
Setelah sampai ruangannya , Ily segera masuk dan menatap semua sudut tempat yang akan dipakainya hingga entah sampai kapan.
Ily mendekat ke arah meja yang telah tersedia diruangan itu.
Ruangan yang sangat mewah.
Itulah yang ada di benak Ily.
Ttrriinggg ttrriinngg
Ponsel Ily berdering , panggilan masuk dari Tae??
"hallo... Tae??"
"Sayangg.... maaf, aku gak antar kamu ke RS , aku..."
"Ssstt... gapapa Tae.. Ily kan udah sampai, ini Ily mau mulai kerja"
"Kamu sudah sarapan Queen??"
"Sudah Tae... , Tae juga jangan lupa sarapan dulu ya"
"Aku udah di kantor nih sayang, paling nanti minta tolong sekretaris buat beliin sarapan"
"Yaudah, pokoknya jangan sampai telat makan ya"
"Iya sayang... semangat untuk kerja di hari pertamanya"
"Semangaaaattttt!!!! Kalo gitu, Ily tutup yaa, Ily mau kerja dulu" sambung Ily sambil berpamitan pada Tae.
"Iya sayang... selamat bekerja, love you"
"Bye Tae... love you too"
Ily membuka lemari yang tersedia di ruangan tersebut, dan disana telah tersedia jas dokter yang akan Ily gunakan.
Perfect!!!
Ily pun keluar ruangan untuk mengecek bagian administrasi.
Saat diperjalanan Ily menyapa ramah setiap orang yang ia lewati. Saat hampir sampai, ada beberapa perawat yang sedang tergesa membawa pasien .
"Dok, mari ikut saya" ucap salah satu dokter laki-laki yang tadi mengikuti korban .
Akhirnya Ily mengikuti mereka dengan langkah cepat , bahkan ia sedikit berlari agar bisa mengikuti mereka semua.
Ruang Operasi
"Dokter Willy, jadilah asisten saya untuk operasi kali ini"
"Baik dok"
Akhirnya mereka memulai operasi.
Semua terfokus pada operasi kali ini , peluh mulai keluar dari dokter laki- laki yang kini tengah memimpin jalannya operasi dan juga Ily .
1 jam
2 jam
3 jam
Akhirnya operasi selesai.
Ily dan dokter laki-laki itu segera keluar dari ruangan operasi.
Operasi berjalan dengan lancar dan pasien pun selamat.
Ceklek
"Bagaimana dengan suami saya dok??"
"Operasinya berjalan dengan lancar, jika besok pasien tidak ada tanda tanda pergerakan atau sadarkan diri , maka kami akan menindak lanjuti kembali suami ibu"
"Ya Tuhannn... mas... " sang ibu menangis di pelukan anak laki-laki nya . Anak laki-laki itu menatap Ily dengan Intens, entah apa yang dipikirkan sang remaja saat melihat Ily.
"Kalau begitu kami permisi bu" pamit sang dokter laki-laki.
"Baik dok, terima kasih"
Ily dan juga dokter itu pergi meninggalkan sang keluarga pasien .
〰〰〰〰〰
"Dokter Willy, selamat bergabung di tim kami, perkenalkan nama saya Devan , ketua Tim 1 bedah saraf"
"Halo dokter Devan , saya Willy "
"Ya saya sudah tau , ternyata dokter Willy sudah sangat ahli dalam mengoperasi ya?"
"Terima kasih dok"
Mereka berjalan menyusuri lorong dan beberapa ruangan pasien, hingga akhirnya sampai.
"Dok, ini ruangan saya" ucap Ily pada dokter Devan.
"Ini ruangan saya dokter Willy"
"Waahh.. tenyata kita tetanggaan ya ?"
"Iya dong, kita bisa makan siang bersama ??"
"Iya dok , boleh"
Akhirnya mereka memasuki ruangan masing - masing.
Ily mengirim pesan pada Tae yang diyakini sedang mengafakan meeting. Tapi tak apa, yang penting ia telah menghubungi suaminya .
"Tae, Ily tadi melakukan operasi pada pasien untuk pertama kalinya saat bekerja, dan operasi berjalan lancar. Tae, setelah meeting jangan sampai lupa makan siang dan istirahat sebentar.
