
Pagi-pagi buta, Eiden bersama ketiga sahabatnya pergi ke pangkalan. Seluruh anak buah Eiden sudah menanti di sana. Mereka siap untuk kembali ke Jakarta. Namun, sebelum itu, Eiden mengecek kondisi Brian, lelaki yang mereka tangkap sewaktu penyerangan kemarin.
“Apa maumu, sialan?!” pekik Brian emosi. Seluruh rekannya dibantai, lalu kenapa dirinya dibawa pergi? Menurut insting mafianya, ia akan dijadikan objek interogasi. Hanya saja... Brian sedikit merasa aneh dengan tatapan Eiden padanya.
Bukan sorot membunuh seperti biasa.
“Ansel.”
Brian menegang ketika Eiden menyebut nama itu. Sebuah nama yang selalu menjadi pusat perhatiannya, terasa sangat familiar, namun sedikit asing.
“Apa kau ingat nama itu?” tanya Eiden. Melalui riwayat hidup Brian, lelaki yang menjabat sebagai suami Kyra ini tahu jika Brian pernah mengalami kecelakaan 7 tahun lalu. Dan, Brian amnesia.
“Kau mengenalnya? Siapa Ansel?” Brian bertanya balik.
Eiden tersenyum miring. “Itu nama aslimu.”
“A–aku.. Ansel? Namaku Bri—”
“Itu namamu sebelum kecelakaan.”
Brian terdiam. “Jadi, kau tau siapa aku sebenarnya?” cicitnya ingin tahu. Hidup selama 7 tahun tanpa identitas membuat lelaki itu sempat kehilangan arah. Tidak ada keluarga yang mencari membuat Brian berpikir jika dirinya yatim piatu. Maka dari itu, dia memberi dirinya sendiri nama Brian.
“Yaahh.. aku baru tau akhir-akhir ini. Kau memiliki hubungan dengan istriku,” papar Eiden malas menjelaskan panjang lebar. “Dia adikmu. Dia mengira kau sudah meninggal dalam kecelakaan 7 tahun lalu.”
Brian menunduk. Kepalanya mendadak pening. Bayangan-bayangam abstrak berseliweran di otaknya. Setiap kali Brian memaksa diri supaya mengingat sesuatu, tubuhnya akan langsung ambruk dan tidak sadarkan diri.
“Bawa dia,” titah Eiden pada anak buahnya.
Kali ini, Brian tidak memberontak seperti sebelumnya. Jika Eiden benar-benar menjadi kunci dari masa lalunya, lelaki itu tidak keberatan. Jika dirinya memang memiliki adik perempuan, Brian ingin segera bertemu.
...💫💫💫...
“Daddy kapan pulang, Mom?” tanya Emily ketika mereka dalam perjalanan pulang sekolah. Hari sudah menjelang siang dan hari ini Kyra sendiri yang turun tangan untuk menjemput putra-putrinya. Tentu ditemani Ilona, Xania, dan Olin.
“Hari ini, Sayang. Mungkin sore atau malam, Mommy kurang tau,” jawab Kyra apa adanya. Ia tersenyum kecil mengetahui rencana penyerangan suaminya berjalan lancar kemarin.
Emily mengangguk singkat. Bocah itu memeluk tubuh Kyra senang, bertingkah manja layaknya anak seumuran.
“Mommy, sebentar lagi Darren dilulusin,” celetuk Darren tiba-tiba.
Kyra mengerutkan dahi. “Lho? Bukannya kelulusannya masih agak lama, Sayang?”
Darren mengangguk, membenarkan. “Darren dilulusin karena otak Darren nggak cocok di taman kanak-kanak lagi,” balasnya enteng. “Bu guru tadi bilang suruh diskusiin sama mommy dan daddy. Terus besok disuruh ke sekolah buat ketemu sama kepala sekolah.”
Kyra mengangguk mengerti. Kecerdasan Darren memang kurang sesuai berada di lingkungan sekolahnya saat ini. Jadi, jika para guru sudah memberi saran, apa salahnya jika Kyra membicarakannya dengan sang suami. Bagaimanapun, sekarang Eiden adalah daddy sambung Darren, lelaki itu berhak tahu.
“Nanti Mommy bicarakan dulu dengan daddy-mu,” putus Kyra.
Emily mencebikkan bibirnya ke bawah. “Kalo Kakak lulus, Emily sendirian dong di sekolah.”
“Sayang, Kak Darren, kan, lebih tua. Dia nggak bisa terus temani Emily di TK. Kakak harus masuk ke SD biar makin pintar. Nanti kalo Emily udah lulus, Emily juga masuk SD, kok,” jelas Kyra tidak ingin putri kecilnya sedih.
