaimana nanti Hanna melihatmu yang seperti ini" jawab Hans
Saat ini Brian dan Hans sedang berada di dalam bandara tepatnya tadi siang di saat Brian mendapat panggilan telepon itu berasal dari salah satu pihak maskapai penerbangan yang memberangkatkan kedua orangtuanya ke Jerman. Mereka memberitahukan bahwa pesawat yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan tidak jauh setelah lepas landas.
Sesampainya di rumah terlihat sepi, Brian dan Hans pun segera mencari keberadaan Hanna dan benar saja saat ini Hanna sedang berada di dalam kamarnya sambil bersimpuh memegangi sebuah bingkai yang hancur kacanya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Brian pada Hanna sambil menyingkirkan bingkai kaca yang sudah berantakan itu.
"Kenapa foto ini bisa terjatuh ka? perasaanku sangat tidak nyaman" tanya Hanna pada Brian.
Untuk saat ini Brian bingung ingin menjelaskan apa bahkan lidahnya pun kelu untuk memberitahukan Hanna.
"Hanna, tolong kamu bereskan perlengkapanmu, aku akan mengajakmu ke suatu tempat" pinta Hans padanya.
"Kemana?" tanyanya kembali dan dilihatnya wajah Brian yang sangat kacau.
"Ikutlah nanti kamu akan tahu, cepat kita tidak punya banyak waktu" ucap kembali Hans.
Dari pihak maskapai itu memang hanya memberikan waktu 3 jam untuk bersiap menuju tempat jatuhnya pesawat tersebut.
Hanna pun mulai berkemas dan bersiap untuk pergi, tak lama Dika pun datang untuk pergi bersama mereka.
"Kenapa kalian tidak kasih tahu aku sebelumnya sih kalau mau pergi?" tanya Hanna pada mereka karena dia berpikirnya mereka ingin mengajak Hanna liburan apalagi sekarang mereka sudah tiba di bandara.
Seketika itu juga Hanna menimbulkan raut wajah bingungnya melihat keadaan sekitarnya.
"Apa sebenarnya yang sedang terjadi kak?" tanya Hanna pada Brian