Love you"
Begitu pesan dikirim, pintu ruangan Ily di ketuk dari luar.
Tok tok tok
Tok tok tok
"Masuk" ucap Ily
Seorang perawat wanita memasuki ruangan Ily .
"Selamat pagi menjelang siang dok... perkenalkan nama saya Arumi , saya akan jadi asisten perawat untuk dokter Willy"
"Hallo Arumi, nama saya Willy"
"Iya dok, bagaimana operasinya tadi? Apakah berjalan dengan lancar?".
"Berjalan dengan lancar Arumi, apakah ada jadwal lagi setelah ini?"
"Ada dok, dokter akan menangani 2 pasien sebelum jam istirahat"
"Baik kalau begitu, silahkan panggilkan"
"Baik dok"
Setelah keluar, muncul lah seorang ibu paruh baya yang akan berkonsultasi. Ily dengan ramah memperkenalkan diri pada pasiennya dan juga mempersilahkan pasien mengeluarkan keluhannya.
Akhirnya pasien berbaring untuk di periksa oleh Ily.
Setelah selesai, Ily menjelaskan beberapa penyakit yang mengganggu sang wanita paruh baya tersebut, kemudian setelahnya pamit undur diri.
Pasien kedua pun mulai dipersilahkan untuk masuk.
Tok tok tok
Pintu diketuk dan Ily pun mempersilahkan untuk masuk.
"Hallo , akhirnya kita bertemu lagi"
Ily mendongakkan kepalanya saat mendengar seseorang yang menjadi pasiennya menyapa dengan kalimat seperti tadi.
Ily menatap mata laki-laki dihadapannya dengan sangat lekat.
"Hallo , akhirnya kita bertemu lagi"
Ily mendongakkan kepalanya saat mendengar seseorang yang menjadi pasiennya menyapa dengan kalimat seperti tadi
〰〰〰〰〰
"Hallo , dokter ??"
"Ya, silahkan duduk"
"Terima kasih dok"
"Jadi , apa yang bisa saya bantu?"
"dok, perkenalkan nama ku Soobin, aku kelas 3 SMA di AIS, aku anak dari bapak yang tadi dokter operasi"
"Ahh.. ya?? Ada apa?"
"Apakah penyakit seperti itu akan menyebar secara turun temurun?? Karena beberapa waktu lalu aku selalu pingsan dan juga mimisan dok"
"Kalo begitu, mari kita periksa terlebih dahulu," akhirnya Soobin pun melangkah ke brankar yang tersedia di ruangan Ily.
Ily mengecek Soobin dengan sangat serius , sedangkan Soobin? Ia terus menatap sang dokter yang telah menarik perhatiannya.
"Gimana dok??" Tanya Soobin pada Ily setelah mereka kembali duduk berhadapan.
"Darah kamu sangat rendah Soobin, dan juga sepertinya kita harus melakukan tes lab agar lebih tau penyakit apa yang kamu derita."
"Baik dok, kira kira kapan saya bisa bertemu dengan dokter lagi? , eh maksud saya bisa cek up lagi?"
"3 hari ke depan kamu bisa datang kesini lagi untuk pemeriksaan selanjutnya"
"Baik kalau begitu dok, eemm.. dok?"
"Iya?" Tanya Ily dengan mata mengedip beberapa kali membuat kesan imut di mata Soobin.
"Boleh minta no dokter?"
"Oh.. untuk apa?"
"Agar bisa konsultasi sama dokter"
"Ohh ... boleh... 08xxxxxxxx60,"
"Baik dok, terima kasih ya dokter"
"Sama sama Soobin"
Akhirnya Soobin keluar dari ruangan Ily dengan wajah cerianya ia menatap ponsel yang kini terdapat nomer dokter cantiknya.
Triinnggg
Ponsel Ily bergetar
"Hallo Tae??"
"Sayang , kamu sudah selesai??"
"Iya nih, tadi pasien terakhir, jadi makan siang bersama??"
