
Tak terasa sudah mendekati akhir semester dimana ujian kenaikan kelas akan dilaksanakan. Ily dengan semangat bangun dari tidurnya , ia bergegas mandi untuk bersiap sekolah.
Ily bertekad akan mengikuti akselerasi agar bisa satu angkatan dengan sang kakak. Ily bahkan sudah mengikuti beberapa tes lebih untuk ujian selanjutnya. Ily melakukan ini karena ia tak bisa jika harus terpisah dengan kakaknya. Maka dari itu, mereka akan melanjutkan sekolah bersama.
.
.
Setelah selesai menggunakan seragamnya Ily segera turun untuk menemui keluarganya yang kini sudah berada di meja makan.
"Morning semuaaaa"
"Morning too" Ily menghampiri mereka satu persatu untuk di kecup sebagai salam darinya.
Seperti biasa ia akan duduk di antara Sean dan Seano.
"Mom, dad, kalo buat ujian nanti Ily ikut akselerasi boleh??"
"Boleh dong... mom akan selalu dukung anak mommy yang paling cantik ini" lahh.. anak ceweknya kan emang dia doang - author
"Thank you mom, kalo menurut daddy?"
"Daddy juga akan mendukung Ily "
"Terima kasih daddy" Ily melirik ke arah Sean dan Seano dengan wajah berharap agar mendapatkan dukungan juga , ternyata anggukan cepat dan senyum manis dari twins tanda setuju membuatnya senang.
"Thank you twin brothers"
"Iya sayang, you're welcome"
"Sama sama sayang"
Mereka dengan cepat menghabiskan sarapannya, kemudian setelahnya mereka segera berangkat ke sekolah, dan giliran Seano yang kini pergi bersama Ily menggunakan mobil sport nya.
.
.
Setelah berpamitan, akhirnya mereka bertiga pergi ke sekolah. Banyak perbincangan yang dilakukan oleh Seano dan juga Ily. Hingga waktu tak terasa bahwa mereka sudah sampai di sekolah.
"Ayo kita turun" ajak Seano seraya membuka sabuk pengamannya.
"Yuk" Seano dan Ily turun bersamaan , jangan lupakan dengan rangkulan tangan Seano yang kini telah bertengger pada pinggangnya saat sudah bersama Ily.
"Seano, " seseorang memanggil seano dari arah belakang.
"Ya?"
"Pulang sekolah kita disuruh kumpul sama pembina OSIS buat acara Bazar dan lomba lainnya"
"Oke" Kean terus menatap Ily, seolah mengerti, Seano memperkenalkan Ily pada nya.
"Ke, ini Willy lo udah tau kan?"
"Hallo kak Kean" senyuman manis itu menjadi candu untuk semua orang.
"Udah kok"
"terus ngapain lo terus natap dia kayak gitu?" Tekan Seano yang mulai memperlihatkan sifat posessivenya pada Ily.
"Ohh.. ah.. gak kok, yaudah, gue ke kelas dulu"
"Iya"
"Bye kak Kean" Ily melambaikan tangannya pada Kean dengan senyum yang terpatri dibibir manisnya.
.
.
"Bang, abang liat bando Ily gak? Yang warna item itu loh... yang ada telinga kucingnya"
Seano menatap Ily dengan halis bertaut tanda ia sedang berfikir.
"Emang adek punya ya??"
"Ihh.. itu kan dari abang..."
"Oh iya?? Masa sih?? Tunggu, abang ingat ingat dulu"
Mereka terus berjalan melewati koridor tanpa menghiraukan senua siswa siswi disekitarnya. Ily menatap Seano penuh harap.
"Ah.... abang tau, kalau gak salah , yang itu patah sama abang..."
"Yahhh... kok bisa bang???" Desahnya dengan lesu karena barangnya rusak.
"Waktu itu kamu pernah ninggalin bando nya di kursi , terus kedudukin deh.., maaf ya sayang... nanti kita beli lagi okey?"
"Hm.. okeyyy"
Akhirnya mereka pun sampai di kelas Ily.
"Abang mau ke kelas ya, tapi pulangnya gak akan bisa bareng sama abang, gimana kalo sama Kakak?"
"Emm yaudah , nanti Ily sama Kakak aja." Seano mengecup kedua mata Ily kemudian pergi menuju kelasnya.
Sebenarnya banyak yang melihat adegan itu , hal yang membuat mereka iri dan juga baper sendiri, namun Ily dan Seano tak menghiraukan itu semua , toh mereka sudah biasa.
Setelah Ily memasuki kelas, tak lama kemudia bel pun berbunyi. Ily belajar dengan serius , ia selalu memperhatikan guru yang sedang mengajar.
Tteeettt
Bel pergantian pelajaran sudah berbunyi, namun guru yang mengajar tak hadir melainkan di beri tugas, akhirnya mereka sebagian di kelas mengerjakan, sebagian ada yang mengerjakan di perpustakaan, adapula yanga mangkir dari tugas dan pergi ke kantin untuk mengisi perut mereka.
Ily dan kedua sahabatnya pergi ke perpustakaan hingga,
Bruukkk
"Qwe.... kamu gapapa?"
"Pusing Ly, " Qwe pingsan membuat Ily dan Sasya panik, namun Ily melihat seseorang yang kini sedang berjalan sendirian.
"Kak Kean, tolongin Ily"
"Kenapa Ily?"
"Teman Ily ada yang pingsan disana, ayo tolongin qwe"
"Iya ayo"
Setelah sampai dimana Qwe pingsan , Kean segera menggotong Qwe ke UKS, Ily dan Sasya mengikuti dari belakang dengan perasaan khawatir.
