Cruel Mafia Vs Cool Mafia

Cruel Mafia Vs Cool Mafia
Chapter 78 | Perang Pecah



“Ah, Nyonya, Anda sudah sadar?” Seorang wanita bersetelan jas putih masuk dengan senyum ramah. “Ada keluhan yang dirasakan?”


Kyra menggeleng pelan. “Hanya pusing sedikit.”


“Ya, itu wajar di kondisi Nyonya sekarang.”


Dahi Kyra mengerut. “Wajar? Wajar gimana, Dok?” beonya tak paham.


“Oh, Nyonya belum tahu? Selamat, Nyonya sedang hamil.”


Seketika, Kyra dan Mauren melongo mendengar hal tersebut.


“H–hamil, Dok?” tanya Mauren sekali lagi untuk memastikan.


Dokter wanita itu mengangguk ramah. “Benar. Karena itu, dimohon Nyonya tidak bekerja terlalu keras dan perbanyak istirahat. Setelah dirasa pusingnya membaik, Nyonya bisa mendatangi dokter obgyn untuk mendapatkan keterangan detail mengenai kandungan Nyonya,” papar dokter itu lagi.


Mauren melirik sepupunya sekilas. Menyadari bahwa Kyra sedang linglung, ia menjawab, “Baik, Dok. Saya sendiri yang akan mengantar sepupu saya ke sana nanti.”


“Suaminya tidak dipanggil?”


Mauren cengengesan. “Suaminya ada di Jakarta, Dok.”


Dokter itu manggut-manggut, tidak bertanya lebih lanjut karena itu area privasi pasien. Alhasil, ia memilih pamit setelah mengatakan bahwa Kyra diizinkan langsung pulang sekarang.


“Kyr, lo kenapa? Kok diem aja?” heran Mauren. “Lo.. nggak seneng kalo hamil?”


Kyra menghela napas berat. Tangannya bergerak mengusap perutnya yang agak membuncit. Pikirnya, ia terlalu banyak makan akhir-akhir ini, makanya perutnya membuncit. Ternyata karena ada bocah di dalam.


“Bukan gitu, Ren. Tapi...” Kyra memandang Mauren dengan sorot rumit. “Kamu tau, kan, perang bakalan pecah secepatnya?”


Mauren terdiam. Ia ingat rencana itu. Ia jadi paham perasaan Kyra. Bukan karena tidak ingin hamil, hanya saja kehamilan Kyra agak kurang tepat waktunya.


“Tapi, udah terlanjur, Kyr. Kita ke dokter kandungan aja yuk. Periksa ponakan gue.” Mauren menarik pelan lengan Kyra. Yang ditarik pasrah saja mengikuti Mauren yang sibuk bertanya sana-sini mengenai posisi ruang dokter kandungan.


Keduanya tiba di depan pintu ruang obgyn. “Ayo masuk, Kyr.”


...💫💫💫...


Keesokan harinya...


“Daddy, hari ini mommy pulang, kan?” tanya Emily ketika ia tengah memakai sepatu sekolahnya.


Eiden tersenyum dan mengangguk. “Ya, Sayang. Mungkin nanti waktu Emily pulang, Mommy udah di mansion.”


Darren bertepuk tangan riang. “Nggak sabar liat oleh-olehnya, hehe..” Anak lelaki itu cengengesan melihat pelototan Emily. Semakin ke sini, adiknya ini jadi mirip mommy-nya, ya. Entah itu dari cara mengomel atau ketika sedang menjaili seseorang, pokoknya persis deh.


Eiden terkekeh pelan. “Udah yuk, berangkat.”


“Ayo!”


...💫💫💫...


“Tuan, mata-mata kita melapor bahwa musuh sudah mulai bergerak. Saat ini, mereka sedang berada di sekolah anak-anak Anda,” ucap Garry melaporkan situasi siang ini.


Bersamaan dengan teriknya matahari, suasana antar dua kubu pun memanas. Mereka sudah sama-sama lelah dengan situasi, makanya memutuskan untuk segera meraih puncak dan menentukan siapa yang lebih unggul.


Tahu, kan, ‘dua kubu’ yang Eiden maksud?


Eiden menyeringai. “Sesuai dengan perkataan Kyra. Kita harus siap-siap dengan segala kemungkinan.”


“Baik, Tuan.”


Ting!


Eiden meraih ponselnya yang barusan berbunyi. Ia membuka pesan dari orang tidak dikenal dengan senyum tipis.


...__________...


...08**********...


...offline...


• D E dclk


• Tdk aman, 20+, senjata


...__________...


Eiden berdecih. Ternyata musuhnya sudah bergerak. Mereka menculik kedua anaknya—lagi. “Anak-anak diculik,” ucap Eiden datar. Garry sampai kebingungan, tuannya ini sedang bertanya atau memberi pernyataan?


“Pasukan sudah siap?” tanya Eiden mulai bangkit dari kursi kebesarannya.


“Siap, Tuan.”


“Bagaimana dengan Black Rose?”