"Maaf sayang, aku gak bisa, aku harus makan siang bersama kolega ku dan juga Sean"
"Ohh begitu, yasudah gapapa kok, asal jangan sampai lupa makan ya Tae"
"Siap bundanya Sakha" Ily tersipu mendengar itu
"Bye Ayah Sakha"
"Bye bunda"
Ily pun mematikan panggilannya dan memasukkan ponselnya ke tas kecil yang sering ia bawa.
Ceklek, pintu dihadapannya pun terbuka menampilkan sosok tinggi , tampan dengan rahang kokoh dan juga senyum memikatnya, ia pun sama dengan Ily yang menggunakan jas dokternya.
"Hallo dokter Willy, mau makan siang bersama?"
"Ah.. iya boleh,"
Akhirnya Ily dan juga dokter Devan berjalan beriringan menuju kantin rumah sakit . Mereka memilih ke kantin rumah sakit dan tak pergi ke cafe ataupun restoran karena setelah istirahat mereka akan melakukan operasi kembali.
"Mau pesan apa dok?" Tanya dokter Devan pada Ily.
"Ah.. emm.. Ily mau salad sayur sama milkshake stroberi aja deh, eh..." Ily membulatkan mata seraya menutup bibirnya dengan kedua tangan karena keceplosan menggunakan bahasa kesehariannya , hal itu membuat Devan merasa gemas akan Ily.
"Gapapa kali , kalo lagi gak bertugas kita teman, gimana?" Ucap Devan seraya mengulurkan tangannya.
"Teman" balas Ily menggenggam tangan Devan untuk bersalaman.
"Kalo gitu, aku pesan dulu ya"
"Iya "
〰〰〰〰〰
Tae kesal bukan main , ia yang sudah berharap akan bertemu istrinya, kini di urungkan karena makan siang kali ini bersama para koleganya.
Tae berjalan lebih dahulu bersama dengan Sean di depan. Melihat adik iparnya murung, Sean bertanya pada Tae.
"Kenapa lo?"
"Bt gue"
"Karena?"
"Pengen makan siang sama bini gue eh.. malah ke sini jadinya" ya , mereka pergi ke restoran Jepang yang ada di dekat kantornya.
"Cobaan lo berat Ryeon, tanggung sendiri aja ye." Setelah mengucapkan itu, Sean Kemudian menjauhi Tae yang dipastikan sedang mengumpat dirinya.
Sean T*i !!!!!!
Kembali ke rumah sakit dimana Ily kini telah mendapatkan makanannya. Sesekali Ily mengobrol dengan Devan, tawa Ily keluar begitu saja saat Devan memberikan cerita konyolnya saat bertugas menjadi dokter disini.
Mulai dari pasien yang pura-pura agar dapat perhatian pacarnya.
Pasien genit.
Pasien yang tempramen.
Dan lebih parahnya lagi, pasien yang sengaja datang untuk melamar Devan.
Semua cerita itu membuat Ily tertawa hingga mengeluarkan air matanya.
Namun, ia merasakan gerakan kecil pada jas yang ia gunakan. Ily melihat apa yang membuatnya bergerak.
"Ommy ly"
"Ommy ly"
Ily mengangkat anak yang kini di hadapannya untuk duduk dipangkuan Ily.
"Hai sweetie , what's your name?" Tanya Ily dengan sangat lembut.
"Ila Ommy"
"Lila?, " anak itu menggeleng
"Sila?" Menggeleng lagi
"Emm... Killa??" Anak itu menggeleng lagi karena wanita dewasa dihadapannya ini tak mengetahui namanya.
"Nabila" ucap seseorang dari arah belakang Ily dan mendapat tepuk tangan ceria dari sang anak.
Ily mengenal suara ini, apakah ia disini???
Ily berbalik untuk memastikan apa yang ia duga benar atau salah. Dengan perlahan Ily memutar tubuhnya kaku. Dan....
"Hai Lily, lama tidak berjumpa"
〰〰〰〰〰〰
Wooowww....
Kalian pasti bisa tebak siapa dia kan????
Makasih banyak ya ... buat teman teman yang selalu setia baca cerita ku... love youuuuu 😘😘😘😘
Mudah mudahan cerita ku ini bisa menghibur dan mengisi kekosongan kalian di waktu luang .
Happy Reading 😘😘😘