Emily tidak menyahut. Gadis kecil itu hanya menenggelamkan wajahnya di dada Kyra.
Kyra dan Darren tidak bersuara. Keduanya paham jika Emily masih tidak rela mengenai fakta yang satu ini. Namun, mau tidak mau, Emily harus bisa menerima. Darren tidak bisa selamanya menemani Emily.
...💫💫💫...
Setelah makan malam, Kyra mengajak Eiden berbicara di kamar. Wanita itu menjelaskan alasan Emily sedih.
Eiden menghela napas. Bukan salah Darren juga. Bocah itu memang sangat pintar dan umurnya hampir mencukupi untuk masuk ke jenjang pendidikan selanjutnya. Walaupun begitu, entah Kyra atau Eiden, tidak ada yang menyalahkan Emily.
Perasaan itu sangat wajar bagi seorang adik yang terlampau menyayangi kakaknya.
“Jadi, mendingan Darren gimana? Apa dia tetep di TK dulu dan lulus bareng anak-anak yang lain aja?” tanya Kyra meminta pendapat.
Eiden menggeleng. “Nggak, Kyra. Mendingan Darren masuk ke SD langsung. Kepintarannya nggak cocok di sana. Kalo dibiarin, takutnya bakalan berpengaruh sama psikis Darren yang memang jauh lebih dewasa,” tutur Eiden.
“Tapi, Emily—”
“Jangan selalu mikirin Emily, Kyra. Darren juga anak kamu,” sela Eiden.
Kyra termenung. “Bukan gitu,” cicitnya. Ia menghela napas panjang. “Emily lebih kecil dan nggak pernah ngerasain kasih sayang mommy-nya. Kalo Darren, dia lebih butuh kasih sayang kamu, daddy-nya.”
Kini, giliran Eiden yang termenung. Otak dan hatinya membenarkan.
Kyra menepuk lengan suaminya pelan. “Nggak pa pa, coba pelan-pelan. Darren paham, kok, situasi kamu.”
Eiden tersenyum getir. “Maaf, belum bisa jadi daddy yang baik buat anak kamu.”
“Anak kamu, anak aku juga. Anak aku, anak kamu juga. Darren dan Emily anak kita, Eiden. Kita semua selalu berusaha paham kesibukan kamu, perasaan kamu, sama sifat kamu,” jelas Kyra tidak ingin Eiden terbebani. “Kalo memang ingin berubah, coba pelan-pelan aja. Mungkin dengan lebih banyak ngobrol? Gitu aja Darren udah seneng, kok, karena daddy-nya yang sibuk mau luangin waktu cuma buat ngobrol hal remeh temeh.”
Eiden tersenyum tipis. Walaupun sering bertingkah kekanak-kanakan, Kyra bisa bersikap dewasa di saat yang tepat. Rasa bersalah di hati Eiden berangsur luntur digantikan tekad baru. Ke depannya, ia akan berusaha meluangkan lebih banyak waktu untuk kedua anaknya.
“Kyra, terima kasih,” ucap Eiden tulus. “Kamu—”
“Cocok dijadiin istri?” terka Kyra dengan senyum miring. Eiden tertawa pelan sambil menganggukkan kepala.
“Kyra,” panggil Eiden lagi.
“Apa?”
“Kakak kamu, aku udah ketemu.”
Kyra terkejut. Untuk informasi kali ini, ia sungguhan tidak tahu. Namun, tak urung tetap membuatnya bahagia. “Jadi, dia beneran kakakku? Dia masih hidup?!” serunya antusias.
“Iya, tapi dia amnesia.”
“Aah..” Kyra kecewa. Namun, hanya sesaat. Bola mata hijau itu berisikan tekad yang kuat. “Kalo gitu, tugasku sebagai adik yang akan mengingatkannya.” Ia menggenggam kedua tangan Eiden dengan sorot berkaca-kaca. “Terima kasih banyak.”
“Hm.”
Tanpa aba-aba, Kyra menghamburkan diri ke pelukan sang suami. Meskipun sempat terkejut, Eiden menguasai diri dengan cepat. Lelaki itu turut membalas pelukan istrinya yang selalu nyaman dan hangat.
“Kyra,” ucap Eiden di antara keheningan yang menerpa.
“Hm?” Kyra merenggangkan rengkuhan, memberi jarak supaya ia bisa menatap wajah tampan suaminya.
“Aku menyukaimu.”
^^^To be continue...^^^