Garry mengangguk kecil. “Pasukan Black Rose juga sudah siap, Tuan. Nyonya muda juga melengkapi pasukan kita dengan senjata-senjata khusus buatannya. Setiap divisi sudah siap dikerahkan. Mereka hanya menunggu perintah Anda.”


Drrtt.. drrtt..


Eiden kembali menatap ponselnya. Nomor tidak dikenal menghubungi, tapi Eiden tahu jelas jika si penelepon adalah musuhnya selama ini—Roby.


“Suruh mereka bersiap, Garry. Perang akan dimulai sebentar lagi.”


...💫💫💫...


Lelah bermain sembunyi-sembunyi, berarti perang terbuka jawabannya. Itu yang terjadi antara Blood Moon dan The Zero. Saat ini, kedua kelompok mafia besar itu tengah berkumpul di tengah hutan tandus atas permintaan Roby sendiri—ketua The Zero.


Bermula dari Roby yang menculik Darren dan Emily di sekolah, maka dari itu Eiden memenuhi permintaan lelaki itu untuk berkumpul di sana. Kedua mafia pun membawa pasukan dalam jumlah besar seolah tahu bahwa peperangan tidak akan dapat terelakkan lagi.


“Di mana anak-anakku?” tanya Eiden dingin.


“Hahaha... kau ingin anak-anakmu? Kalahkah kami dulu.” Roby menyeringai. Ia cukup percaya diri dengan pasukannya yang sudah ia latih sedemikian rupa. Mereka tidak akan kalah semudah itu.


Kini giliran Eiden yang tertawa. Bukan tawa tulus pada umumnya, melainkan tawa mengerikan yang sukses membuat pasukan musuh merinding. “Kau yakin akan menang?” remehnya.


“Tentu saja!” jawab Roby cepat dan yakin. Di samping lelaki itu ada Rixo, adiknya, yang ikut bergabung dalam pertikaian ini.


Eiden berdecih.


“SERANG!” seru Roby keras.


“BLOOD MOON, SEMUA SERANG!!” teriak Eiden.


Perang pecah. Blood Moon dan The Zero saling berkelahi satu sama lain. Sementara Eiden berhadapan dengan Roby.


“Untuk apa semua ini, Roby? Pertarungan ini tidak akan menghasilkan apa pun kecuali kerugian untuk kita berdua,” kata Eiden tenang, tidak terpengaruh sama sekali dengan orang-orang di sekitar yang sedang saling pukul.


Roby menggeram. “Itu karna kau sudah menghabisi kembaranku, sialan! Kak Rossa meninggal gara-gara kau!” pekiknya marah.


“Bukan aku yang membunuh kakakmu, Roby,” bantah Eiden. Entah sudah berapa kali ia menyangkal, tapi Roby tidak pernah percaya. Mungkin karena dirinya tidak punya bukti akurat.


“Bohong! Kau pembunuhnya!” teriak Roby. Ketika ia hendak menyerang, sebuah seruan orang lain menarik perhatiannya.


“BLACK ROSE! BANTU TUAN KITA! SERANG MEREKA!”


Roby terkejut. Black Rose di sini? Ini seharusnya cukup menjadi peperangan antara The Zero dan Blood Moon! Kenapa mereka ada....


“Terkejut?” Eiden menyeringai. “Sepertinya kau tidak tahu kalau ketua mafia Black Rose adalah orangku. Bahkan, lebih dari itu.”


“Apa?!” Roby geram. Ia sama sekali tidak tahu siapa ketua Black Rose. “Siapa yang kau maksud, sialan?!”


Eiden terkekeh pelan. “Kau akan tau nanti.” Suami dari Kyra itu maju menyerang Roby. Keduanya berkelahi satu sama lain dengan seluruh kekuatan. Bedanya, Eiden tampak tetap tenang, sedangkan Roby menyerang secara brutal.


Waktu terus berjalan. Dilihat dari sisi manapun, The Zero terdesak oleh pasukan Blood Moon dan Black Rose. Apalagi senjata yang digunakan mafia Blood Moon dan Black Rose merupakan senjata inovasi terbaru dengan kecanggihan di atas senjata biasa. Jelas The Zero kalah.


Bugh! Brakk!


“Akh!” rintih Roby yang jatuh entah yang keberapa kalinya. Wajahnya penuh lebam. Tubuhnya terluka di beberapa area karena tusukan dan tembakan. “Anjing! Gue nggak boleh kalah,” desisnya tidak terima.


Eiden mendekat dengan pistol di tangannya. Senyum mengerikan terukir di wajah lelaki itu.


“Kakak!” Rixo datang dengan badan penuh luka. Lelaki itu khawatir dengan kondisi saudaranya itu. “Eiden! Jangan mendekati kakakku! Jika tidak, aku pastikan anak-anakmu akan mati!” ancamnya tak main-main.


Eiden tertawa keras hingga menarik beberapa atensi manusia. “Kau yakin anak-anakku masih bersama kalian?” ejeknya.


Roby terperangah. “A–apa?”


^^^To be continue...^^^