"Terima kasih kak Kean sudah mau bantu Ily"
"Kenapa kalian diluar?" Lanjut Kean bertanya .
"Kita mau ke perpus kak , tapi Qwe tiba- tiba jatuh dan ngeluh kalo kepalanya pusing, terus pingsan deh"
"Yaudah kalo gitu Ily jadi gak ke perpus nya? Ayo bareng sama kakak"
"Ayo"
"Sasya, Ily mau ke perpus dulu ambil buku yang di butuhin, nanti Ily kembali kesini ya"
"Iya Ily, hati hati ya"
Mereka akhirnya pergi ke perpustakaan, setalah membawa beberapa buku, Kean mengantarkan Ily kembali ke UKS.
"Terima kasih kak kean "
"Iya , sama sama Ily, kakak senang bantu Ily"
Setelah Ily masuk ke UKS
"Yes!! yes!! yes!!"
Teriak Kean tanpa sadar..
Namun dengan segera menetralkan kembali wajahnya yang kesenangan.
Tidakkah ia sadar ada seseorang yang memperhatikannya.
💕💕💕💕💕
Inilah saatnya.
Ily akan mengikuti ujian secara terpisah, tempat terpisah dan juga soal yang berbeda , adapula seorang siswa yang terlihat tampan dan tinggi , jadi mereka berdua yang akan mengikuti ujian Akselerasi.
Dengan tugas tambahan serta materi yang disatukan , akhirnya mereka melakukan ujian dengan tenang, tanpa ada rasa tegang dari keduanya.
Ily yang melihat kertasnya sudah terisi penuh , akhirnya menyerahkannya pada sang guru, tak lama setelahnya siswa tersebut juga memberikan lembar jawabannya.
"Hai Willy"
"Haii... maaf , nama kamu siapa ? Kok kenal Ily?"
"Siapa sih di sekolah ini yang gak tau sama kamu"
"Oh iya??"
"Iya, perkenalkan, namaku Sandy Ivander, kamu boleh memanggilku San atau andy seperti yang lainnya"
"Eumm ... kalo Ily panggil Ivan? Boleh?" Ily memperlihatkan puppy eyes nya
"Boleh dong"
"Yyeeaayy makasih Ivan"
"Sama sama, kalo gitu ayo kita ke kantin"
"Ayo"
Saat di pertengahan jalan, ada seseorang yang memanggil Ivan,
"San, di panggil bu Rukyani , kamu di suruh ke perpustakaan"
"Oke makasih"
"Willy maaf ya, aku gak jadi ke kantin"
"iya Ivan , gapapa, bye "
"Bye Willy"
Padahal itu adalah tugas dari seseorang agar Willy tak jalan bersamanya.
Akhirnya Ily berjalan sendirian ke kantin, saat dilihatnya sekitar kantin begitu penuh , tak ada tempat yang kosong.
"Baby!!" Teriak seseorang dari arah pojokan kantin.
"Princeeee...." teriak Ily sambil berlari namun tanpa di duga.
Brugghh
"Ahh..." mata Ily berkaca kaca
"Eh..eh.. so sorry, gu .. gu..gue gak sengaja"
"Hikss..hikss.. sakit" Ily menangis karena kakinya merasakan sakit dan susah di gerakkan .
Ily lumpuh??
Ily akan di amputasi??
"Hikss hiks hhuuaaahh Daddy, mommy , princeeee...." Ily merentangkan tangannya pada Sean yang kini ada di hadapannya, dengan segera Sean mengangkat Ily dan digendong seperti koala.
"Kakak, kaki Ily sakit, Ily takut, apa akan lumpuh?? Atau di amputasi kak?? Huaahhh Ily gak mau kakak" tangis Ily makin menjadi , namun dengan sabar Sean mengelus kepala Ily.
"Cup cup.. sudah, kakiknya gak akan di amputasi atau lumpuh kok, kakak sihir mau??"
"Ily menganggukkan kepalanya dengan cepat dengan air mata yang masih ada di pipinya yang mengembung dan bibir mengerucut.
Dengan segera Sean mengubah posisinya , Sean membelakangi Ily dan tangan Ily kini telah memeluk tubuh Sean . Ily menyembunyikan wajahnya di punggung Sean.
Sean memijat dengan perlahan kaki Ily yang sedikit memerah karena terkilir.
Pttaakkk
"Aaaahhhhkkkkk kakaaaakkkkk"
Jerit Ily di punggung Sean, Sean melepas pelukan Ily dan segera berdiri membantu Ily .
"Coba Ily berdiri" Ily berdiri dengan bantuan Sean...dengan takut. Namun beberapa detik kemudian
"Kakak, Ily sembuh, walau masih ada sakitnya"" tapi ini lebih baik, thank you"
Cup
Kecup Ily pada bibir Sean
Para warga sekolah yang melihat pemandangan dari awal sampai akhir hanya bisa menjerit jerit dan garukin meja , adapula yang tanpa sadar menggigit sendok makannya karena ikut baper dan iri. Menjerit hanya bisa dilakukan dalam hati karena yang kini mereka kerumuni adalah raja bad boy nya AIS.
Tak terasa Bel pun berbunyi kembali, namun dengan perut yang sudah terisi. Akhirnya Faysa kembali ke kelas ujiannya bersama Sandy Ivander.
Kini ujiannya MATEMATIKA dan FISIKA, waktu yang di berikan hanya 2 jam untuk dua mata pelajaran tersebut, INGAT?? Ini kelas akselerasi, jika ingin lulus harus bisa CEPAT dan TEPAT.