
Tiba di satu titik, Eiden langsung membalik tubuh Kyra hingga telentang, sementara ia mengukung tubuh bak model itu di bawahnya. Kyra mengerjapkan matanya beberapa kali.
“Kamu ingat ini malam apa?” bisik Eiden.
Kyra tidak menjawab, hanya memandangi paras tampan suaminya. Bola mata hijau wanita itu menggambarkan banyak hal—saking banyaknya, Eiden kesulitan menyebutkan satu per satu.
“Malam dalam konteks apa dulu, Suamiku?” Tidak ingin kalah, Kyra menunjukkan otoritasnya. Ia mengalungkan tangannya di leher Eiden.
Eiden menyeringai. “Menurutmu?”
“Mungkin... malam pertama kita?” terka Kyra dengan senyum menggoda. Bahkan, ia sengaja menjilat bibir bawahnya yang sedikit kering.
“Oh, Nyonya Kennedy sangat pintar karena bisa menebak pikiranku.” Eiden menjatuhkan bibirnya di atas birai sang istri. Bergerak tanpa ragu hingga melibatkan lidah. Kyra membalas dengan lihai.
Jangan remehkan Kyra, ya. Dia ini, kan, janda. Punya pengalaman yang handal dalam dunia ‘panas-panas’.
Kyra mendorong wajah Eiden dan membuat tautan bibir mereka lepas. “Sayangnya, istrimu ini sedang tidak ingin.”
“Kenapa?”
Dengan muka terpolos yang ia punya, Kyra mengatakan, “Servismu pasti buruk, kan?”
Sialan! Eiden benar-benar tidak habis pikir dari mana asumsi itu berasal. Bagaimana bisa Kyra menyimpulkan jika servisnya buruk?! Walaupun ia tidak pernah bermain dengan wanita setelah bercerai—kecuali ketika bersama Kyra hari itu—bukan berarti ‘permainan’nya buruk.
“Hei, kamu—”
“Kalau bukan karena itu, kenapa istrimu pergi, heh?” sela Kyra memancing. Sebenarnya, ia hanya penasaran dengan alasan Eiden dan mommy kandung Emily berpisah.
Raut wajah Eiden berubah datar. Namun, sorot mata lelaki itu menggelap. “Itu sama sekali nggak ada hubungannya.”
“Oh, ya?” Kyra berlagak tidak percaya.
“Bagaimana jika kamu yang buktikan sendiri, hm?” Eiden menimpa tubuh Kyra sepenuhnya. Dengan sengaja, ia menggesek pusat tubuhnya yang sudah sesak ke milik Kyra. “Kalau aku menang, kapanpun aku minta, kamu nggak boleh nolak.”
Kyra menyeringai. Ia mengecup bibir Eiden sekilas. Jarak antara wajah mereka benar-benar dekat, hanya 4 sentimeter. “Kalau aku yang benar?”
“Kamu nggak perlu layani aku lagi,” jawab Eiden yakin.
Kyra tertawa. Ia mengalungkan kakinya di pinggang Eiden. “Tantangan diterima, Suamiku.”
Eiden menyeringai—yang berisikan banyak makna. “Kalau begitu, aku nggak akan ngecewain kamu, Istriku.”
Dan, ya. Malam yang menggairahkan mereka lewati bersama. Suara laknat keduanya menggema di penjuru kamar Eiden yang untungnya kedap suara. Jadi, orang-orang di luar tidak akan mendengar bagaimana liarnya janda dan duda itu ketika menyatu.
Selesai satu ronde, Kyra mengakui. ‘Permainan’ Eiden berhasil membuatnya jatuh ke jurang kenikmatan. Lima tahun tidak pernah disentuh membuat wanita itu tidak ragu ikut ambil andil dalam ‘permainan’. Seluruh hasrat yang terpendam, malam ini meledak.
Memang, sih, keduanya sudah pernah melakukan ketika Kyra terpengaruh obat dulu. Hanya saja, waktu itu, Kyra tidak ingat sama sekali. Namun, untuk saat ini, keduanya sama-sama sadar. Tidak mabuk ataupun terpengaruh obat.
Jadi, semuanya murni karena ledakan hormon masing-masing.
...💫💫💫...
Eiden merengkuh tubuh Kyra yang sudah berpakaian lengkap dari belakang. Sementara dirinya hanya mengenakan handuk yang melilit pinggangnya. Lelaki itu baru saja mandi setelah istrinya tentu saja. Mereka bergantian, tidak bersama-sama.
“Bagaimana malamnya?” bisik Eiden di dekat telinga Kyra. Pantulan keduanya tercetak jelas di cermin rias.
Kyra tertawa pelan. “Aku mengaku kalah, Eiden.” Ia mencuri satu kecupan di pipi suaminya. “Semalam benar-benar nikmat,” bisiknya.
“Jadi?”
Kyra mengangguk santai. “Kamu dapat jatah kapanpun kamu minta. Tapi, sesuaikan dengan situasinya, ya. Kan, nggak lucu kalo aku lagi sakit, tapi kamu ajak olahraga ranjang.”
Eiden mengangguk setuju. Ia tidak setega itu sampai menyiksa istrinya yang sedang sakit.
