Dear, My Hanna

Dear, My Hanna
Pertemuan



Seketika Hanna terdiam, ingin rasanya dia langsung menghilang, di lihatnya ke arah luar Jason masih berdiri menunggunya sedangkan saat ini Li sedang menahan dirinya.


"Benar kata Li, habiskan dulu makananmu nak" ucap Richard pada Hanna.


Saat ini sang ayahlah yang bicara, tidak mungkin dia pergi begitu saja.


"Baiklah tapi saya kasih tahu teman saya dulu ya pak biar menunggu sebentar" ucap Hanna sopan padanya


"Bilang sama temanmu tidak usah menunggu biar aku yang mengantarkanmu" ucap Li tiba-tiba sambil melanjutkan makannya.


' Apa aku tidak salah dengar yang ada nanti aku ditinggal di tengah jalan olehnya ' batin Hanna


Karena Hanna tidak ingin membiarkan Jason menunggunya lama, dia pun segera menemuinya dan mengatakan yang Li katakan tadi, beruntunglah Jason tidak mempersulitnya. Setelah kepergian Jason, Hanna pun kembali melanjutkan makan bersamanya.


Tak terasa makanan yang di meja pun sudah mulai habis.


"Hanna, kapan-kapan main ya ke rumah ibu" pinta Kimi pada Hanna, Hanna pun hanya tersenyum mendengar permintaan Kimi.


"Ibu serius loh, ko kamu malah senyum-senyum" ucapnya kembali


"Iya nanti kalau saya ada waktu ya bu, lagi pula kan saya tidak tahu dimana rumah ibu" ucap Hanna padanya


Kimi pun menjelaskan detail alamat rumahnya dan ternyata mereka tinggal di kota ini, pantas saja dulu waktu Li di Jakarta dia sering sekali bolos, mungkin karena rumah orangtuanya pun jauh. Itu yang Hanna pikirkan sekarang.


Setelah mereka selesai berbincang Li pun menepati janjinya untuk mengantarkan Hanna kembali ke hotelnya.


"Mah, Pah, saya antar Hanna dulu ya" pamitnya pada orangtuanya


"Hati-hati di jalan ya, jangan lupa nanti bawa main ke rumah ya nak" ledek Kimi pada Li.


Sepanjang perjalanan tidak ada perbincangan sedikitpun yang mereka bicarakan. Tipikal Hanna memang pendiam apalagi dengan lawan jenisnya, mungkin saat ini akan berbeda kalau saja dia masih Li yang dulu.


"Dimana alamat hotelmu?" satu pertanyaan terlontar dari mulut Li dan Hanna pun menjelaskan alamat hotelnya itu.


Karena jarak hotel yang tidak terlalu jauh mereka pun tiba dengan cepat.


Saat Li memperhatikan keadaan hotel itu


"Kamu tinggal di sini?" tanya Li yang heran dengan pilihan Hanna.


Bagaimana Hanna mau menolaknya kalau hotel ini sudah dipesankan oleh kliennya, dia tidak mau terlalu membebani kliennya itu karena Hanna tidak pernah mengambil klien di lihat dari besar atau kecilnya proyek tersebut, di saat kliennya itu senang disitulah tujuan Hanna.


"Iya, terima kasih sudah mengantarkanku" ucap Hanna dengan sungkan


"Ambil perlengkapanmu yang penting-penting saja, habis itu ikutlah denganku" perintahnya berasa dia adalah bosnya di sini.


Kenapa dia jadi mengatur Hanna, memangnya dia siapa?


Hanna pun segera masuk ke dalam hotelnya itu dan tidak menghiraukan perintah Li tadi karena dia pikir untuk apa juga dia ikut suami orang kalau sampai istrinya melihatnya bisa jadi dilahapnya dia.


Hampir 1 jam Li menungu Hanna di bawah tapi sampai sekarang belum terlihat juga kedatangannya, dengan emosi tertahan akhirnya Li pun memasuki hotel itu dan bertanya dimana kamar Hanna menginap. Ternyata bukan tempatnya saja yang sangat tidak nyaman menurutnya bahkan dari segi keamanan pun sangatlah buruk, dengan mudahnya mereka memberikan letak kamar Hanna. Tanpa menunggu lama Li pun mencari kamar itu dan tibalah dia di sana.


"Mau aku seret atau keluar sendiri" ancam Li padanya.