
Bagai tersambar petir di siang hari, Ily sangat terkejut akan apa yang di ucapkan oleh suaminya .
"Tae bohong kan?? Tae bohong kan sama Ily?" Ucap Ily dengan nada getir nya.
"Tidak sayang... maafkan aku Queen.. maafkan aku karena telat mencegah kejadian ini hiks.. hiks" Tae memeluk Ily dengan erat, padahal ia berjanji tidak akan menangis lagi . Tapi kehilangan seorang anak? Siapa yang tak akan bersedih akan hal itu?
"Yang mana?"
"Boy... " ucap Tae dengan lirihnya
"Boy???.. dan sekarang mana baby girl nya Tae... Ily mau lihat bayi Ily"
"Iya sayang, kita pasti akan liat bayi kita, dan acara pemakaman baby boy sore nanti akan dilaksanakan"
"Hiks hiks... kenapa harus Ily Tae?? Kenapa bayi kita yang meninggal, kenapa Ily gak bisa jaga dia... hiks hiks" Tae memeluk Ily erat
"Sayang.. apakah kamu ingat ada satu lagi baby yang ingin bertemu denganmu, jangan bersedih sayang, dia masih membutuhkan senyum dan kasih sayangmu" ucap Tae menenangkan sang istri .
"Mana dia Tae?? Ily ingin gendong dia"
"Kita belum bisa menggendongnya Queen.. "
"Kenapa Tae? " Mata itu kembali berkaca kaca, ada apa dengan semua ini?? Kenapa harus ia yang mengalaminya.
"Bayi kita prematur sayang... jadi dia harus ..."
"Okey kita kesana, please Tae... Ily ingin lihat baby "
Akhirnya Tae memanggil dokter untuk menanyakan , apakah Ily di perbolehkan turun dari ranjang dan menemui anak mereka atau tidak.
Ya!
Setelah mendapatkan jawaban dari dokter, dengan sigapnya Tae mengangkat tubuh Ily untuk duduk di kursi roda yang telah ia siapkan.
"Kamu siap Queen?"
"Huufftt.. siap Tae"
Mereka kini menuju ke ruangan bayi.
〰〰〰〰〰
Apartemen Gea
"Gea , kamu kenapa sih?? Kenapa Akhir akhir ini kamu selalu menjauh??"
"Ga tuh" acuh Gea kini lebih memilih meninggalkan Sean.
Grreeppp
Tangan itu menghentikan langkah Gea, sekuat tenaga Gea menahan air mata yang kini siap meluncur membasahi pipinya.
"Gea... kamu kenapa?? Jelaskan. Aku gak akan pernah tau kalau kamu hanya diam seperti ini dan menjauhi aku"
"Hiks..hikss... "dengan cepat Sean memeluk Gea dari belakangnya.
"Apa yang aku perbuat hingga kamu menangis seperti ini???"
"Aku mohon , bilang padaku, apa yang membuatmu menangis Gea.." sambung Sean bertanya frustasi akan sikap Gea.
"Kamu berkhianat Sean, dan aku udah tau semuanya"
"Astaga... berkhianat dengan siapa??? Aku sama sekali tak pernah berfikir untuk berkhianat dengan siapa pun. Kamu tau itu... aku mencintai kamu Ge .."
"Bohong .. aku tau kamu pasti bohong... kamu pembohong.. kamu ... " ucapan itu terpotong karena suara ponsel Sean yang berbunyi.
"Ryeon?" Ucap Sean pelan , namun masih terdengar oleh Gea.
"Yo?"
"Queen sadar, dan ia histeris"
"Kenapa bisa??? Sekarang bagaimana keadaannya?"
"Masih sama... "
"Gue kesana"
Tuutttttt
Tanpa menjawab lagi Sean langsung pergi meninggalkan Gea, masalah yang ia punya dengan Gea seolah terlupakan begitu saja.
Bbrrrakkk
Pintu apartemen Gea tertutup dengan kasar, akhirnya Gea berinisiatif mengikuti Sean.
Aku memang tak ada apa apanya di banding wanita itu
Apakah wanita itu memang sangat berarti untuk Sean?
