Cruel Mafia Vs Cool Mafia

Cruel Mafia Vs Cool Mafia
Chapter 83 | The Last: Welcome, Baby Boy



Empat bulan kemudian...


Hari ini, seluruh penghuni mansion Kennedy dibuat ketar-ketir. Para pelayan gelisah, sedangkan pengawal-pengawalnya merana. Mereka semua berdoa menurut kepercayaan masing-masing supaya nyonya muda dan calon tuan kecil mereka baik-baik saja.


Ya, Kyra akan melahirkan hari ini. Wanita itu sudah dibawa ke rumah sakit sejak 3 jam lalu. Tapi, itu tidak membuat kecemasan orang rumah menurun sedikitpun.


Situasi di rumah sakit pun tidak jauh berbeda. Adaline, Ansel, Cavan, Abigail, Darren, Emily, bahkan Jerome menunggu di depan ruang bersalin sambil gigit jari. Meskipun tahu Kyra sudah berpengalaman dalam kondisi ini, namun sebagai keluarga, mereka tetap merasa khawatir.


“Grandma, mommy sama adek baik-baik aja, kan?” kata Emily sedih. “Kenapa mereka belum keluar dari tadi?”


Abigail yang ditanyai mengulas senyum teduh. “Mommy-mu baik-baik aja, Sayang. Adek juga pasti baik-baik aja. Emily tenang, ya.”


“Daripada kamu risau kayak gitu mendingan kamu berdoa biar mommy sama adek baik-baik di dalem. Diem aja juga nggak akan nyelesain masalah,” sahut Darren yang sejak awal duduk tenang di kursi besi yang tersedia.


Sementara itu, di dalam ruangan, Eiden terus menemani sang istri sepanjang waktu. Ia tidak mau pergi dari sisi Kyra barang sedetik pun. Tangannya menggenggam jemari lentik wanitanya yang terasa basah akibat keringat.


“Saat saya memberi instruksi, silakan mengejan, Bu,” ucap dokter wanita yang membantu proses persalinan Kyra.


Kyra mengangguk. Ia mengikuti arahan dokter dengan baik. Tangannya menggenggam tangan sang suami erat, menyalurkan rasa sakit yang dialami ketika mendorong bayinya keluar dari perut.


“Kepalanya sudah kelihatan, Bu!” seru dokter.


“Sayang, aku tau kamu kuat. Aku mencintaimu.” Eiden menciumi punggung tangan Kyra berulang kali, bibirnya tidak henti mengudarakan kalimat cinta dan semangat agar istrinya kuat berjuang. Mata lelaki itu sembab karena menangis. Ia tidak tega melihat istri kesayangannya kesakitan seperti ini.


Seandainya bisa, Eiden ingin memindahkan rasa sakit Kyra ke tubuhnya. Wanitanya ini terlalu lembut!


Emang kalo cinta buta, ya, gini nih—Ayla numpang nongol sebentar.


Lalu, tidak lama...


“Oeekk.. oeekkk...”


“Bayi laki-laki lahir pukul 16:38. Suster, air hangat segera dibawa.”


Kyra lemas seketika. Sementara Eiden mengucap syukur dengan helaan napas lega. Akhirnya, selesai juga penderitaan istrinya. “Say—”


Eiden terdiam. Kyra memejamkan mata, wajahnya pucat. “Dokter! Istri saya kenapa?!”


Dokter tadi dengan sigap memeriksa. Lalu, ia berkata, “Tuan Muda, Anda diharapkan menunggu di luar. Saya akan menangani pasien sekarang.”


“Istri saya kenapa, Dok?”


“Maaf, saya belum bisa memberikan jawaban pasti sebelum memeriksa istri Anda, Tuan Muda. Silakan menunggu di luar,” kata dokter itu serius.


Tidak ingin membuat situasi bertambah runyam, Eiden keluar dari ruangan dengan patuh. Sepasang mata sayu lelaki itu terus terarah pada Kyra yang tertidur nyenyak di atas brankar. Sayang, kamu nggak boleh kenapa-napa.


Setelah berada di luar, Eiden langsung dikerubungi oleh anggota keluarganya.


“Eiden, gimana persalinannya?”


“Daddy, adik Emily gimana?”


“Gimana kondisi Kyra, Nak?”


“Mommy baik-baik aja, kan, Dad?”


“Eiden, kamu kenapa diem aja? Adik sama keponakanku kenapa di dalem?”


