
Ternyata pikiran Brian tidak berhenti begitu saja.
"Waktu itu kamu diundangnya Han?" tanya Li tiba -tiba pada Hanna, memang Brian tidak mengetahui ada hubungan apa Li dengan Hanna.
Hanna pun juga tidak bisa menyalahkan Li sepenuhnya karena memang mereka tidak memiliki ikatan apapun.
"Ya mana aku tau, orang dia saja ngilang gitu aja" jawab Hanna dengan wajah kesalnya
Brian yang melihat ekspresi adiknya itu tertawa terbahak.
"Jadi kamu cemburu? sudahlah Han dia sudah punya keluarga, lagian kamu sih kalah cepat" ledek Brian padanya
Hanna yang mendengar ledekkan kakaknya pun sangat kesal, dia pun langsung diam tidak melanjutkan percakapannya itu.
Tibalah mereka di rumah, sesekali Hanna merasakan perasaan sedih saat kembali ke rumah ini tapi dia pun tidak ingin berlarut-larut.
Karena tidak ada kegiatan lain. Hanna pun memainkan ponselnya itu dan ketika dia melihat aplikasi media sosialnya dia melihat profil Silvy dan ketika itu juga dia merindukan temannya yang satu ini mumpung dia ada di Jakarta. Sudah lama mereka tidak berkabar berita dan mungkin saja kontaknya sudah diganti, akhirnya Hanna pun mencoba untuk memberi komentar di salah satu foto Silvy.
Pucuk dicinta ulam pun tiba, Silvy langsung membalas komentar Hanna itu dan mereka pun melanjutkan ke aplikasi pesan yang tersedia dan kemudian saling bertukar kontak.
"Hai Han, gimana kabar kamu?" ucap Silvy
"Aku baik-baik saja, wah tambah eksis ya sekarang" ledek Hanna padanya
Mereka pun akhirnya menumpahkan rasa rindu mereka masing-masing dari mulai awal kepergian Hanna yang begitu saja dan merubah suasana percakapan itu menjadi sedikit mellow ketika mendengar cerita Hanna, ingin rasanya saat itu Silvy menemani Hanna tapi dia juga tidak mengetahui keberadaannya.
"Eh Han, kamu sudah bertemu Li?" tanya Silvy tiba-tiba
"Kenapa memangnya?" tanya balik Hanna
"Ya ga apa-apa sih, kita ketemuan yuk lagian kan kamu ga lama di sini" pinta Silvy yang merindukan temannya ini.
Pagi pun tiba
"Han beberapa hari ini kakak mau mengecek keadaan rumah sakit ya, mumpung kita di sini" pinta Brian pada Hanna
"Iya ga apa-apa, oh iya kak, Silvy ngajakin aku ketemuan, boleh ya" pinta balik Hanna
"Ya bolehlah, tapi nanti perginya sama pak Soleh ya ga boleh pergi sendiri" larang Brian yang mengkhawatirkan Hanna.
"Siap bos" jawab Hanna
Hanna tidak ingin pikiran kakaknya terpecah oleh keberadaannya, dia pun hanya menuruti keinginan Brian.
Hingga hari yang di janjikan pun tiba.
"Hanna" sapa Silvy sambil memeluk Hanna, dia sangat-sangat merindukan Hanna tanpa sadar airmatanya menetes, tapi itu adalah airmata bahagianya.
"Ih apa-apaan sih pake tangis-tangisan segala" ledek Hanna
Mereka pun melepaskan rasa rindunya dengan bercanda ria di sebuah cafe itu. Mereka tidak ingin hari ini cepat berlalu karena mereka pun tidak tahu kapan mereka akan bertemu lagi. Sesaat perhatian Hanna teralihkan oleh pertanyaan Silvy padanya.
"Han, kamu belum jawab pertanyaanku kemarin, kamu sudah bertemu Li?" tanya Silvy
"Kenapa memangnya?" jawab Hanna cuek pada pertanyaannya.
"Waktu itu Li seperti orang gila mencari-cari kamu tau, bahkan sehari bisa berapa kali dia mendatangi aku hanya untuk menanyakan kabarmu" jawab Silvy padanya
' Apa maksud semua ini ' batin Hanna