Kenapa hati ini sakit, saat Sean lebih memilih meninggalkan aku dari pada tetap memelukku seperti tadi
Munafik!
Ya... aku emang munafik, aku cinta Sean tapi perhatian Sean selalu berbelok saat mendengar nama perempuan itu
〰〰〰〰〰〰
Sebelumnya di rumah sakit
Tae mendorong kursi roda Ily dengan perlahan, diperjalanan ia terus membatin , ia takut jika istrinya bersedih kembali.
Apa yang harus ia lakukan??
Saat hampir sampai, seseorang yang Tae cari kini berada tepat di hadapan mereka, wajah itu....
Membuat Tae muak !
Ily diam tak melakukan apapun, hanya ada tatapan kosong dalam matanya saat melihat seseorang itu.
"Kauuu.... mau apa kau kesini??" Ucap Tae dengan nada marah namun masih tertahan .
"Daddy... nabil ingin liat baby"
"Terus mau kau apakan setelah melihatnya hm?? " ucapan itu kembali terdengar dengan sangat marah.
"Ini..." nabil memperlihatkan satu buah pisau yang sedari tadi ia sembunyikan dari belakang baju nya.
Ily melihat itu...
"No...!!!!!!" Jeritan itu begitu sangat keras.
" jangan bunuh anak Ily... nooooo!!!!!"
"Jangan... jangan... jangannn , jangan bunuh anak Ilyyyy...aakhh.. Taeee .." Ily memegang tangan Tae begitu eratnya, ia takut hal ini akan terjadi lagi .
Dengan segera, Tae mendekat ke arah Nabil yang masih menggenggam pisau itu.
Tae dengan kasar mengambilnya
"Dady... tembaliin.."
"Gak!!!... heh!!! Siapa yang mengajarkanmu seperti itu hah?? "
"Daddy... "
"Aku bukan dady mu lagi... sekarang pergi kamu dari sini"
Nabila melihat Ily yang kini menangis , tae menelpon sean untuk membantunya.
Tae berjongkok mengsejajarkan tingginya dengan Nabila.
"Liat mataku, " Nabila pun menatapnya, wajah lucu dan imut Nabila , pipi tembam merah yang selalu Tae sukai kini menjadi kemarahannya.
"Jawab dengan Jujur, siapa yang menyuruhmu hah??"
"Mama"
"Mama?? Mama siapa?? Cepat Jawab aku"
"Mama Dasi"
Deg!!!
Nama itu... Daisy
Banyak hal yang mereka lalui dalam hubungan ini.
Susah
Senang
Bahagia
Canda
Tawa
Dan
Duka , itulah yang mereka rasakan saat ini. Dan penyebabnya kali ini membuat luka terdalam dihati Ily, Tae dan juga keluarga mereka.
Proses pemakaman baby boy akan di laksanakan sore ini, isak tangis melingkupi rumah duka yang bertempatkan mansion Azfary.
"Tae..." tanya Ily yang kini sedang bersender di salah satu pundak suaminya, Ily menatap kosong peti mati yang kini berada di hadapannya.
"Kenapa sayang???" Tae bahkan tak pernah melepaskan genggaman tangannya pada Ily.
Ia harus menjadi kekuatan Ily.
"Apakah baby gak akan kesepian kalau sendiri disana??"
"Apakah dia tak akan membutuhkan susu?"
"Ily khawatir kalau baby nanti kedinginan Tae..."
"Apa yang harus Ily lakukan?"
"berdo'a Queen, kita harus berdo'a... dan juga Ikhlaskan baby boy kita sayang..."
"Ily tak menyangka ini akan terjadi, bahkan Ily belum sempat memberinya nama Tae?"
"Arthur Ryeon Azfary" ucap Tae dengan tegasnya.
"Bagus.. Ily suka nama itu.. dan Ily punya nama untuk baby girl kita"
"Oh ya?,apa itu?"
"Athena Rye Azfary"
"Aku suka sayang, jangan sedih lagi, Athena masih membutuhkan kita dan jangan lupakan Sakha sayang"
"Aku tidak akan pernah melupakan Sakha , Tae... Ily harus ikhlas kan?"
