Cruel Mafia Vs Cool Mafia

Cruel Mafia Vs Cool Mafia
Chapter 57 | Cerita Cavan



...Flashback on....


Beberapa tahun yang lalu...


Dor! Dor! Dor!


Peperangan tak terelakkan. Bangunan tak terpakai di sana menjadi saksi bisu atau bahkan menjadi objek sasaran yang meleset bagaimana dua buah pria tengah saling menyerang satu sama lain. Di sekitar keduanya, terbaring beberapa mayat yang dipenuhi darah. Itu jasad pasukan masing-masing.


“Mati kau, sialan!” teriak salah satu dari dua pria tadi. Sayangnya, sang lawan tidak terprovokasi sama sekali. Pria yang berteriak jelas merasa geram. “Aku bersumpah akan membunuhmu, Cavan.”


Sang lawan—Cavan—tampak menyunggingkan senyum miring. “Ah, jangan terlalu percaya diri, Nicko.”


Lawan Cavan kala itu adalah Nicko, saudaranya sendiri. Ya, benar, saudara, tepatnya adalah kakaknya. Keduanya tidak sepenuhnya memiliki darah yang sama. Nicko dan Cavan terhubung karena ikatan darah melalui ayah mereka, Jerome.


Kedua pria itu adalah saudara seayah, namun beda ibu.


Sayangnya, Nicko memandang Cavan sebagai penghalang. Nicko dan ibunya sama sekali tidak dianggap keberadaannya karena bagi Jerome keduanya adalah suatu kesalahan. Ibu Nicko telah menjebak Jerome demi meraih kehidupan mewah.


Jerome mengakui jika ia sempat lengah. Itulah mengapa, ia tetap bertanggung jawab dengan mengirim uang bulanan untuk ibu Nicko yang mengaku tengah mengandung anaknya. Ia juga meminta wanita itu menutup mulut atas apa pun yang terjadi. Jerome tidak mau menyakiti hati istri yang dicintainya.


Entah seberapa keras usaha kita menutupi bangkai, aroma busuknya tetap akan tercium. Julia—ibu Cavan—mengetahui perbuatan suaminya. Setelah melahirkan anak ketiga mereka, kondisi Julia memburuk. Jerome meminta maaf setiap hari, ia berusaha menjelaskan jika dirinya pun hanyalah korban keserakahan ibu Nicko.


Julia memang memaafkan. Namun, hatinya jelas masih terluka. Apalagi fakta jika suaminya ternyata mendapatkan anak dari wanita lain sukses mengguncang emosi dan jiwanya. Pada akhirnya, Julia menghembuskan napas terakhir akibat pembuluh darahnya pecah karena tekanan darah tinggi.


Hari itu, Jerome berada di titik terbawah. Ibu Nicko yang tamak memanfaatkan situasi dengan menghibur Jerome supaya bisa menjadi nyonya utama. Sayangnya, itu hanyalah sekadar angan-angan saja.


Ibu Nicko tewas karena ditembak oleh Jerome yang sedang kalut. Nicko yang tidak sengaja melihat hal tersebut merasa marah. Ia tidak terima jika ibunya mati di tangan ayahnya sendiri. Sejak hari itu, Nicko memberontak dan berubah menjadi sosok pembangkang.


Nicko pun memilih jalan yang berbeda dengan sang ayah. Ia bersumpah akan menghabisi Jerome dengan tangannya sendiri. Sayangnya, Cavan selalu hadir sebagai penghalang di setiap rencana yang Nicko susun.


Itulah mengapa Nicko mengalihkan sasarannya pada Cavan. Jika ia berhasil membunuh pria itu, Jerome pasti terguncang karena kehilangan putra kesayangan. Dan, Nicko akan hadir sebagai penonton setia yang menyukai setiap penderitaan Jerome.


Kembali ke situasi, Cavan dan Nicko masih terus menyerang satu sama lain. Tidak ada yang mau mengalah. Setiap pukulan, tendangan, dan sikutan dilayangkan.


Sekitar 20 menit berlalu, Nicko ambruk dengan luka yang lumayan parah. Bahkan, pria itu mengeluarkan darah ketika batuk.


Cavan menghela napas berat. Ia berjongkok di sisi kepala Nicko. “Nggak seharusnya kita kayak gini, Kak.”


Nicko berdecih. “Aku bukan kakakmu, sialan! Kau bukan adikku! Kita musuh, bukan saudara!”