Eiden tidak menjawab pertanyaan siapa pun. Lelaki itu persis seperti raga tanpa jiwa aktif, kosong melompong. Malahan tubuh Eiden tiba-tiba hendak jatuh ke lantai seandainya Ansel tidak sigap menopang.


“Adikku baik-baik aja, kan, Eiden?” tanya Ansel khawatir.


Eiden menundukkan kepala dalam, tidak sanggup mengatakan. Ia juga tidak tahu pasti keadaan Kyra yang sebenarnya karena dokter belum mengonfirmasi.


Mereka yang ada di sana paham jika kondisi di dalam ruangan pasti ada yang salah. Maka dari itu, mereka sibuk memanjatkan doa dalam hati demi keselamatan Kyra dan bayinya.


Beberapa menit kemudian...


Dokter keluar. Wanita berjas putih itu memandangi keluarga pasien dengan senyum kecil.


“Bagaimana keadaan mereka, Dok?” tanya Abigail tidak sabaran.


“Cucu Anda baik-baik saja, Nyonya. Bayi laki-laki Tuan Muda sehat sepenuhnya, tidak ada cacat,” jelas dokter itu dengan senyum mengembang.


Mereka yang mendengar tersenyum bahagia. Berbeda dengan Eiden yang masih was-was mengenai kondisi Kyra.


“Lalu, istri saya bagaimana, Dok?”


Dokter itu menghela napas berat. “Maaf, Tuan Muda. Untuk saat ini, kondisi istri Anda baik-baik saja. Pasien memang sempat kritis karena pendarahan. Tapi, pendarahan berhasil dihentikan dan pasien sudah mendapat donor darah yang sesuai. Maaf, kinerja kami kurang baik,” sesalnya.


Ya, Kyra sempat mengalami pendarahan tadi. Mereka sempat panik karena belum menyiapkan stok darah untuk mengantisipasi situasi ini. Untungnya, persediaan darah yang sama seperti darah Kyra masih ada di rumah sakit ini. Jika mereka terlambat, kondisi Kyra jelas akan lebih buruk. Makanya, dokter itu meminta maaf.


Eiden menghela napas penuh syukur. Begitu juga dengan anggota keluarga lain.


“Apa adik saya sudah bisa dijenguk, Dok?” tanya Ansel.


Dokter itu tersenyum ramah. “Setelah kami memindahkan pasien ke ruang rawat inap, pihak keluarga bisa menjenguknya, Tuan.”


Cavan mengangguk mengerti. “Pindahkan ke ruang VVIP.”


“Baik, Tuan Besar.”


...💫💫💫...


“Ihhh... adek Emily gemes banget!” antusias Emily ketika bayi kecil itu dibawa ke ruangan Kyra. “Tangannya kecil banget.”



“Namanya juga baru lahir,” balas Darren yang berdiri di sebelah Emily. Lelaki kecil itu tersenyum tipis melihat sang adik yang tertidur pulas.


Para orang tua tersenyum melihat interaksi anak-anak itu. “Siapa nama baby-nya, Eid?” tanya Jerome penasaran.


Ngomong-ngomong soal Jerome, hubungan antara Jerome dan Darren sudah membaik selama 4 bulan ini. Darren dengan segala tingkah, kecerdasan, dan prestasinya tentu langsung menarik atensi Jerome. Memang, sih, pesona seorang Darren Gerald Kennedy tidak ada tandingnya.


Kembali ke topik mengenai si bayi.


Bayi mungil yang merupakan hasil persilangan gen Eiden dan Kyra itu memiliki paras menyerupai sang daddy. Kyra sempat protes karena wajah anaknya tidak ada mirip-miripnya sama sekali dengan dirinya. Hampir saja wanita itu ingin meminta sang dokter kembali memasukkan si baby ke perutnya.


Eiden tersenyum. “Aku sama Kyra udah sepakat, Kek. Nama baby-nya Keenan Xavier Kennedy.”


“Welcome in the world, Baby Keen.”


“Mommy! Daddy! Dedek bayinya buka mata! Iih.. matanya warna hijau!” pekik Emily girang ketika bayi di box khusus itu menggeliat, lalu membuka sepasang mata bulatnya.


Kyra tersenyum lebar. “Eh, serius? AKHIRNYA! ANAKKU MIRIP SAMA AKU, HUHU..”


^^^END^^^


...💫💫💫...


Yeayy.. cerita udah tamat. Extra chapter? Kayaknya sih nggak ada, ya. Tapi, kita lihat aja nanti, oke?


Say good bye sama keluarga Kyra dong. Apalagi Baby Keenan, hehe..