"Iya..sayang.. ikhlaskan lah... agar Arthur bahagia "
Banyak yang mereka rencanakan untuk kedepannya.
Hingga akhirnya pemakaman dimulai.
Peti mati itu di turunkan kedalam tanah. Ily melihat semua proses itu dengan lapang dada.. ia ingin bayi nya tersenyum di alam sana , ia tak ingin bayinya menangis karena melihat kedua orang tuanya menangis.
Gundukan tanah itu kini mulai terbentuk.
Arthur Ryeon Azfary
Nama itu terpahat begitu jelas pada batu yang kini menjadi identitas Arthur.
〰〰〰〰〰
"Mama..."
"Kenapa?" Ucapan itu tak memiliki kesan lembut sama sekali.
"Mama ... Nabil au itu" tunjuk Nabila pada coklat yang kini berada di atas meja makan.
"ambil aja sendiri, ngapain nyuruh gue sih?"
"Mama.. nabil da campe"
"Nyusahin banget sih lo... nih" coklat itu dilempar begitu saja pada Nabila dan terkena pada mukanya.
"Mama... akit ... " Nabila berkaca kaca.. ia merasakan sakit terkena lemparan coklat batang yang lumayan besar.
"Cih.. gitu doang sakit..." tak mengindahkan apa yang di eluh kan oleh Nabila , Daisy pergi begitu saja dari hadapan Nabil.
"Hiks... hiks... ommy... ommy lyy..." hal itu terdengar sampai telinga Daisy dengan segera wanita itu berbalik dan mendekat ke arah Nabila sambil membawa sapu yang tadi berada di sampingnya.
"Bilang apa lo??" Bukkk
"Bilang apa??? Bukkk bukk
"Ammpun mama.. akit ma... ampunnn.."
Buk buk buk
"Beraninya lo manggil wanita si\*\*\*\* itu hahhh..." buk buk
"Ampunn.. mama.. akit ma... ampunnn"
Buk buk...
Tak ada hentinya sapu itu melukai punggung, tangan , kaki nabila.
Daisy tak mendengar tangisan bahkan jeritan dari sang anak, ia buta.. bahkan tuli.
Sebagai orang tua yang seharusnya menjaga, menyayangi dan mencintai anak mereka , ini melakukan hal sebaliknya.
Saat sapu itu kembali akan mendarat pada punggung Nabila, seseorang menahannya.
"Hentikan ini si\*\*\*\*...!!!" Teriakan itu begitu menggema di rumah yang lumayan besar untuk ditempati satu keluarga.
"Ke.. Kean..." cicit Daisy melihat amarah dimata Kean , Ia takut.
"Pa..pa .." brruuukkk.. tubuh itu kini tergeletak pingsan karena tak bisa menahan rasa sakit yang ia rasakan sekarang.
〰〰〰〰〰
Ily dan Tae kembali ke rumah sakit, Ily masih harus melaksanakan perawatan pada perutnya, begitu juga dengan Athena .
Taely mampir ke tempat dimana Athena berada.
Ily menyentuh kaca pembatas antara dirinya dan sang bayi.
"Kamu harus tetap menjadi wanita yang kuat , pintar , sayang kepada orang tua dan juga orang sekitarmu sayang... jangan lupakan bahwa kamu memiliki twin yang kini telah berada jauh dengan kita"
"Bunda sayang Athena "
Tae melihat itu hanya bisa mengusap air mata yang hampir tumpah membasahi pipinya.
"Aku berjanji akan selalu menjaga dan menyayangi kalian... kalian rumahku... tempat aku kembali dan menemukan senyuman tulus dan indah yang menghilangkan penatku setiap harinya." Tae memeluk Ily dari belakang Ily... ia menumpukkan tangannya pada tangan Ily yang masih menempelkannya pada inkubator Athena.
"I love my wife and my child"
"I love you too my husband"
Mereka berpelukan dengan erat... kini mereka akan memulai hidup baru mereka. Menghilangkan rasa sedih dan menciptakan kebahagiaan baru.