“Aku harus keluar, Eiden. Keluargamu pasti sudah menunggu.” Kyra melepas pelukan Eiden dan melangkah keluar kamar.
“Morning, Mommy,” sapa Emily ketika melihat Kyra keluar dari kamar Eiden. Gadis kecil itu memeluk kaki Kyra dengan kepala mendongak. Anak manis itu sudah siap dengan seragam sekolahnya.
Kyra tertawa. “Morning juga, Princess-nya Mommy.” Ia menggendong Emily dan menciumi wajahnya hingga gadis kecil itu cekikikan. Emily membalas dengan mencium pipi Kyra berulang-ulang.
Emily dan Kyra cekikikan. Emily berpindah di gendongan Eiden. “Morning, Daddy.”
“Hm.”
Emily tertawa, tahu daddy-nya sedang merajuk. Bocah itu menciumi pipi Eiden berulang kali. Eiden langsung terkekeh karena pipinya sedikit basah.
“Come on, kita sarapan,” ajak Kyra menyudahi acara ayah dan anak itu. Mereka pun berjalan beriringan dengan Emily di gendongan Eiden.
“Mommy sama Daddy udah baikan, ya?” tanya Emily antusias.
Kening Eiden dan Kyra sama-sama mengerut. “Baikan?” beo Kyra tidak paham. Dilihat lagi, suaminya pun sama tidak mengerti seperti dirinya.
Emily mengangguk. “Kata kakak, Mommy sama Daddy harus bareng-bareng terus biar akur. Karena Emily nggak mau Mommy pergi, makanya Emily ngalah semalem.”
Kyra dan Eiden manggut-manggut. Kurang lebih suami-istri itu mengerti maksud kalimat Darren. “Kami udah baikan, kok. Iya, kan, Sayang?” kata Kyra meminta dukungan pada suaminya.
Eiden mengiyakan.
Senyum di bibir Emily bertambah lebar. “Yeayy... Mommy sama Daddy nggak boleh sampe berantem, ya.”
“Kami usahakan, ya. Mommy nggak berani janji,” balas Kyra tenang.
“Kenapa gitu, Mommy? Mommy berencana buat berantem sama Daddy, ya?” tanya Emily polos.
Kyra tergelak, begitupun Eiden yang mengulum bibir ke dalam. “Nggak gitu juga, Sayang. Masalahnya, Mommy nggak bisa jamin kalo Mommy sama Daddy nggak akan berantem. Nanti kalo tiba-tiba ada masalah, gimana?”
Walaupun kurang paham, Emily tetap mengangguk. Bergaya sok dewasa, padahal otak kecilnya masih sulit memahami maksud mommy dan daddy-nya ini. Nanti Emily tanya Kak Darren aja, deh.
“Ya ampun, ada reuni keluarga. Tapi, yang diajak cuma satu anak. Anak yang lain dilupain,” sindir Darren terang-terangan kala Kyra, Eiden, dan Emily sampai di anak tangga terakhir. Kyra tertawa. Ia menghampiri putranya dan menciumi pipinya berulang kali. “Aaaaa... Serangan monster bibir merah!”
Tawa di ruang makan mansion pecah mendengar pekikan Darren. Bahkan, ada beberapa pelayan yang ikut tertawa. Cavan dan Abigail pun sama. Suasana benar-benar hangat.
...💫💫💫...
“Mommy, merah-merah di leher Mommy itu apa?”
Pertanyaan Emily sukses membuat seluruh insan menaruh atensi pada leher Kyra. Ada tiga bercak merah di sana. Cavan dan Abigail yang paham cuma bisa mengulum bibir.
Sudah diduga. Putra mereka mana tahan berada di kamar berdua saja dengan wanita. Apalagi mereka sudah sah.
“Semalam itu, ada nyamuk di kamar, Sayang. Nyamuknya gigit Mommy,” cerita Kyra dengan gaya yang dilebih-lebihkan.
“Iiih.. kok ada nyamuk, sih, Mom?”
“Ya mana Mommy tau, Sayang.”
Emily mengalihkan pandangannya pada Eiden. “Daddy, nanti kamar Daddy disemprot pake... pake itu.. em, apa, ya? Pokoknya itu! Nyamuknya harus diusir, kasihan Mommy digigit.”
Eiden mengusap kepala Emily lembut. “Iya, Sayang.”
Darren mengerutkan kening. “Sejak kapan nyamuk sekecil itu bisa buat bekas sebesar itu, Mom?”
Tubuh Kyra dan Eiden menegang. Kalau menghadapi Emily, keduanya masih sanggup. Bocah itu masih polos, mudah ditipu. Tapi, beda masalahnya jika Darren yang bersuara. Lelaki berusia 6 tahun itu memiliki pola pikir yang berbeda.
Sulit bagi Kyra untuk menjawab pertanyaan itu.
“Permisi, Nyonya, Tuan.”
Seorang pelayan menginterupsi. Kyra menghembuskan napas lega karena fokus Darren teralihkan.
“Ada dua wanita yang datang, Nyonya, Tuan. Mereka bilang mencari Tuan Eiden.”
Dua wanita? Siapa? Dan, untuk apa mencari suami Kyra?
^^^To be continue...^^^