Cavan kembali menyemburkan napas panjang. Jauh di lubuk hatinya, ia tidak ingin hubungannya dengan saudaranya ini merenggang. Seandainya ada cara supaya ikatan keduanya menguat, Cavan akan melakukan dengan senang hati. Sayangnya, hati Nicko terlanjur dipenuhi dendam.


Bugh!


“Akh!” jerit Cavan. Ia menyentuh kepala belakangnya yang barusan dihantam sesuatu dengan kuat. Tubuhnya ambruk, kepalanya berkunang-kunang. Pandangannya pun memburam dengan denyutan hebat di sekeliling kepala.


Tidak lama, bom yang terpasang di belakang bangunan meledak. Kebakaran besar terjadi. Asap hitam membumbung tinggi. Cavan mengerjapkan matanya, menilik situasinya yang sepertinya mustahil baginya untuk selamat. Ia tersenyum getir.


Apa ini akhir hidupku?


Di detik terakhir, sebuah suara membangunkan Cavan. Pria itu melihat sosok pria lain yang menghampirinya dengan raut cemas. “Tuan, Anda baik-baik saja? Saya akan membantu Anda keluar dari sini.”


Dia Axelo, papa Kyra. Rasa kemanusiaan yang ia punya menggugah hati Axelo untuk membantu Cavan. Ia berusaha memapah Cavan keluar seraya menghindari material yang berjatuhan dari atas. Warga sekitar dan pemadam kebakaran telah tiba di luar.


Axelo hampir tersenyum senang karena hampir berhasil menyelamatkan sosok asing di sisinya. Namun, semua berubah ketika sebuah kayu besar penuh api jatuh ke arah mereka. Axelo langsung mendorong Cavan sehingga kayu itu hanya menimpa dirinya.


Sebelum Cavan menutup mata, ia mengingat senyum di wajah penyelamatnya. Meskipun lirih, Cavan mendengar kata-kata Axelo. “Tolong.. jaga putriku. Aku menyayanginya, sangat...”


...Flashback off....


Air mata Kyra tidak berhenti menetes. Wanita itu tidak menyangka jika kronologis kejadiannya akan seperti itu. Papanya, Axelo, mengorbankan diri demi menyelamatkan orang asing. Kenapa ia melakukan itu? Sebesar itukah rasa kemanusiaan yang dipunya sampai rela kehilangan nyawa dan meninggalkan anak dan istri?


Sedikit banyak Kyra merasa aneh. Namun, ia tidak menunjukkan hal tersebut pada mertuanya.


“Papa yang salah, Nak. Nggak seharusnya papamu menyelamatkan Papa dan mengorbankan dirinya seperti itu.” Cavan menunduk dengan raut sendu. Pipinya pun tak kalah basah. “Setelah kondisi Papa membaik, Papa langsung cari tau identitas papa kamu dan keluarganya. Papa ingin berterima kasih dan minta maaf.”


“Tapi, Papa nggak pernah bisa temuin kamu. Data tentang papa kamu bener-bener dijaga ketat,” tambah Cavan.


Kyra menegang sesaat. Itu jelas terjadi karena ia yang meminta anggota mafia Black Rose menyembunyikan seluruh data keluarganya juga anggota mereka.


“Sampai kamu sama Eiden menikah, Papa masih nggak berhenti cari kamu. Papa ngerasa bersalah. Papa baru tau kalo penyelamat Papa adalah papa kamu waktu kamu yang kasih tau seminggu yang lalu.” Cavan menatap Kyra penuh arti. “Papa minta maaf, Nak. Karena Papa, kamu kehilangan papa kamu. Karena Papa, ibu kamu kehilangan suaminya. Karena Papa, kamu harus jadi yatim. Maafin Papa, seharusnya Papa yang mati waktu itu, bukan papa kamu.”


Kyra terdiam. Ia lebih tenang sekarang. Usai menghirup napas dalam-dalam, Kyra beranjak masuk ke dalam mansion. Ia kembali berdiam diri di kamar.


Cavan melihat menantunya pergi tentu merasa sedih. Pikirnya, Kyra tidak akan memaafkan kesalahannya.


“Harusnya aku yang mati, bukan dia,” gumam Cavan pedih.


...💫💫💫...


Di kamar, Kyra langsung menghubungi Reven. Ia memberi perintah pada tangan kanannya supaya mencari tahu siapa yang mengirim informasi mengenai kematian Axelo padanya. Reven tidak membantah dan segera melakukan pemeriksaan.


Kedua tangan Kyra mengepal. “Ada orang yang ingin mengadu domba keluargaku,” geramnya.


Siapa pun orang itu, dia mencari masalah dengan dua mafia besar di dunia.


^^^To be continue...^^^